Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ada masa ketika saham-saham bank jumbo Indonesia nyaris dianggap “aset wajib” di pasar modal domestik. Mereka menjadi tempat berlindung investor karena dinilai memiliki fundamental paling kuat, laba paling stabil, dan likuiditas terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI). 

Namun situasi itu kini berubah drastis. Sepanjang 2026, saham-saham kelompok “The Big Four” justru menjadi sumber tekanan utama pasar. Harga saham empat bank terbesar di Indonesia kompak anjlok menjauhi level tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high (ATH) mereka yang pernah dicapai pada 2024 lalu. 

Empat saham tersebut adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI). 

Koreksi yang terjadi bukan lagi sekadar penurunan biasa. Dalam beberapa bulan terakhir, saham-saham bank jumbo tersebut menjadi sasaran aksi jual asing secara agresif di tengah kombinasi tekanan global dan domestik yang datang hampir bersamaan. 

"Tekanan terhadap saham-saham perbankan jumbo atau The Big Four sepanjang 2026 menjadi gambaran bahwa pasar saat ini sedang menghadapi kombinasi tekanan yang sangat kompleks, baik dari dalam negeri maupun global," kata pengamat pasar modal yang juga Founder Republik Investor, Hendra Wardana, kepada Katadata, Minggu (17/5). 

Sebagai gambaran, pada 23 September 2024, BBCA sempat mencetak ATH di level 10.950 per saham. Kini, pada penutupan perdagangan Rabu (13/5) lalu, harganya berada di kisaran 6.100 dan bahkan sempat menyentuh level 5.850 pada akhir April lalu—terendah dalam lima tahun terakhir. 

Nasib serupa dialami BMRI. Saham bank dengan aset terbesar di Indonesia itu pernah berada di level ATH 7.450 pada September 2024. Kini, nilainya merosot ke kisaran 4.200 per saham.

Sementara itu, BBRI yang selama ini menjadi primadona sektor perbankan mikro juga mengalami tekanan lebih dalam. Dari posisi tertinggi 6.400 pada Maret 2024, sahamnya kini terpuruk di area 3.120 dan sempat menyentuh level 2.990. Adapun BBNI yang sempat mencetak ATH di 6.225 kini turun ke kisaran 3.870. 

Penurunan Harga Saham Perbankan The Big Four

Penurunan tajam empat saham bank besar tersebut lantas memunculkan pertanyaan besar di pasar: apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan saham-saham yang selama ini dianggap paling "aman" di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut?

Badai Datang Bersamaan 

Tekanan terhadap saham-saham perbankan jumbo tidak datang dari satu faktor tunggal. Pasar saat ini sedang menghadapi kombinasi sentimen yang sangat kompleks berupa arus keluar dana asing, efek MSCI, pelemahan rupiah, ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat (AS), hingga perlambatan pertumbuhan laba industri perbankan. 

Hendra menilai kondisi yang terjadi saat ini mencerminkan perubahan besar dalam persepsi investor global terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurutnya, saham-saham bank besar menjadi sasaran utama aksi jual karena memiliki kapitalisasi pasar dan likuiditas terbesar sehingga paling mudah digunakan investor asing untuk mengurangi eksposur risiko. 

“Pelemahan saham-saham Big Four bukan hanya dipicu sentimen teknikal jangka pendek, tetapi juga berasal dari perlambatan pertumbuhan laba sepanjang 2025, meningkatnya kekhawatiran terhadap kualitas aset, serta derasnya arus keluar dana asing dari pasar saham Indonesia,” ujar Hendra. 

Situasi semakin berat tatkala kurs rupiah terus melemah hingga menembus level Rp 17.500 per dolar AS. Kondisi ini meningkatkan risiko nilai tukar bagi investor asing yang menempatkan dana di pasar domestik. 

Di saat bersamaan, ketidakpastian global juga meningkat akibat arah kebijakan suku bunga AS yang belum sepenuhnya longgar dan tensi geopolitik yang terus memanas. Founder WH Project, William Hartanto mengatakan  kombinasi sentimen tersebut membuat pasar domestik berada dalam tekanan besar. 

“Saham-saham ini masih kena efek sentimen pembobotan dan risiko downgrade Indonesia ke frontier market. Ditambah depresiasi rupiah ke level baru di atas 17.000 yang sekarang jadi concern pelaku pasar, ini menambah alasan untuk aksi jual masif,” ujar William kepada Katadata, Minggu (17/5). 

Dalam kondisi seperti ini, saham-saham bank besar justru menjadi sasaran utama karena paling likuid dan paling mudah diperdagangkan dalam jumlah besar.

Efek MSCI, Pelemahan Rupiah, dan Ancaman Capital Outflow 

Dari berbagai sentimen yang menekan pasar, isu MSCI menjadi salah satu faktor yang paling sensitif sepanjang tahun ini. 

Kekhawatiran muncul setelah MSCI menyoroti struktur pasar modal Indonesia, terutama terkait likuiditas dan konsentrasi kepemilikan saham di sejumlah emiten besar. Pasar kemudian mulai khawatir terhadap kemungkinan turunnya status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. 

Jika skenario itu benar-benar terjadi, maka banyak fund manager global akan dipaksa mengurangi kepemilikan saham Indonesia karena mandat investasi mereka hanya diperbolehkan masuk ke negara dengan kategori tertentu. 

Hendra menilai pengumuman MSCI sejak Januari lalu telah memicu kepanikan besar di pasar dan mempercepat arus keluar investor asing. 

“Puncaknya terjadi pada rebalancing MSCI Mei 2026 ketika sejumlah saham besar Indonesia dikeluarkan dari indeks global. Meskipun saham bank besar tetap bertahan di MSCI, tekanan tetap terasa karena investor asing mengurangi eksposur terhadap Indonesia secara keseluruhan,” katanya. 

Dalam beberapa pekan terakhir, saham-saham perbankan bahkan menjadi penyumbang net sell asing terbesar di pasar reguler. 

Tekanan Jual Asing di Saham Big Four
 

Pengamat pasar modal sekaligus professional trader, Michael Yeoh, memperkirakan potensi capital outflow akibat efek MSCI dapat mencapai sekitar Rp 25 triliun, terutama jika lebih banyak emiten besar keluar dari indeks global. 

Tekanan jual yang begitu besar membuat valuasi saham perbankan turun sangat dalam hingga mendekati level krisis. Menurut Hendra, price to earnings ratio (PER) BMRI, BBRI, dan BBNI kini turun ke kisaran 6–7 kali. Sementara valuasi BBCA juga telah jatuh jauh di bawah rata-rata historisnya. 

Padahal selama bertahun-tahun, saham-saham tersebut dikenal selalu diperdagangkan pada valuasi premium karena konsistensi laba dan dominasi bisnisnya di industri perbankan nasional. 

Tekanan terhadap pasar saham Indonesia semakin berat karena pelemahan rupiah belum menunjukkan tanda stabilisasi yang kuat. Bagi investor asing, pelemahan mata uang menjadi risiko tambahan selain penurunan harga saham. 

Dalam situasi normal, investor masih dapat menoleransi koreksi harga jika nilai tukar relatif stabil. Namun ketika saham dan mata uang sama-sama melemah, risiko kerugian menjadi berlipat. 

Michael Yeoh menilai pelemahan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat keluarnya dana asing dari pasar domestik. “Selain dari rupiah yang melemah terhadap semua mata uang, outlook Indonesia oleh banyak lembaga rating yang diturunkan juga menjadi penyebab capital outflow,” kata dia. 

Kondisi ini membuat pasar saham Indonesia menghadapi tekanan ganda. Di satu sisi, investor asing terus melakukan aksi jual. Di sisi lain, daya serap investor domestik belum cukup besar untuk sepenuhnya menahan tekanan tersebut. 

Akibatnya, saham-saham dengan bobot terbesar di indeks seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI menjadi penekan utama IHSG sepanjang tahun ini.

Pemangkasan Suku Bunga dan Perlambatan Kredit 

Selain faktor eksternal, industri perbankan juga menghadapi tantangan dari sisi bisnis inti. Ini terutama berkaitan dengan kebijakan pemangkasan suku bunga secara terbatas oleh bank sentral.

Sejak 2024, pasar sebenarnya sempat optimistis bahwa Federal Reserve (The Fed) bakal memangkas suku bunga secara agresif setelah inflasi mulai melandai di AS. Ekspektasi tersebut sempat memicu reli besar saham-saham perbankan Indonesia hingga mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada tahun itu. Sayangnya, harapan itu tidak sepenuhnya terjadi.

Inflasi Amerika Serikat bertahan lebih tinggi dari perkiraan sehingga The Fed memilih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer. Akibatnya, posisi dolar AS tetap kuat dan imbal hasil obligasi Pemerintah Amerika Serikat masih sangat menarik bagi investor global.

The Fed sendiri memulai Tahun 2024 dengan suku bunga acuan dana federal pada level tertinggi dalam 23 tahun terakhir, yaitu 5,25% hingga 5,50%. Level tersebut telah bertahan sejak Juli 2023. Karena inflasi yang mereda, The Fed menerapkan tiga kali pemotongan suku bunga hingga pengujung 2024, menurunkan kisaran target akhir untuk tahun itu menjadi 4,25% hingga 4,50%. 

Sementara sepanjang 2025, bank sentral AS itu kembali melakukan tiga kali pemangkasan suku bunga secara bertahap masing-masing sebesar 25 basis poin (bps). Perinciannya, pada 17 September 2025, kisaran target yang ditetapkan turun menjadi 4,00% hingga 4,25%. Berikutnya, pada 29 Oktober 2025, suku bunga AS kembali dipangkas menjadi 3,75% hingga 4,00%. Pada 10 Desember, The Fed kembali menurunkannya menjadi 3,50% hingga 3,75%. Angka terakhir inilah yang masih terus dipertahankan regulator moneter Negeri Paman Sam tersebut hingga sekarang (Mei 2026). 

Kondisi tersebut turut membatasi ruang gerak Bank Indonesia (BI) dalam menurunkan suku bunga domestik. Sebagai catatan, sepanjang 2024, BI rate dibuka pada level 6,00%, lalu sempat naik hingga 6,25% dan ditutup kembali pada level 6,00% di akhir tahun.

Sementara sepanjang 2025, bank sentral nasional itu secara bertahap mulai melonggarkan kebijakan moneter dengan mempertahankan BI rate di level 5,75% pada Januari-April, lalu memangkasnya sebesar 25 bps menjadi 5,50% pada Mei dan menahannya hingga Juli. 

Tren penurunan berlanjut pada Agustus sebesar 25 bps menjadi 5,25% dan diikuti pemangkasan agresif sebesar 50 bps menjadi 4,75% pada September. BI akhirnya memilih bersikap stabil dengan mempertahankan suku bunga di level 4,75% tersebut dari Oktober 2025 hingga hari ini. 

Pengumuman suku bunga BI berikutnya akan dilaksanakan pada Rabu (20/5) lusa, bertepatan dengan penutupan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia periode Mei 2026. 

Michael Yeoh menilai selisih antara suku bunga BI dan The Fed yang semakin tipis membuat BI harus berhati-hati menjaga stabilitas rupiah. “Melihat kondisi rupiah yang melemah terhadap mayoritas mata uang, mengakibatkan ruang yang terbatas bagi BI untuk memangkas suku bunga kembali. Suku bunga BI yang stay for longer membuat beratnya kinerja perbankan,” ujarnya. 

Di sisi lain, transmisi penurunan suku bunga domestik juga belum berjalan optimal. Hendra menjelaskan, meski BI telah memangkas BI rate secara agresif sepanjang 2025 hingga ke level 4,75%, penurunan bunga kredit berlangsung lebih lambat dibanding penurunan bunga deposito. Akibatnya, pemulihan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) belum sepenuhnya terasa di industri perbankan. 

“Sektor perbankan berada dalam posisi yang cukup sulit: biaya dana mulai turun, tetapi pertumbuhan kredit dan pemulihan permintaan pembiayaan belum cukup kuat untuk langsung mendorong lonjakan profitabilitas,” kata Hendra. 

Situasi ini membuat dunia usaha lebih berhati-hati melakukan ekspansi. Masyarakat juga mulai menahan konsumsi dan pembelian berbasis kredit karena biaya pinjaman masih mahal. Dampaknya pun mulai terlihat pada pertumbuhan kredit perbankan yang melambat dibanding periode pemulihan pascapandemi. 

Posisi Penyaluran Kredit Bank Jumbo Indonesia
 

Survei Perbankan BI pada triwulan I 2026 menunjukkan penyaluran kredit baru masih tumbuh, meskipun lebih rendah dibanding triwulan IV 2025. Pertumbuhan kredit terutama masih ditopang oleh kredit konsumsi. Namun di saat bersamaan, perbankan mulai menunjukkan sikap lebih berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan. 

Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, mengatakan standar penyaluran kredit pada triwulan I 2026 terindikasi lebih ketat dibanding kuartal sebelumnya. Hal itu tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) positif sebesar 0,15.

“Kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati tersebut, antara lain pada aspek jangka waktu kredit dan persyaratan administrasi,” ungkap Anton dalam keterangannya pada 27 April lalu.

Selain pertumbuhan kredit yang mulai melambat, industri perbankan juga menghadapi tekanan likuiditas. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tidak lagi seagresif sebelumnya, sementara persaingan mendapatkan dana masyarakat semakin ketat.

Akibatnya, bank-bank harus menawarkan bunga deposito lebih tinggi untuk menjaga likuiditas. Konsekuensinya, biaya dana atau cost of fund meningkat dan margin keuntungan mulai tertekan. 

Kendati demikian, Michael Yeoh menilai fundamental industri perbankan nasional sebenarnya belum seburuk yang tercermin di pasar saat ini. Menurutnya, pertumbuhan kredit perbankan masih berada dalam tren positif meskipun mulai melambat di beberapa bank besar seperti BBCA dan BMRI. 

“Dengan NIM yang masih berada di angka 5% hingga 8%, khusus BBRI, maka sebenarnya ada faktor lain yang membuat harga perbankan bisa berada di lowest PE 10 tahun ini,” ujarnya. 

Prospek Saham Big Four: Masih Menarik Dikoleksi? 

Di tengah tekanan besar yang terjadi di pasar, sejumlah analis menilai fundamental industri perbankan nasional sejauh ini masih relatif solid. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) bank-bank besar masih tinggi. 

Kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) juga relatif terkendali. Selain itu, laba perusahaan tetap besar dan dividen yang dibagikan masih menarik dibanding banyak sektor lain di pasar modal. 

Karena itu, banyak pelaku pasar mulai melihat bahwa koreksi tajam saham-saham perbankan lebih mencerminkan normalisasi valuasi akibat tekanan eksternal dibanding kerusakan fundamental industri. 

Hendra menilai tanda-tanda pemulihan bahkan mulai terlihat pada kinerja kuartal I 2026. Menurutnya, laba bersih perbankan mulai kembali tumbuh positif, terutama pada BMRI dan BBRI yang masih mencatat pertumbuhan dua digit. Selain itu, valuasi yang sudah sangat murah mulai menarik perhatian investor institusi untuk melakukan akumulasi bertahap.

Kinerja 4 Bank Jumbo Indonesia
 

Pasar juga mulai melihat peluang rotasi dana pasca-rebalancing MSCI menuju saham-saham dengan fundamental kuat, free float besar, dan tata kelola yang baik seperti BBCA, BMRI, BBRI, BBNI, hingga PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). 

"Jika tekanan jual asing mulai mereda pasca efektif rebalancing pada awal Juni 2026, saham-saham perbankan berpotensi menjadi kelompok pertama yang mengalami technical rebound maupun re-rating valuasi secara bertahap," tutur Hendra. 

Meski valuasi saham perbankan kini terlihat semakin murah, volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek. William Hartanto menilai tekanan terhadap saham perbankan kemungkinan masih berlangsung hingga proses rebalancing MSCI selesai sepenuhnya. 

“Masih memungkinkan untuk pelemahan terbatas sampai akhir bulan Mei karena menanti tanggal efektif rebalancing MSCI. Karena itu saran saya masih wait and see, setidaknya sampai sepekan terakhir di bulan Mei baru bisa mulai melakukan pembelian bertahap,” ujar William. 

Sementara itu, Hendra menilai saham-saham big banks tetap layak dipertahankan sebagai core portfolio untuk jangka panjang karena memiliki fundamental paling kuat dibanding banyak sektor lain. Namun ia mengingatkan investor tetap disiplin dalam manajemen risiko karena tekanan jangka pendek belum sepenuhnya berakhir. 

Dalam kondisi pasar seperti saat ini, strategi terbaik bukan mengejar kenaikan cepat, melainkan melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berkualitas sambil menunggu stabilisasi arus dana asing dan pemulihan sentimen pasar secara keseluruhan. 

Pada akhirnya, koreksi tajam saham-saham The Big Four mungkin menjadi salah satu fase paling berat yang pernah dialami sektor perbankan Indonesia sejak pandemi. Tetapi sejarah pasar juga menunjukkan bahwa saham-saham berkualitas sering kali mengalami tekanan paling besar justru ketika sentimen berada di titik paling pesimistis. 

Kini, pasar tengah menunggu satu hal penting: kapan badai global mulai mereda dan dana asing kembali mencari rumah baru di emerging markets? Jika momentum itu datang, saham-saham perbankan besar Indonesia kemungkinan akan kembali menjadi barisan terdepan penggerak IHSG, seperti yang pernah terjadi selama bertahun-tahun sebelumnya.***

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini