Tidak Semua Bank Harus Berubah Menjadi Bank Digital

Pingit Aria
28 Maret 2021, 08:00
Jerry Ng
Katadata/Joshua Siringo ringo
Komisaris Utama Bank Jago

Bank digital seakan menjadi tren dalam 1-2 tahun terakhir ini. Salah satu yang paling fenomenal adalah Bank Jago.  Dengan dukungan ekosistem Gojek dan suntikan modal dari raksasa pengelola investasi GIC Singapore, modal Bank Jago melonjak tembus Rp 8 triliun dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp 150 triliun hingga digadang-gadang jadi salah satu bank berpengaruh di Indonesia pada masa depan.

Bankir senior Jerry Ng merupakan sosok di balik metamorfosa Bank Artos menjadi Bank Jago. Ia juga yang membidani lahirnya dompet digital Jenius saat menjadi Direktur Utama BTPN sejak 2008 hingga 2019. Namun, “Bank Jago ini bukan merupakan kelanjutan dari Jenius,” katanya kepada Yura Syahrul, Pemimpin Redaksi Katadata.co.id, di kantor Bank Jago, medio Maret lalu.

Salah satu pembedanya adalah, Bank Jago bakal masuk ke ekosistem digital melalui aplikasi yang melayani solusi keuangan dan gaya hidup.

Dalam strategi solusi keuangan, Bank Jago sudah menggandeng Gojek, Akulaku, Kredit Pintar, dan Akseleran. Sedangkan untuk gaya hidup, Bank Jago bakal masuk ke ekosistem travel sites, e-commerce retails, dan entertainment.

Dalam wawancara yang ditayangkan pada IDE Katadata 2021, Selasa (23/3) itu, Jerry memaparkan evolusi perbankan dalam tiga babak. Ia juga memandang big data akan mengubah bisnis perbankan. Berikut petikannya:  

Bagaimana Anda melihat evolusi perbankan pada 20 tahun terakhir hingga saat ini?

Saya melihat selama 20 tahun terakhir ini dari pasca-krisis moneter, tahun 2000 sampai 2010 adalah golden age for banking. Kenapa golden age? Karena pada saat itu bank pada umumnya sudah di-recapitalized, balance sheet-nya sudah di-clean up dan pasar begitu besar karena krisis sudah berlalu. Persentase pinjaman terhadap produk domestik bruto masih sangat rendah, sehingga sebetulnya selama bank-bank pada saat itu tidak melakukan kebodohan, they should the well.

Lantas periode 2010 sampai 2020, selama periode tersebut bank-bank kalau ingin bertumbuh itu sudah harus betul-betul mempunyai bisnis model yang sangat unik. Salah satu contohnya, BTPN.

Pada saat itu BTPN sangat jelas akan masuk ke perbankan tetapi tidak bisa ikut-ikutan saja. Jadi, kami munculkan modernized microbanking, juga jalankan sharia banking, Jenius dan sebagainya.

Yang menarik menurut saya adalah periode sekarang. Sejak 2020 dan saya tidak tahu sampai lima atau 10 tahun ke depan, kita sudah masuk ke era digitalisasi.

Kenapa era ini menarik? Karena yang pertama soal teknologi. Banyak hal yang dulu tidak bisa dilakukan, tapi sekarang kita bisa melakukannya, ada big data dan sebagainya.

Kedua, saya melihat munculnya suatu generasi baru, generasi tech savvy atau digital savvy. Yang terlihat sekarang orang-orang selalu memegang smartphone. Karena dengan smartphone, kita bisa terhubung ke banyak hal.

Ketiga, yang menarik menurut saya adalah keberadaan ekosistem digital. Lima sampai 10 tahun yang lalu ekosistem seperti Gojek, Traveloka, Tokopedia itu belum ada, tetapi sekarang mereka sudah ada. Jadi itu mungkin observasi saya berbicara mengenai evolusi perbankan di Indonesia.

Mengapa melahirkan Bank Jago, dan apakah ini benar-benar sesuatu yang baru atau kelanjutan dari yang di BTPN?

Pertama-pertama, Bank Jago ini bukan merupakan kelanjutan dari Jenius, sebab kelanjutan itu implikasinya adalah Jago itu hanya marginally better. Saya melihat Jago ini sebagai kategori baru atau transformational.

Paling tidak ada dua hal yang sangat berbeda dari Jenius. Pertama, teknologi. Kami bersyukur karena mendapatkan apa yang kami cari, yaitu bank yang tidak punya legacy. Dengan begitu kami bisa membangun dari awal. Di sektor teknologi, Bank Jago rasanya akan menjadi yang pertama di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan cloud based .

Kedua, kalau dilihat sebelumnya Jenius itu dikembangkan secara organik, tetapi kali ini model kami adalah truly collaboration dengan ekosistem. Kami sangat terhormat bahwa salah satu strategic partner Bank Jago adalah Gojek.

Adakah semacam perjalanan atau pengalaman yang menggugah Anda untuk kemudian mencetuskan ide membangun Bank Jago?

Ada satu kejadian yang membuat saya tergerak. Itu terjadi pada 2014, tujuh tahun yang lalu. Saya kebetulan menjadi pembicara di University Of California, Berkeley.

Suatu hari, selesai board meeting, saya diantar oleh kolega saya ke bawah. Saya bilang nanti saya akan mencari taksi. Dia bilang tidak perlu, kemudian teman saya itu mengeluarkan iPhone dan menunjukkan ke saya aplikasi Uber. Itu pertama kali saya melihat aplikasi Uber, lalu dia memesankan saya taksi online. Selama 15 menit perjalanan dari kantor tempat saya meeting kembali ke hotel, mengubah hidup saya.

Saya berpikir, ternyata tanpa saya sadari my life has been in procces of being digitalized. Dan kalau hidup kita sudah terdigitalisasi, maka perbankan yang merupakan bagian dari hidup kita harus bertransformasi.

Itu yang kemudian saya lakukan tujuh tahun ini. Saya mempelajari macam-macam model bisnis di berbagai penjuru dunia, apakah itu di Eropa, Amerika, bahkan sampai ke Brazil, dan juga tentunya di Asia. Saya lihat ini sebagai tren yang tidak mungkin dihentikan.

Dari berbagai model bisnis itu, ada satu spektrum, tech based financial services, itu didominasi oleh pemain di Eropa maupun di Amerika seperti Revolut, N26, di Rusia ada Tinkoff, di Amerika ada Chime, dan di Amerika Latin ada yang namanya Nubank.

Spektrum yang lain ada di Asia, kita tahu ada WeBank yang merupakan bagian dari ekosistem WeChat dan Tencent, kemudian juga ada AntFinancial, lalu di Korea ada Kakao.

Kalau yang di Eropa dan di Amerika, fokus model bisnisnya selalu mengenai life centric istilahnya, sehingga mereka punya UI & UX, fokusnya adalah mengenai payment dan spending. Sedangkan yang di Tiongkok dan Korea, mereka merupakan bagian dari ekosistem.

Saya melihat dua-duanya mempunyai keunggulan. Ini semua pengalaman yang saya pelajari, termasuk saat mengembangkan Jenius.

Sedangkan Bank Jago akan mengkombinasikan keduanya. Kami akan fokus di life centric solution, tetapi juga akan kolaborasi dengan ekosistem yang melakukan payment segala macam.

Jadi Bank Jago akan mengkombinasikan kedua spektrum?

Ini penting sekali, kita jangan pernah menjadi copycat. Saya terkadang khawatir, saya perhatikan model bisnis dan sebagainya, sudah main copy begitu saja, itu tidak bisa, you have to do your research, and you have to create unique proposition for your customers.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa yang dibeli bank kecil, Bank Artos? Kenapa tidak membuat bank baru atau sebaliknya, beli yang lebih besar lagi?

Sebenarnya saya mengatakan lebih mudah membangun dari dari awal. Istilahnya,  lebih mudah membangun rumah baru daripada merenovasi. Jadi Artos ini pada waktu itu kami pilih itu hanya memiliki enam sampai tujuh cabang, dan kalau tidak salah sekarang hanya tersisa tiga atau empat cabang.

Kedua, teknologinya tidak ada. Ketiga, jumlah orang di dalamnya hanya sedikit, karena saya komitmen untuk tidak lay off anybody. Jadi sebenarnya kenapa Artos yang kami pilih pada waktu itu adalah karena memenuhi syarat tersebut.

Kalau saya perhatikan dari pengalaman bank-bank lain dengan keadaan pandemi Covid-19 tahun lalu, mereka berbicara sekarang itu harus masuk bank digital dan sebagainya. Saya melihat itu dan kami bersyukur di Bank Artos atau jago tidak ada tantangan tersebut.

Pertama, kami tidak ada masalah non performing loan (NPL). Kedua, khususnya setelah pandemi Covid-19, saya yakin sekali mungkin teman-teman di perbankan juga menyadari bahwa tidak perlu terlalu banyak cabang karena nasabah sebenarnya dapat melakukan transaksi melalui aplikasi. Saya pernah menutup 600 cabang dalam tiga bulan, itu bukan suatu hal yang mudah.

Ketiga, kembali lagi ke teknologi. Membangun di atas teknologi yang sudah ada itu jauh lebih susah daripada kalau kita mulai dari nol. Jadi pemilihan Bank Artos merupakan suatu keputusan yang strategis.

Jerry Ng
Jerry Ng (Katadata)

Seberapa signifikan fungsi big data bagi pengembangan bank yang berbasis teknologi?

Saya merasa big data adalah game changer. Contoh, waktu 30 tahun lebih yang lalu saya masih di Citibank. Saat itu Citibank meluncurkan KPR. Saat nasabah mengajukan pinjaman, bank pasti akan meminta nama, alamat tempat tinggal, tempat kerja dan sebagainya. Dengan berbagai data tersebut, nasabah dinilai, kemudian pengajuannya akan disetujui atau ditolak.

Hari ini, dengan big data, misalnya saya sebagai calon debitur, saya kerja di kantor pusat sebuah bank, tinggal di Menteng. Tetapi kalau kita lacak data nasabah tersebut, misalnya data telekomunikasinya, kok nongkrongnya setiap hari di Bekasi, lalu setiap malam di Tangerang. Kita akan tahu bahwa ada yang salah. Jadi dia tidak tinggal di Menteng, tapi di Tangerang.

Kalau kita tahu gaya hidupnya, berapa sering atau belanja di mana dan sebagainya. Itu akan memberikan gambaran yang lebih lengkap ketimbang one snapshot.

Jadi seperti apa posisi bank itu di dalam ekosistem dan relasinya di dalam ekosistem digital?

Bank itu sebenarnya adalah utility, seperti listrik. Misalnya saya kasih listrik saja dalam jumlah tertentu, mungkin itu tidak ada gunanya. Tetapi kalau tidak ada listrik, hidup juga akan susah.

Jadi yang saya maksud adalah semua alat-alat yang memerlukan listrik itu merupakan ekosistem, apakah itu untuk orang berbelanja, untuk orang memesan makanan dan sebagainya itu merupakan bagian dari gaya hidup. Untuk setiap yang kita lakukan pasti ada hubungannya dengan payment, pinjam-meminjam, tabungan dan sebagainya.

Poin kedua yang ingin saya sampaikan adalah dalam ekosistem yang paling banyak berhubungan dengan pengguna akan mempunyai peran yang jauh lebih penting. Dan saya pikir bank itu bukan suatu institusi yang paling banyak terkait dengan pengguna.

Bank menurut saya bukan pusat dari ekosistem, tetapi bank punya peran yang strategis karena apapun yang dilakukan semua ekosistem itu selalu berujung berhubungan dengan sektor keuangan.

Jadi bisa diartikan bahwa bank terhubung dengan pengguna itu melalui pihak-pihak lain dalam ekosistem. Bagaimana relasi atau kolaborasi dengan para pelaku ekosistem digital maupun dengan bank konvensional, juga fintech?

Khusus untuk Bank Jago, ini adalah core bussiness. Kami memang fokusnya di middle market, kita nanti juga ada syariah, dan kunci bisnis model kita adalah berkolaborasi dengan semua bagian ekosistem.

Gojek merupakan shareholder yang signifikan, but not controlling. Selain Gojek, ada 6 sampai 7 shareholder lain. Kami juga berkolaborasi dengan fintech players, lending.

Kolaborasi itu terlihatnya sangat common sense, tetapi pelaksanaannya itu sebenarnya tidak mudah. Tantangan terbesarnya adalah dua makhluk ini yang datang dari dunia cukup berbeda.

Saya bicara dengan beberapa pendiri startup terkait pengalaman mereka dengan bank. Yang mereka sampaikan, pertama lambat, kedua birokrasi berjenjang, kemudian risk management, compliance.

Kemudian saya bicara dengan bankir mengenai pengalaman mereka dengan para founder startup. Biasanya testimoni mereka, pintar-pintar, inovatif, tapi kok terburu-buru, semua maunya cepat-cepat, bahkan ada yang bilang ala koboi.

Jadi kedua pihak ini sangat berbeda. Bank Jago mencoba menjembatani ini.

Berarti kolaborasi ini sebenarnya sebuah keniscayaan. Bagaimana Anda melihat sejauh ini proses kolaborasinya, baru mulai berjalan atau sudah terwujud sepenuhnya?

Saya merasa sekarang ini masih dalam proses. Tetapi saya percaya bahwa di antara para founder startup ini akan mengapresiasi perbankan sebagai suatu industri yang regulasinya cukup ketat, karena berhubungan dengan sektor keuangan. Kami mempunyai tanggung jawab terhadap publik yang sangat besar.

Sebaliknya, saya juga merasa teman-teman di perbankan harus menyadari bahwa regulasi itu tidak bisa jadi alasan. Misalkan lima tahun yang lalu, waktu Jenius itu kita luncurkan, kita harus melakukan KYC (know your customer) yang menurut aturan harus secara tatap muka. Jadi meskipun dengan teknologi itu bisa dilakukan secara online, tetapi kita harus mengirim orang.

Tetapi sekarang OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sudah memungkinkan video KYC. Jadi regulator juga beradaptasi kok.

Ke depan seperti apa visi dari Bank Jago? Apa rencana-rencana yang akan dilakukan?

Bank Jago ini baru, masih kecil. Kami bersyukur bahwa dengan dukungan berbagai pihak, Bank Jago dari yang tadinya BUKU (Bank Umum Kelompok Usaha) 1, sekarang minimal kita sudah menjadi bank BUKU 3 dari permodalan.

Jalan kami masih panjang. Kalau berbicara mengenai visi, yang selalu saya tanamkan adalah kita tidak boleh berhenti untuk belajar. Kita tidak tahu di mana perjalanan ini akan berhasil. Kita tidak boleh terlalu meyakini bahwa ini akan berhasil karena perubahan itu terjadi semakin cepat.

Jadi, dengan tuntutan untuk selalu relevan, apakah semua bank harus berubah menjadi bank digital?

Saya rasa tidak. Saya melihat bahwa tidak semua bank harus menjadi bank digital untuk berhasil, sebab pasar kita cukup besar. Saya rasa bank digital maupun bank non-digital sama-sama mempunyai kesempatan bisa sukses.

Penekanan saya adalah, mau bank digital ataupun bank non-digital, apapun yang Anda pilih, Anda harus mempunyai suatu bisnis model yang unik.

Reporter: Yura Syahrul

The pandemic has led Indonesia to revisit its roadmap to the future. This year, we invite our distinguished panel and audience to examine this simple yet impactful statement:

Reimagining Indonesia’s Future

Join us in envisioning a bright future for Indonesia, in a post-pandemic world and beyond at Indonesia Data and Economic Conference 2021. Register Now Here!

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...