Harus Masuk 5G, tapi Tidak Perlu Terburu-buru

Rezza Aji Pratama
28 Mei 2022, 13:26
Merza Fachys Smartfren
Katadata

Pandemi Covid-19 membuat para operator telekomunikasi harus bekerja ekstra untuk melayani pelanggan. Permintaan paket data internet meningkat seiring dengan transisi aktvitas masyarakat yang kini serba online. Namun, tren kenaikan konsumsi data ini tidak berbanding lurus dengan pendapatan usaha operator telekomunikasi.

“Saat pandemi kami banyak kasih subsidi kuota,” kata Direktur Utama PT Smartfren Telecom Tbk Merza Fachys, saat berbincang dengan Katadata. 

Setelah sempat mengalami turbulensi selama pandemi, bisnis operator telekomunikasi mulai terlihat cerah sejak 2021. Ini terlihat dari laporan pendapatan dan laba tahunan operator yang sudah terlihat tumbuh. Merza optimistis tahun ini bisa menjadi titik balik bagi operator.

Di tengah kesulitan pandemi Covid-19, sejumlah kabar baik muncul dari sektor telekomunikasi. Konsolidasi PT Indosat Tbk dan PT Hutchison 3 Indonesia akhirnya tuntas pada Januari 2022 silam. Selain itu, operator juga sudah memulai perlombaan untuk menggelar 5G di Indonesia.  

Kendati demikian, dari empat operator saat ini, Smartfren justru masih terlihat adem ayem.  Hingga saat ini, anak usaha Sinar Mas tersebut menjadi satu-satunya operator yang belum mengantongi Surat Keterangan Laik Operasi 5G. “Penggelaran 5G tidak perlu terburu-buru,” kata Merza. 

Mengapa demikian? Dalam satu sesi bincang-bincang virtual dengan Redaksi Katadata, Merza memberikan pandangannya soal masa depan 5G di Indonesia. Tidak hanya itu, ia juga berbagi perspektif soal transformasi bisnis operator ke lini digital dan bagaimana penerapannya di tingkat konsumen.

Simak wawancaranya berikut ini:

Seperti apa tantangan operator terutama Smartfren di masa pandemi?

Kita baik-baik saja. Di awal-awal pandemi, tidak hanya Smartfren, juga seluruh pelaku telekomunikasi banyak sekali mengalami kendala. Terutama terkait dengan batasan waktu. Tidak boleh jalan, harus pakai surat ini-itu dan lain-lain. Walaupun sejak awal dikatakan bahwa telekomunikasi merupakan sektor yang strategis, yang diberi privilese untuk tetap beraktivitas, namun di lapangan pada saat itu belum merata. 

Pada 2020, hampir seluruh operator kinerjanya menurun. Kinerja ini dari banyak aspek selain revenue, tetapi juga pembangunan, peningkatan jumlah BTS, sebaran produk, dan lain-lain pada saat itu mengalami penurunan. 

Kalaupun tidak menurun dari segi nominalnya, tetapi menurun dari pertumbuhan. Jadi kalau pada 2019 mempunyai pertumbuhan cukup besar, pada 2020 pertumbuhan persentasenya tidak sebesar tahun sebelumnya. Setelah kita mulai bisa menyesuaikan diri, maka bisa dilihat pada 2021 kita kembali membukukan pertumbuhan yang cukup baik. 

Trafik meningkat selama pandemi Covid-19, bagaimana dampaknya terhadap operator?

Kita banyak sekali mengubah pola kehidupan dengan cara-cara virtual atau online selama pandemi. Sehingga orang menafsirkan ini merupakan masa panen buat penyelenggara telekomunikasi. 

Harus kita akui trafik memang naik. Namun dari segi revenue tidak seimbang dengan kenaikan trafik. Mengapa? Karena kita banyak sekali melakukan program-program khusus yang lebih murah, yang memberi kesempatan kepada semua pengguna untuk menggunakan lebih banyak data dengan harga yang relatif terjangkau. Artinya, harga betul-betul kita sesuaikan dengan keadaan, di mana masyarakat sedang mengalami kesulitan untuk daya belinya. 

Nah, dari segi lain lagi, ada tantangan untuk menciptakan produk-produk yang mudah untuk digunakan oleh masyarakat. Jadi kita banyak melakukan perubahan terkait engagement kita dengan pelanggan. Misalnya yang tadinya harus datang ke galeri, sekarang sudah bisa online. 

Yang paling banyak meningkat adalah berkolaborasi dengan para penyelenggara konten. Mengingat banyak orang kemudian diam di rumah, maka harus ada produk substitusinya.

Pak Merza singgung soal kenaikan trafik yang ternyata tidak berdampak banyak terhadap revenue. Itu karena masih ada konsekuensi dari perang harga atau bagaimana?

Kalau kita rasakan justru selama pandemi ini kita tidak melihat ada perang harga yang signifikan. Justru semangat kita hampir semua operator adalah bagaimana kita mengatasi kesulitan pandemi. Jadi kalau harga sampai diturunkan itu bukan karena perang, justru karena kita ingin membantu masyarakat. 

Salah satu program terbesar yang kita lakukan adalah subsidi kuota. Itu betul-betul dari segi nilai cukup signifikan. Saya terus terang enggak inget berapa miliar rupiah nilainya. Tapi dari segi jumlah pengguna yang mendapatkan bantuan pemerintah itu cukup besar. Di Smartfren sendiri kira-kira 20% sampai 25% pelanggan kita itu mendapatkan subsidi. 

Jadi bayangkan yang tadinya Smartfren menerima pendapatan dari mereka, sekarang yang kita dapatkan adalah uang dari pemerintah yang mana nilainya jauh di bawah angka yang biasa kita jual kepada masyarakat. 

Jadi bisa kebayang operator-operator yang pelanggannya mayoritas adalah usia produktif belajar. Kalau sampai mayoritas pelanggan kita ada disitu, itu penurunan revenue kan lumayan. Oleh sebab itu trafiknya nambah karena kuotanya diberikan cukup besar tapi revenuenya memang tidak sebanding dengan kenaikan trafik.  Jadi bukan karena praktik perang harga.

KARTU PERDANA UNTUK BELAJAR DI RUMAH
KARTU PERDANA UNTUK BELAJAR DI RUMAH (ANTARA FOTO/FOTO/Audy Alwi/hp.)
 

Kalau kondisi tahun ini bagaimana?

Tahun ini kita harapkan merupakan titik balik. Yang kita maksud titik balik adalah pelanggan-pelanggan baru yang tadinya masuk di saat pandemi betul betul jadi customer bagi kita.

Sekarang kegiatan fisik sudah mulai banyak dilakukan. Apakah kita meninggalkan sepenuhnya kegiatan-kegiatan yang telah menjadi biasa kemarin? Meeting virtual, ketemu virtual. Kalau itu ternyata berkurang, ini merupakan tanda-tanda bahwa akan ada perubahan kembali ke old normal. Padahal kita harapkan tadinya ketika pandemi ini mulai hilang, maka kebiasaan selama pandemi mudah-mudahan bisa tetap kita pertahankan.

Ini yang sudah efisien, ngapain kita balik lagi ke old normal, harusnya kita tingkatkan. Tapi saya melihat ini masih fifty-fifty lah, karena memang pandemi belum sepenuhnya hilang

Tadi sempat disinggung juga soal kerjasama dengan penyedia konten itu. Nah ini bagian dari shifting bisnis operator ke sektor digital?

Secara Langsung ini bukan produk operator, tapi operator bekerja sama dengan mereka [penyedia konten]. Ketika ada kebutuhan, maka kita dari operator akan memberikan jalan yang lebih pas bagi konten itu. 

Ini kerja sama itu mulai dari investasinya, registrasi, sampai dengan bandwidth yang disediakan untuk aplikasi tersebut. Kalau kita kerjasama, kita berikan jalur khusus buat mereka. Ini supaya pelanggan tidak putus-putus ketika nonton film misalnya. 

Jadi operator sudah berdamai dengan layanan over the top (OTT)?

Bukan berdamai. Keberadaan website [konten] ini enggak bisa dielakkan. Kita tidak ingin juga sebagai operator harus membuat konten. Konten itu kompetensinya berbeda antara penyelenggara infrastruktur atau jaringan internetnya. 

Biarlah mereka yang memang berkompeten di bidang itu, yang melakukan sendiri. Kita bekerja sama mengupayakan agar internet ini berkualitas. Orang yang menikmati kontennya juga tidak akan merasa sia-sia dia berlangganan. 

Ketika kita nonton film, kemudian entah putus-putus, entah lelet, pasti yang dimaki-maki operatornya. Terus dia pindah ke operator lain. Ternyata begitu juga ketika dia pindah ke operator lain. Akankah dia kembali ke Smartfren? Belum tentu. Padahal masalahnya ada di server konten misalnya. Nah, ini perlunya kita kerjasama. Maka, kalau ada server kapasitasnya kurang, kita akan kasih rekomendasi.

Terkait bisnis digital, Smartfren masuk di bisnis data center atau cloud?

Smartfren ini kan bagian dari grup besar Sinar Mas. Jadi, Sinar Mas yang kemudian mempunyai strategi dan memikirkan pilar-pilar mana yang paling cocok. Ada pilar yang menangani infrasstruktur pasif. Pilar yang menangani seluler seperti Smartfren. Ada juga pilar yang memang nanti menangani digital bisnis. Banyak sekali di sana. 

Soal merger Tri dan Indosat, akan sejauh mana berdampak ke bisnis dan persaingan operator?

Pertama, dengan aksi ini Smartfren melihat satu kompetitor hilang [Merza lantas tertawa]. Kedua, Smartfren naik peringkat dari operator nomor 5, jadi nomor empat.

Tapi artinya kompetitor akan semakin kuat?

Filosofi kompetisi sekarang bukan lagi sekedar perang-perangan, tapi juga adu cepat. Jadi ‘perang’ yang sifatnya kekuatan ini belum tentu bisa dijalankan. Berapa banyak model produk paketnya Smartfren yang setelah kita launcing kelihatan sukses di pasar, akhirnya dicontoh sama yang lain. Walaupun tidak 100% sama tetapi nyawanya sama. 

Hal seperti itu membuktikan bahwa yang masuk pasar duluan pasti akan jauh lebih disukai oleh masyarakat. Inilah yang membutuhkan kreativitas dari tim kita.

Smartfren ada niat merger?

Kalau niat sih tergantung, siapa dulu yang ngelamar? Sebetulnya kita melihat dari segi efisiensi. Ke depan ini tantangan kita adalah sumber daya. Apa perubahan 5G dibanding sebelumnya? 5G dari kacamata operator, yaitu dibutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar.  Yang paling utama tentu saja spektrum frekuensi. Yang kedua adalah jaringan. Jaringan ini baik jaringan pasif seperti tower

Untuk ke depan ini menjadi satu syarat utama agar kita tetap bisa leading dalam bisnis ini. Kalau bicara spekrum, itu sumberdaya yang terbatas. Jadi pemerintah yang punya spektrum harus berpikir bagaimana agar bisa dimanfaatkan secara optimal

Sekarang ada empat operator. Dampaknya penguasaan spektrum tiap operator jadi kecil. Padahal kita tahu sumber daya yang dibutuhkan 5G harus lebih besar. Tapi tidak bisa juga dimonopoli satu orang. 

Apakah dua operator bisa dibilang monopoli? Atau harus tiga? Nah, ini yang dipikirkan pemerintah. Dulu Chief RA [eks Menkominfo Rudiantara] memberikan ide konsolidasi. Tapi beliau sendiri tidak bisa memastikan harus berapa. Antara tiga atau empat. Kalau dijadikan tiga operator pasti akan lebih baik. Dari segi sumber daya lebih efisien. Tapi kembali lagi ada aspek lain yang harus dipertimbangkan. 

Kalau menurut Pak Merza idealnya berapa?

Ya tinggal selangkah lagi tiga.

Artinya nanti Smartfren yang akan konsolidasi?Belum tahu, bisa jadi Indosat Hutchison dan XL [merger] gimana?

Terkait 5G, bagaimana rencana Smartfren?

[Masuk 5G] itu harus. Sebuah operator enggak bisa ketinggalan teknologi. Tapi sebetulnya 5G itu butuh resources yang cukup besar. Kalau mau jujur nih, kalo secara resources hari ini belum ada yang siap

Semua operator?

Semua operator. Terutama dari segi spektrum. Kecepatan 5G yang dicita-citakan secara teori itu bisa menghasilkan kecepatan 8 Gbps. Itu spektrum yang dibutuhkan paling tidak 400 MHz dan itu sangat besar. Operator terbesar saat ini, Telkomsel, saja cuma punya 155 MHz. 

Pemerintah mendorong untuk menghapus 2G dan 3G. Tapi artinya [spektrum] masih harus dibagi-bagi lagi untuk 4G dan 5G.

Ada gambaran berapa Pak nilai investasi 5G?

Bukan seperti itu mikirnya. 5G tidak akan di gelar secara blanket seperti 3G atau 4G. Jaringan 5G tetap akan berdampingan dengan 4G. Kenapa? Karena mobility yang sekarang sudah kita nikmati hanya untuk main sosial media atau nonton film, itu sebetulnya 4G sudah cukup. 

5G itu untuk aplikasi yang sifatnya mission critical. Ini yang harus kita definisikan. Hari ini yang sudah sangat butuh adalah teman-teman di industri manufaktur. Otomatisasi industri ini sekarang sudah banyak sekali aplikasi-aplikasi yang membutuhkan kecepatan sekelas 5G. Maka 5G akan di gelar secara spot di mana pabrik itu membutuhkan

Kedua ini, mungkin yang butuh juga adalah MICE untuk nantinya bisa live reporting. Apalagi yang sudah critical? Mungkin di Jakarta belum ada, tapi di beberapa kota besar di dunia sudah banyak sekarang mobil tanpa sopir. Kalau sampai Jakarta atau IKN nantinya mulai mengenalkan itu, tidak ada solusi lain kecuali 5G. 


Artinya ada kaitan sama Internet of Things juga ya?

IoT. Mau tidak mau memang nanti yang men-drive  5G adalah IoT.  Teman-teman di agrikultur juga mulai butuh IoT dengan kecepatan 5G. Virtual tourism nantinya juga butuh 5G karena orang nantinya akan pakai VR. 

Maka inilah kenapa kita tidak perlu buru-buru kalau memang ke depan itu belum terlalu terdefinisi soal kebutuhan 5G. Handphone kita sudah cukup untuk kehidupan sehari-hari. Mungkin sudah ada yang butuh 5G, tapi kalau pemakaiannya hanya nonton video, nonton drakor, nonton layangan putus, ya enggak perlu 5G.

Tahun lalu Smartfren meluncurkan solusi IoT ThingSpark, seperti apa perkembangannya?

Saya belum bisa cerita banyak soal itu karena masih dalam proses untuk berkembang. Pasar IoT ini belum jadi bidikan utama Smartfren. Kita memang meluncurkan dan ada pelanggan. Namun kita belum mentargetkan pelanggan IoT sebagai revenue stream. IoT ini digadang-gadang sebagai user terbanyak dari 5G. Nanti pabrik-pabrik itu nanti isinya IoT semua. 

Perilaku konsumen selama pandemi terlihat berubah, bagaimana Smartfren melihatnya?

Pandemi memang membawa banyak perubahan bagi pola hidup manusia. Orang cenderung menetap di satu tempat, sehingga kebutuhannya adalah layanan fixed broadband. Kalau saya bicara ideal, entah berapa tahun ke depan, semua rumah harus terjangkau fiber optik. Ini pertanyaan yang sampai sekarang sulit untuk dijawab. 

Bukan karena tidak ada yang mau investasi, tapi lihat di Indonesia ini banyak satu kelurahan atau desa yang isinya cuman ratusan orang. Selain itu rumahnya mencar-mencar. Untuk menjangkau titik itu saja narik fiber optiknya setengah mati. 

Belum lagi kalau banyak kerusuhan kayak kemarin di Papua. Jadi untuk ideal seperti itu mungkin butuh waktu.



Smartfren mengakuisis 20% saham Moratellindo pada Mei 2021 silam, seperti apa tujuannya?

Smartfren ingin menyiapkan jangka panjang karena saya melihat fixed broadband merupakan salah satu tujuan yang paling ideal. Jadi kita harus mulai membiasakan pelanggan bahwa ketergantungan dia terhadap selular ini secara lambat laun akan berubah dan bergantung kepada yang layanan fixed. 

Sekarang  sudah mulai terasa. Misalnya kalau ke kafe kita selalu cari wifi meskipun sudah punya paket data seluler. Karena itulah Smartfren mulai siap-siap. Nah, Moratellindo itu salah satu pemain fixed broadband di Indonesia yang lumayan andal.

Artinya semua bisnis mengarah ke penguasaan jaringan tetap atau fiber optic?

Trennya akan ke sana, tapi mobility atau seluler tidak bisa ditinggal karena orang tetap ingin terhubung di manapun. Nah, penggunaan seluler ini sifatnya yang normal-normal saja seperti komunikasi, cek email, atau nonton film. 

Aplikasi-aplikasi yang butuh data besar itu akan ada di fixed. Salah satu contohnya IoT. Jadi mungkin handphone orang itu enggak sepenuhnya harus 5G. 

Kalau secara bisnis Smartfren akan tetep di seluler atau bagaimana?

Sekarang kita udah nyuntik modal Moratelindo 20,5% persen itu salah satu contoh. Kita akan mengembangkan area yang belum dimasuki Moratelindo. 

Bagaimana kondisi average revenue per user (ARPU) saat ini?

ARPU stabil. Stabil di bawah [Merza tertawa]. Jadi begini, dulu ARPU itu memang menjadi salah satu indikator, bahwa operator yang sukses itu kalau ARPU-nya tinggi. Nah, dalam 5 tahun terakhir orang-orang mulai ninggalin ARPU.

Sebagai contoh merger Indosat dan Tri, konsultannya enggak liat ARPU lagi. Yang diliat adalah revenue gross-nya kayak apa, kemudian laba operasionalnya seperti apa. Nah, tapi demikian mudahnya orang pakai buang [kartu SIM]. Makanya yang penting berapa banyak yang didapat itu lebih penting daripada ARPU.

Reporter: Rezza Aji Pratama

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...