Menkop Ferry Juliantono: Koperasi Desa Buka Peluang untuk Milenial dan Gen Z

Hari Widowati
15 Januari 2026, 09:00
Menteri Koperasi Ferry Juliantono
Katadata/Amosella
Menteri Koperasi Ferry Juliantono
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menyatakan program Koperasi Desa Merah Putih merupakan agenda transformasi besar dari pemerintah agar koperasi kembali menjadi arus utama sistem ekonomi nasional.

Hingga awal Januari 2026, pemerintah telah menginventarisasi sekitar 41 ribu lahan untuk pembangunan koperasi desa, dengan 23 ribu titik di antaranya telah diverifikasi dan sedang dibangun. Ribuan koperasi tersebut ditargetkan rampung dan mulai beroperasi pada Maret–April 2026, seiring dengan penyiapan sumber daya manusia, sistem digital, serta model bisnis yang lebih modern.

Transformasi ini tidak hanya berfokus pada aspek kelembagaan, tetapi juga mendorong koperasi menjadi entitas bisnis produktif yang terintegrasi dengan ekosistem ekonomi desa. Koperasi Desa Merah Putih dirancang mengelola berbagai kegiatan usaha, mulai dari retail modern, gudang dan logistik, klinik dan apotek desa, hingga menjadi offtaker produk masyarakat lokal.

Lebih jauh, Ferry menekankan Koperasi Desa Merah Putih diarahkan untuk menarik partisipasi generasi muda, baik sebagai pengelola maupun pelaku usaha.

"Kami memandang perlu bagaimana koperasi ini ke depan bisa menjadi pilihan dari anak-anak muda, khususnya Milenial dan Gen Z. Ketika mereka punya brand lokal tapi tidak tahu harus jual ke mana, koperasi bisa menjadi pilihan," ujar Ferry. 

Dalam pandangan pemerintah, koperasi menjadi kontra-narasi atas praktik ekonomi yang terlalu berorientasi pada korporasi besar, sekaligus instrumen untuk menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi desa, dan mendorong pemerataan pertumbuhan. Melalui penguatan koperasi, pemerintah berharap roda ekonomi dari desa dapat berkontribusi signifikan terhadap target pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

Redaktur Eksekutif Katadata Sorta Tobing mewawancarai Menteri Koperasi Ferry Juliantono, di kantornya, pekan lalu. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana perkembangan Koperasi Desa sejak diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Juli lalu?

Tidak gampang untuk mendapatkan tanah yang ideal seluas 1.000 meter persegi untuk Koperasi Desa. Data tanah yang terinventarisasi per hari ini (7/1), jumlahnya 41 ribu (titik) di seluruh Indonesia. Data tanah yang sudah diverifikasi dan sedang dibangun itu ada 23 ribu.

Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, beliau sudah mengetahui perkembangan jumlah bangunan fisik gudang, gerai, dan sarana kelengkapan yang sedang dibangun di 23 ribu titik. Harapannya 23 ribu titik ini bisa selesai pada Maret-April dan siap operasional disamping inventarisasi tanah.

Kami juga sedang melakukan pelatihan pertama, kami merekrut sekitar 8.000 business assistant yang akan kami terjunkan. Setiap business assistant bertanggung jawab pada 10 Koperasi Desa, mereka akan mengajari dan melatih masyarakat soal pengelolaan Koperasi Desa.

Lalu, kami juga merekrut sekitar 1.104 tenaga project manager officer yang ditempatkan dua orang di tingkat provinsi dan dua orang di setiap kabupaten/kota. Tujuannya, tenaga project manager officer ini bisa mendampingi dinas-dinas koperasi yang ada di provinsi dan kabupaten/kota. Memang proses ini berlangsung paralel.

Bagaimana dengan rencana digitalisasi Koperasi Desa?

Bersamaan dengan itu, kami sedang menyempurnakan sistem informasi manajemen Koperasi Desa sebagai bagian proses digitalisasi untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih. Jadi memang ini pekerjaan paralel butuh kesabaran karena memang melatih meningkatkan kapasitas pengurus pengelola Koperasi Desa itu butuh waktu.

Selanjutnya, proses digitalisasi tapi kami sudah melakukan pelatihan kepada seluruh pengurus Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih hampir semuanya. Ini terus kita lakukan di Januari ini hingga tiga bulan ke depan kita perpanjang masa tugas business assistant dan project manager officer untuk kita tambah lagi bekal pengarahan ke pengurus dan pengelola Koperasi Desa dan meningkatkan kapasitas dinas-dinas kita juga.

Dinas-dinas koperasi harus tahu bahwa kita sedang melakukan transformasi yang cukup besar, koperasi harus didorong untuk menjadi entitas bisnis. Ini harus didampingi kemudian diarahkan untuk pengembangan bisnisnya menjadi benar.

Kalau kemarin lebih banyak ke aspek kelembagaannya lalu digitalisasi data data di kami sifatnya statis, self-declare menunggu rapat anggota tahunan dari koperasi lalu laporan ke kami. Sekarang kami ubah, kami  sudah punya command center data. Data yang tadinya statis kita buat lebih dinamis agar Kemenkop punya penetrasi yang lebih jauh ke koperasi-koperasi yang ada maupun untuk Koperasi Desa.

Fokus kegiatan Koperasi Desa Merah Putih ini akan ke mana?

Penonjolan kegiatannya sekarang kita kembangkan ke arah pengembangan bisnis. Jadi, itu bagian yang terus harus dilakukan dalam transformasi ini karena koperasi di seluruh dunia itu entitas bisnis. Lebih banyak anak-anak muda Indonesia yang tahu koperasi identik dengan simpan pinjam, yang Koperasi Unit Desa (KUD) memang begitu, tapi di Koperasi Desa ini ada koperasi yang punya peternakan industri, seperti Gabungan Koperasi Batik, ada juga koperasi-koperasi pondok pesantren sudah berkembang maju dan masuk ke sektor-sektor yang lebih modern.

Ini yang kami dorong. Kami juga punya lembaga pengelola dana bergulir. Ini sudah kita arahkan untuk lebih banyak alokasi pembiayaan ke koperasi-koperasi yang produktif, jangan lagi ke koperasi simpan pinjam. Artinya, proporsinya harus diperbesar ke sektor produktif. Kaitan dengan Koperasi Desa Merah Putih ini sebenarnya oleh Presiden Prabowo diamanatkan lewat Inpres 9 Tahun 2025 di mana ada 18 kementerian lembaga terlibat.

Lalu, ada lagi tentang Perpres pembentukan satuan tugasnya. Saya jadi koordinator pelaksana harian, Kemenkop diberi amanat di Inpres itu untuk membangun model bisnis dan membuat modul-modul pelatihan.

Oleh karena itu, kita sedang sibuk membuat model-model bisnisnya karena Koperasi Desa ini nanti di desa dan kelurahan akan melakukan kegiatan untuk retail modern, gudang yang akan dikelola secara modern, lalu sarana logistik transportasinya. Ada kendaraan yang disiapkan lalu Kopdes juga akan mengelola klinik dan apotek desa, serta lembaga keuangan mikro di luar itu. Koperasi Desa boleh melakukan bisnis yang sesuai potensi desa atau kelurahan masing-masing, misalnya kerajinan atau kuliner.

Fungsi Koperasi Desa yang paling penting adalah menjadi tempat menjual barang-barang kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari hari tapi Koperasi Desa ini bisa berfungsi sebagai offtaker untuk menampung hasil produk masyarakat di kelurahan. Apakah itu hortikultura, kerajinan, kuliner, dan sebagainya. Koperasi Desa bisa berfungsi sebagai instrumen yang terendah yang akan membantu program-program pemerintah atau subsidi pemerintah pusat agar lebih tepat sasaran ke penerima manfaat.

Ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Kemenkop. Kemarin sudah kita rangkum 83.000-an Koperasi Desa yang sudah memiliki badan hukum dan sekarang lagi proses pembangunan fisiknya. Dalam proses terjun ke desa-desa, kami menemukan banyak masalah yang dihadapi desa dan kelurahan. Ada desa yang masih belum punya listrik mereka sekarang pakai solar yang kuat hanya empat hingga lima jam. Ada desa kelurahan yang belum punya akses internet. Desa pesisir ada yang sama sekali tidak ada solar padahal nelayan setidaknya harus punya es batu dan solar, tapi ini tidak ada.

Ada beberapa hal dari kebijakan peraturan petunjuk teknis (juknis) peraturan menteri yang kita relaksasi. Banyak sekali kalau dari sisi itu tidak bisa masuk tahap operasional tapi kami memandang perlu sekarang bagaimana koperasi ini bisa ke depan menjadi pilihan dari anak-anak muda, khususnya Milenial dan Generasi Z yang umurnya 30 tahun atau 40 tahun ke bawah. Ketika Koperasi Desa ini nanti punya retail, sebenarnya kita bisa menawarkan ke teman-teman Milenial dan Gen Z.

Mereka, misalnya punya brand lokal atau pernah punya pengalaman bisnis tapi tidak tahu mau jual ke mana, mau ekspor ribet, mereka berharap ada pasar domestik baru yang bisa jadi pilihan tempat menjual produk. Kami mau menawarkan kesempatan ini untuk dimasuki teman-teman kalangan Milenial dan Gen Z. Karena itu, transformasi koperasi ini sebaiknya bisa menjangkau kalangan Milenial dan Gen Z.

Tujuan akhir transformasi koperasi ini apa?

Kalau menerjemahkan keinginan Bapak Presiden bahwa perlu ada kontra-narasi dari sistem dan praktik bisnis yang selama ini dianggap Presiden melahirkan "Serakahnomics". Disrupsinya adalah badan usaha koperasi karena badan usaha koperasi ini sifatnya partisipatif jadi milik orang banyak. Bukan pemegang saham saja, karena sahamnya dimiliki anggota dan kalau bisa dikelola secara modern apalagi kalau Koperasi Desa ini bisa jalan bagus itu akan memunculkan aktivitas ekonomi.

Di desa-desa akan ada perputaran uang, akan ada pertumbuhan ekonomi di desa-desa yang secara agregat akan mendorong kenaikan pertumbuhan ekonomi secara nasional. Ini menjadi cara Kemenkop membantu pemerintah untuk memberikan penciptaan lapangan kerja untuk anak-anak muda yang selama ini relatif belum terserap di industri besar atau lapangan pekerjaan.

Koperasi bisa menjadi alternatif pilihan bagi Milenial dan Gen Z untuk jadi pilihan mereka bekerja menjadi pengelola manajer di koperasi koperasi yang ada atau Koperasi Desa. Bisa juga mereka terlibat untuk membangun memproduksi barang-barangnya yang dijual di koperasi-koperasi desa.


Kapan hal ini mulai berjalan?

Kalau Maret-April ini sekitar 23 ribu-25 ribu Kopdes selesai dibangun fisiknya dan siap operasional. Nanti akan kita lihat seberapa besar dampak dan manfaatnya terhadap kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar. Tapi, saya yakin terhadap ekosistem yang terbangun. Ada hub-nya, ada agregatornya untuk memasok barang-barang itu ke koperasi-koperasi desa, baik kebutuhan pokok atau kebutuhan sehari-hari yang bisa diisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, atau hasil produk teman-teman Milenial dan Gen Z.

Ke depan koperasi bisa keren dan ini penting. Di Kemenkop, kami memandang di gerakan koperasi ini harus ada regenerasi karena hampir 30 tahun ini koperasi relatif terbelakang, baik dari sisi aset volume usaha kegiatan maupun minat ke koperasi. Makin lama makin turun.

Sekarang Presiden ingin mengembalikan arah dan praktik sistem ekonomi kita kembali ke jati diri ekonomi yang pas secara konstitusi kita, khususnya pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Koperasi itu badan usaha yang seharusnya menjadi soko guru atau badan usaha yang jadi arus utama. Ini bukan soko gurunya maha korporasi, bukan berarti kita anti-korporasi. Artinya, korporasi boleh berkontribusi terbaik tapi koperasi juga harus memberikan hasil terbaiknya.


Koperasi akan menyeimbangkan peran korporasi?

Iya, dong. Itu keinginan Presiden. Banyak sekali masalah mendasar yang sering Presiden sampaikan ke kami di kabinet atau masyarakat.

Presiden menunjukkan banyak anak sekolah yang harus melintasi sungai, itu artinya ada masalah belum ada sarana untuk masyarakat tersebut. Dengan adanya koperasi desa, itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Asta Cita keenam tentang bagaimana membangun dari bawah dan membangun dari desa.

Kita bisa carikan solusi ke masyarakat yang belum ada listriknya, belum ada akses internet, akses terhadap solar, akses ke kebutuhan kebutuhan mendasar. Ini sebenarnya perbedaan gagasan besar dari Presiden Prabowo. Kalau 2026 ini bisa dilakukan secara baik, saya yakin 2027 sesuai dengan harapan Presiden akan ada pertumbuhan ekonomi yang mencapai 8%.

Supaya mimpi itu tercapai dan segala target tercapai, bagaimana pemerintah menjaga Koperasi Desa Merah Putih tetap berada di jalur yang benar.

Kalau digitalisasinya benar, kalau pelatihan SDM-nya benar, pengawasan kita menggunakan dukungan Kejaksaan yang punya aplikasi tentang Jaga Desa. Kita tinggal menambahkan fitur Koperasi Desa. Dengan aplikasi itu, kita bisa melakukan mitigasi risiko dan pengawasan.

Semua upaya untuk membuat koperasi desa dan koperasi-koperasi yang lain bisa bagus, ya harus menggunakan indikator-indikator yang kita lakukan. Pokoknya ini entitas bisnis yang dikelola secara benar secara bisnis. Oleh karena itu, Kemenkop juga ada perubahan dengan lebih mendorong koperasi adaptif ke perubahan-perubahan dan koperasi harus adaptif ke perkembangan bisnisnya.

Di sisi lain, koperasi harus meningkatkan kapasitas, mengubah paradigma untuk bisa memulai bagaimana caranya koperasi bisa feasible secara bisnis.

Koperasi Desa akan menargetkan Gen Z dan Milenial?

Iya. Sekarang Kemenkop juga mengelola puluhan retail modern, mengelola ribuan gudang, dan membangun ekosistem bersama dengan industri-industri kecil, brand lokal, pelaku-pelaku UMKM, dan sebagainya. Yang saya harapkan itu juga bisa diisi teman-teman dari Milenial dan Gen Z.

Itu tantangan kita, tapi saya yakin sekarang jalannya sudah benar karena Presiden sudah menggariskan ideologi negara kembali ke UUD 1945 khususnya pasal 33. Saya sebagai pembantu presiden menerjemahkan ini ke hal-hal yang lebih detail dan lebih implementatif lagi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...