Misi Grab Indonesia untuk Menciptakan Peluang Ekonomi lewat Digitalisasi
Jakarta — Perkembangan teknologi mendorong perubahan dalam cara masyarakat bekerja, beraktivitas, dan mengakses berbagai layanan. Bagi Grab Indonesia, teknologi bukan hanya alat untuk menghadirkan layanan yang lebih praktis, tetapi juga sarana untuk membuka akses dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat, Mitra Pengemudi, Mitra Merchant, dan pengguna.
Hal tersebut disampaikan CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi dalam wawancara dengan Katadata di Jakarta, Selasa (29/9/2026). Menurut Neneng, Grab Indonesia terus berupaya memahami kebutuhan konsumen, Mitra Pengemudi, dan Mitra Merchant melalui inovasi yang relevan dengan keseharian mereka.
"Saya selalu sebutnya sprint tapi maraton. Bukan sekedar sprint aja, dan bukan maraton aja. Melainkan sprint sekaligus maraton. Sprint di maraton lebih susah lagi. Dibutuhkan konsistensi dan daya tahan yang agile," ujar Neneng, soal salah satu filosofinya dalam menjalankan perusahaan, dalam wawancara dengan Katadata.
Upaya tersebut telah dilakukan Grab sejak didirikan oleh Anthony Tan dan Tan Hooi Ling pada tahun 2012. Berawal dari layanan mobilitas, Grab kemudian berkembang menjadi ekosistem digital yang menghadirkan berbagai layanan untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
Neneng menceritakan capaian dan tantangan dalam mengorkestrasi Grab Indonesia hingga menjadi perusahaan ekosistem digital yang terus beradaptasi. Berikut wawancaranya:
Ekosistem Grab makin berkembang, dari yang tadinya mobilitas kini semakin 'menggurita'; menjadi layanan ekosistem digital yang lengkap. Bagaimana Anda mendefinisikan era ke depannya bagi ekosistem Grab?
Grab berawal dari gagasan sederhana yang muncul ketika salah satu co-founder kami, Tan Hooi Ling, melihat adanya tantangan dan keterbatasan dalam mobilitas sehari-harinya.
Saat itu, muncul pemikiran tentang bagaimana teknologi dapat membantu masyarakat mengakses layanan mobilitas dengan lebih mudah dan efisien. Pada saat yang sama, kami juga ingin membuka peluang ekonomi bagi lebih banyak orang.
Dari gagasan sederhana tersebut, perjalanan Grab kemudian dimulai. Seiring dengan perkembangannya, pendekatan kami tetap berfokus pada stakeholder centricity dan memahami kebutuhan para pemangku kepentingan. Kami berusaha memahami kebutuhan mereka dan menghadirkan inovasi yang relevan dengan berbagai momen dalam kesehariannya.
Mulai dari pengguna, misalnya. Kami berpikir bagaimana caranya agar layanan Grab dapat menjadi DNA dari kebutuhan setiap pengguna. Pada pagi hari, seseorang mungkin membutuhkan layanan transportasi untuk pergi ke kantor. Di waktu lain, mereka membutuhkan makanan, sehingga kami menghadirkan GrabFood. Ketika mereka perlu mengirim barang, kami menyediakan GrabExpress. Layanan-layanan tersebut hadir karena kami melihat kebutuhan nyata di tengah masyarakat.
Demikian pula dengan Mitra Pengemudi dan Mitra Merchant. Kami ingin memastikan mereka dapat memanfaatkan teknologi dan ekosistem Grab untuk mendukung aktivitas serta mengembangkan peluang mereka.
Pada masa pandemi COVID-19, misalnya, kami berupaya membantu Mitra Pengemudi agar tetap memiliki peluang memperoleh pendapatan. Saat itu, layanan pengantaran penumpang mengalami pembatasan. Pada saat yang sama, konsumen tetap membutuhkan akses terhadap kebutuhan sehari-hari, sementara layanan tersebut belum tersedia. Karena itu, kami kemudian menghadirkan GrabMart.
Sementara dalam hal pembayaran, OVO mulai hadir pada 2017. Kami juga melihat adanya kebutuhan untuk memperluas akses pembiayaan bagi Mitra Pengemudi dan Mitra Merchant. Melalui ekosistem Grab dan OVO Finansial, kami berupaya menghadirkan akses pembiayaan yang inklusif dan sesuai dengan kebutuhan mitra, termasuk melalui GrabModal Mantul.
Pendekatan kami tidak hanya berfokus pada penyediaan modal, tetapi juga pada pemahaman mengenai kapan pembiayaan dibutuhkan, produk apa yang sesuai, serta bagaimana pembiayaan tersebut dapat dimanfaatkan secara produktif.
Seiring dengan perkembangan teknologi, kemampuan teknologi Grab juga terus berkembang, termasuk melalui pemanfaatan AI. Misalnya, kami menghadirkan Merchant AI Assistant untuk membantu Mitra Merchant menganalisis dan memahami kinerja usahanya. Bahkan, para Mitra Merchant bisa naik nilai transaksinya rata-rata sampai 15%.
Bagi Mitra Pengemudi, Driver AI Assistant dapat membantu memberikan informasi mengenai area dengan permintaan layanan yang tinggi serta mendukung mereka dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Terakhir, bagi konsumen, kami juga terus mencari cara untuk menghadirkan pengalaman yang lebih praktis. Misalnya, melalui GrabMart, pengguna dapat menulis daftar belanja di selembar kertas, kemudian mengambil gambarnya. Setelah dipindai, daftar tersebut dapat diproses secara otomatis.
Arahnya kemana itu? Kita akan melihat dari lifecycle konsumen, dari bangun tidur sampai tidur dalam setiap kegiatan. Jadi kalau mau nanya Grab bakal kemana, tentunya akan terus berkembang, tapi selalu kita akan berpikir what is good for our stakeholders.
Ke depan, Grab akan terus berkembang dan melihat kebutuhan konsumen dari berbagai tahap siklus kehidupan dan rutinitas hariannya. Namun, pertanyaan yang selalu kami ajukan adalah, what is good and relevant for our stakeholders?
Dari beberapa sources, Ibu Neneng disebut menggambarkan karier sebagai sebuah knowledge marathon, bukan sekadar sprint. Apakah filosofi tersebut juga memengaruhi cara Anda mengambil keputusan, membangun organisasi, dan menentukan prioritas di perusahaan teknologi yang harus bergerak sangat cepat?
Sebenarnya, saya selalu menyebutnya sebagai sprint sekaligus maraton. Bukan hanya sprint dan bukan hanya maraton. Sprint dalam sebuah maraton justru lebih menantang karena membutuhkan stamina yang kuat.
Ada beberapa alasan. Pertama, teknologi berkembang sangat cepat. Kalau kita tidak mengikuti perkembangan teknologi, kita akan tertinggal. Namun, yang lebih penting adalah memahami manfaat dan dampak dari teknologi tersebut.
Kedua, kebutuhan dan ekspektasi konsumen terus berkembang. Dulu, pengiriman barang dalam waktu satu atau dua hari mungkin sudah dianggap cukup. Sekarang, konsumen menginginkan layanan yang lebih cepat dan praktis. Begitu juga ketika mereka menunggu taksi atau kendaraan. Jika waktu tunggunya terlalu lama, mereka akan mencari pilihan lain.
Hal yang sama berlaku bagi Mitra Pengemudi dan Mitra Merchant. Ekspektasi mereka juga terus berkembang sesuai dengan kebutuhan. Karena itu, inovasi menjadi bagian penting dalam perjalanan Grab. Kami perlu terus memahami perubahan kebutuhan para pemangku kepentingan dan menerjemahkannya ke dalam strategi.
Inilah yang kami sebut sebagai sprint-marathon, yaitu terus bergerak, beradaptasi, dan menangkap berbagai peluang yang muncul.
Saya juga mendengar bahwa Ibu memegang prinsip kepemimpinan Jawa, yaitu nguwongke, yang menekankan empati, kepercayaan, dan psychological safety. Di sisi lain, Ibu menyebut bahwa kita perlu bergerak seperti sprint sekaligus maraton. Sementara itu, setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda. Bagaimana prinsip tersebut diterapkan agar seluruh tim tetap berjalan searah?
Justru prinsip tersebut yang saya terapkan dalam memimpin, yaitu bagaimana memimpin dengan hati dan memanusiakan orang lain.
Meskipun kita perlu bergerak cepat, semuanya akan menjadi lebih mudah jika dilakukan bersama-sama dan setiap orang merasa memiliki. Ketika mereka merasa memiliki tujuan yang sama, tantangan yang awalnya terasa sulit dapat dihadapi bersama.
Saya berusaha memahami pola pikir dan perasaan setiap anggota tim. Itulah makna nguwongke bagi saya. Saya mendengarkan dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar mendengar. Saya juga berusaha melibatkan tim dan memberikan kepercayaan kepada mereka.
Ketika seseorang merasa didengar dan dilibatkan, mereka akan merasa menjadi bagian dari tim. Setelah merasa menjadi bagian dari tim, mereka akan memiliki tujuan bersama yang ingin dicapai. Kami ingin mencapai tujuan tersebut bersama-sama.
Anda pernah menyampaikan bahwa AI merupakan enabler. Manusia tetap fokusnya. Bagaimana Grab memastikan keberimbangan perkembangan teknologi, termasuk AI, dan peningkatan peran dan peluang bagi pengguna, mitra pengemudi, serta mitra merchant?
Kami menyebutnya sebagai AI-first with Heart. AI merupakan enabler yang membantu kita bergerak lebih cepat. Namun, manusia tetap menjadi fokus utama.
Sebagai manusia dan karyawan Grab, kita perlu belajar hidup berdampingan dengan AI. Bagaimanapun, kita harus dapat memanfaatkan teknologi tersebut dengan bijak dan memaksimalkan manfaat yang dihasilkannya.
Itulah yang kami lakukan bersama-sama. AI membantu mempercepat berbagai proses. Misalnya, dulu ketika saya ingin menganalisis sesuatu, saya perlu meminta bantuan orang lain. Sekarang, dengan adanya AI, saya dapat melakukan analisis awal secara mandiri sehingga prosesnya menjadi lebih cepat.
Namun, setelah itu, saya tetap perlu berdiskusi dengan tim untuk mendapatkan perspektif dan masukan mereka. Jadi, teknologi AI membantu kita bergerak lebih cepat, tetapi peran manusia tetap penting dalam memberikan pertimbangan dan mengambil keputusan.
Khusus teknologi AI untuk mitra driver, apa yang bisa Grab kembangkan agar mereka menjadi lebih berdaya?
Sebelum teknologi berkembang seperti sekarang, kita terlebih dahulu berbicara tentang digitalisasi. Tanpa disadari, perusahaan teknologi seperti Grab turut membantu masyarakat mengenal dan menggunakan teknologi digital.
Dulu, mungkin banyak orang belum membayangkan bahwa teknologi dapat digunakan untuk mendukung aktivitas sehari-hari. Kini, teknologi digital semakin mudah diakses oleh berbagai kalangan, termasuk Mitra Pengemudi dan Mitra Merchant. Melalui akses digital, semakin banyak orang memiliki kesempatan untuk mengembangkan aktivitas dan memperoleh penghasilan.
Secara tidak langsung, perusahaan teknologi turut membantu meningkatkan literasi digital masyarakat, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lainnya.
Hal yang sama juga berlaku untuk AI. Melalui fitur seperti Driver AI Assistant, misalnya, kami membantu Mitra Pengemudi berinteraksi dan berkomunikasi dengan teknologi AI. Dengan begitu, mereka dapat belajar menggunakan AI dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi secara bertahap.
Demikian pula dengan Mitra Merchant. Yang kami maksud bukan hanya merchant berskala besar, tetapi juga para pelaku usaha kecil dan UMKM. Mereka dapat belajar memanfaatkan AI untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan usaha.
Tanpa kita sadari, teknologi tersebut perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Terkadang, proses ini dianggap biasa saja, padahal dibutuhkan waktu dan pengalaman untuk membangun kebiasaan baru.
Dulu, orang mungkin masih ragu ketika membuka aplikasi karena khawatir melakukan kesalahan. Sekarang, banyak orang sudah semakin terbiasa menggunakan teknologi digital. Hal yang sama juga akan terjadi dengan AI.
Jadi literasi digital itu dilakukan secara 'tidak sengaja' turut tersalurkan dan berkembang lewat program-program Grab?
Betul. Kami memperkenalkan teknologi secara bertahap dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Termasuk juga dengan AI. Ketika masyarakat diberi kesempatan untuk mencoba teknologi secara langsung, proses belajar dan adaptasi dapat berlangsung secara alami tanpa terasa seperti pelatihan. Melalui pendekatan ini, kami berharap masyarakat semakin familiar dan nyaman dalam memanfaatkan teknologi.
