10 Tahun Halodoc, ke Mana Arah Platform Digital Kesehatan?
Jakarta -- Halodoc, platform digital kesehatan, menginjak usia satu dekade. Saat kecerdasan buatan (AI) hadir, adaptasi dengan kemajuan teknologi jadi pilihan rasional sambil tetap fokus pada kebutuhan pasien serta perkembangan dokter.
Alfonsius Timboel, Chief Operating Officer Halodoc, mengatakan pihaknya sejak awal berupaya membangun ekosistem kesehatan. Artinya, ekosistem ini tak bisa hidup tanpa para tenaga kesehatan dan pasien yang percaya pada Halodoc.
"Jadi inovasi kita selanjutnya itu kita pusatkan kepada yang men-support ekosistem kesehatan ini," ujar dia, dalam Media Gathering Spesial Anniversary ke-10 Halodoc dan talkshow, di Jakarta, Senin (25/5/2026).
"Karena ekosistem baru akan terbentuk kalau mereka sama-sama berpartisipasi dan punya misi yang sama," lanjutnya.
Pertama, dari sisi pasien. Alfons menjabarkan bahwa Halodoc beradaptasi dengan era AI lewat peluncuran Halodoc InteLligent Digital Assistant (HILDA) pada 2025. Diletakkan di bagian tengah bawah aplikasi, asisten virtual ini bertugas memberi informasi medis yang membantu mengarahkan pengguna untuk mendapatkan layanan medis yang tepat.
Diawasi oleh Board of Medical Excellence (BoME), HILDA punya keunggulan dalam hal spesifikasi kebutuhan kesehatan warga Indonesia. Pasalnya, kata Alfons, basis data HILDA adalah interaksi pasien-dokter di Halodoc, literatur kesehatan medis di Indonesia, hingga referensi obat.
"HILDA tahu cara kerja kesehatan apa yang boleh dan yang enggak boleh. AI dari luar sana belum tentu tahu, hanya informasinya. Ini ada akselerasi untuk action. Dan tetap sesuai dengan misi kami untuk memudahkan akses kesehatan menjadi lebih gampang. Jadi tidak hanya informasi, tapi juga solusi," tuturnya.
Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc, mengungkap HILDA saat ini mencatatkan lebih dari 2 juta sesi interaksi pengguna. Mereka umumnya mencari bantuan untuk menavigasi layanan Halodoc seperti dokter spesialis yang sesuai, informasi kesehatan sehari-hari, serta informasi obat dan vitamin.
Halodoc pun melebarkan sayap dengan membawa HILDA ke WhatsApp, yang menurut We Are Social, 2025, merupakan platform yang digunakan sekitar 91% pengguna internet Indonesia, atau setara 185–190 juta pengguna.
Melalui Halodoc on WhatsApp, yang dirilis bertepatan dengan HUT ke-10 Halodoc ini, masyarakat dapat mengakses informasi kesehatan tanpa perlu mengunduh aplikasi, mendapat jaminan 100% produk asli, hingga pengiriman obat dalam waktu satu jam.
Fibri menambahkan Halodoc juga meluncurkan Family Care, fitur terintegrasi yang dirancang khusus untuk para caregiver keluarga, terutama kaum perempuan.
Data Halodoc menunjukkan bahwa 65% penggunanya adalah caregiver yang didominasi oleh para ibu. Sementara, Indonesia Health Insights Report 2025 mengungkap bahwa 74% ibu di Indonesia mengelola kesehatan tiga anggota keluarga atau lebih. Namun, menurut Indonesia Health Insights Report, 2025 – Wellness Warrior in Silence, hanya 17% dari waktu mereka dialokasikan untuk kesehatan diri sendiri.
Fitur Family Care, lanjut Fibri, memungkinkan pengguna menambahkan profil terpisah untuk setiap anggota keluarga, dengan rekam medis, riwayat kesehatan, jadwal, dan perawatan preventif masing-masing yang terdokumentasi dalam satu tampilan terintegrasi.
Ke depannya, Halodoc akan mengakomodasi usulan para ibu muda untuk memasukkan fitur pemantauan perkembangan anak, termasuk data vaksinasi, ke dalam Family Care.
"Ini sebuah kebutuhan yang jelas dan sangat dinanti-nanti dan insyaallah akan diluncurkan dalam waktu dekat," ungkap Fibri.
Ekosistem Nakes
Kedua, dari sisi penyedia layanan, Halodoc mengaku akan terus meningkatkan kualitas layanan medis yang diberikan oleh tenaga kesehatan (nakes), termasuk dokter, apoteker, hingga bidan.
Salah satunya melalui Halodoc Academy, yang merupakan ajang pembelajaran terakreditasi Kementerian Kesehatan dan menyediakan program peningkatan kompetensi sekaligus perolehan Satuan Kredit Profesi (SKP). Hingga kini, Halodoc Academy telah diikuti oleh lebih dari 123.000 peserta dan menggelar 180 pelatihan nakes.
Ada pula teknologi AI Doctor Assistant (AIDA) yang menjadi alat pendamping dokter dan tenaga kesehatan lainnya. AI ini berguna untuk melakukan hal-hal yang sifatnya administratif seperti merangkum percakapan dengan pasien hingga mengecek rekam medis.
"AI itu, kita memandang, tidak untuk menggantikan dokter, tapi bagaimana membantu dokter bisa lebih baik lagi memberi layanan untuk mereka (pasien)," ungkap Alfons.
Seluruh inovasi Halodoc itu berada dalam pengawasan klinis Board of Medical Excellence (BoME), untuk memastikan standar kualitas dan kepatuhan terhadap regulasi. Menurut dr. Irwan Heriyanto, MARS, Chief Medical Officer Halodoc, BoME ini memberi keseimbangan dalam hal inovasi teknologi dan kesehatan pasien.
"Kita tidak berubah mengenai pasien safety. Itu dulu deh. Karena layanan apa pun yang terkait masalah kesehatan, fokus kita adalah pasien safety, pasien harus aman. Seminimal mungkin, se-zero mungkin, itu tidak ada kesalahan yang terjadi antara terapi yang diberikan oleh dokter kepada pasien. Itu yang kami jaga betul," tutup dr. Irwan.
