SD Inpres Mendunia Berkat Penerima Nobel

Oleh Andrea Lidwina, 19/10/2019, 07.44 WIB

Program SD Inpres dilaksanakan seiring bonanza minyak pada awal 1970-an yang mendongkrak penerimaan negara hingga 619 persen.

Unduh Infografik
Share

Esther Duflo, salah satu penerima Nobel Ekonomi 2019, pernah meneliti soal SD Inpres di Indonesia. Menurutnya, program SD Inpres salah satu contoh berhasil intervensi pemerintah yang dilakukan secara massif dalam meningkatkan pendidikan dan ekonomi masyarakat di Indonesia.

(Baca: Nobel Ekonomi untuk Perangi Kemiskinan Global)

Program SD Inpres dilaksanakan sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 1973 dengan membangun fasilitas pendidikan untuk memperluas kesempatan belajar masyarakat. Program ini terlaksana berkat berkah kenaikan harga minyak yang meningkatkan pendapatan negara hingga 619 persen.

(Baca: Sri Mulyani Kecewa dengan Sistem Pendidikan padahal Anggarannya Besar)

Sepanjang periode 1973-1979, pemerintah membangun sebanyak 61,8 ribu sekolah. Termasuk penyediaan guru dan kepala sekolah, buku pelajaran, perpustakaan, dan air bersih.

Dampaknya, Angka Partisipasi Murni (APM) SD mencapai 99,6 persen pada 1988. Lalu, masyarakat yang buta aksara menurun hingga 15,8 persen pada 1990. Lama masa pendidikan pun berdampak pada peningkatan upah sebesar 3-5,4 persen. Sayangnya, program ini dinilai tidak berdampak pada kualitas pendidikan.