Pro-Kontra eSports: Antara Olahraga dan Sekadar Hobi

Oleh Yosepha Pusparisa, 7/2/2020, 09.32 WIB

Indonesia merupakan pasar gim terbesar di Asia Tenggara dengan pendapatan mencapai Rp 15,4 triliun pada 2018.

Unduh Infografik
Share

Indonesia merupakan pasar gim terbesar di Asia Tenggara. Dengan 43,7 juta pemain, diperkirakan pendapatan dari pasar gim mencapai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 15,4 triliun (kurs Rp 13.600/ US$) pada 2018. Pendapatan tersebut meningkat 25 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya.

(Baca: Langkah Panjang Gim Lokal Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri)

Salah satu upaya untuk meningkatkan pasar gim di tanah air, pemerintah mendorong ajang kompetisi electronic sports (eSports). Bahkan kompetisi ini telah dilombakan dalam Asian Games 2018 lalu di Jakarta. Para atlet eSports Indonesia pun dianggap mampu bersaing di kancah internasional, sama seperti olah raga tradisional.

(Baca: Ini Daftar Penghasilan YouTuber Gim Seperti Kimi Hime)

(Baca: Penikmat Esports Dunia Semakin Tinggi)

ESports memang telah diakui Pemerintah Indonesia, tapi masih menimbulkan persoalan apakah termasuk olahraga atau sekadar hobi. Industri ini belum didukung regulasi serta tak melibatkan kekuatan fisik seperti olahraga tradisional. Sebaliknya, eSports mengandalkan kemampuan motorik dan menghasilkan detak jantung tinggi layaknya atlet maraton.

(Baca: 10 Gim Favorit Penonton Esports 2019)

“Bahkan para atlet eSports harus menjaga pola makan dan kandungan gizi mereka. Para atlet tidak boleh makan dan minum sembarangan karena atlet eSports juga dilakukan tes doping, sama seperti atlet lainnya,” ujar Imam Nahrawi kala masih menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga, pada Desember 2018 lalu.