INFOGRAFIK: Defisit Perdagangan Pertama Indonesia Selama 72 Bulan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan defisit perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026. Ini adalah defisit perdagangan pertama sejak April 2020 dan tercuram sejak April 2019 yang sebesar US$2,3 miliar.
“Defisit pada Mei 2026 disebabkan terutama oleh komoditas migas sebesar US$3,76 miliar, dengan penyumbang defisit yakni hasil minyak dan minyak mentah,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Rabu, 1 Juni.
Impor hasil minyak bahkan naik 99,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada periode yang sama, impor sejumlah komoditas non-migas juga tercatat mengalami kenaikan, seperti peralatan mesin, besi dan baja, hingga plastik.
Di sisi lain, kinerja ekspor Indonesia melemah. Total ekspor pada Mei 2026 mencapai US$23,2 miliar atau turun 5,7% year-on-year di tengah perlambatan permintaan global. Sektor utama penopang ekspor Indonesia kompak turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mulai dari industri pengolahan, pertanian, hingga pertambangan.
Defisit perdagangan ini menjadi salah satu alarm tertekannya industri manufaktur tanah air. Ini tidak hanya tercermin di neraca perdagangan, tetapi juga pada indeks PMI Manufaktur Indonesia. Pada Juni 2026, Purchasing Manager’s Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun ke level kontraksi 46,9. Ini adalah level terendah sejak Juni 2025.
S&P Global menyorot, penyebab utama penurunan PMI Manufaktur Indonesia adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan barang baru bahkan turun dengan laju tercepat dalam setahun. Penurunanan ini dinilai terkait dengan pelemahan daya beli, utamanya karena tekanan harga.
“Penurunan total pesanan baru diikuti oleh penurunan lanjutan pada pesanan ekspor baru. Penurunan permintaan ekspor baru merupakan yang paling tajam sejak bulan Agustus 2021,” tulis laporan S&P Global.
Untuk diketahui, Indonesia juga mencatatkan inflasi 3,08% year-on-year pada Mei 2026. Inflasi ini memberi sinyal kenaikan harga bahan baku industri, dan di saat yang sama, dapat berakibat beruntun pada penurunan daya beli masyarakat.
