KOMIK: MBG di Desa untuk Siapa?
Pernyataan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto yang menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat dibutuhkan masyarakat desa sempat menuai kontroversi. Pasalnya, desa selama ini justru dikenal sebagai sumber keragaman pangan lokal.
Akhir Juni, Yandri sempat menyebut program MBG bermanfaat baik untuk ekonomi desa maupun untuk penerima manfaat. Ia menambahkan, selama ini warga desa jarang bisa makan telur ayam dan daging ayam.
“MBG itu untuk rakyat di desa itu sangat memerlukan, karena jarang selama ini penduduk desa setiap minggu bisa makan telur, daging ayam, dan sebagainya. Semenjak ada MBG, alhamdulillah mereka mengalami manfaatnya,” kata Yandri setelah rapat koordinasi bersama 10 asosiasi desa di kantor Kemendes, Selasa, 23 Juni.
Pemerintah sebelumnya menyebut peran krusial program MBG di desa tidak hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga instrumen pemberdayaan ekonomi desa, ketahanan pangan, pembangunan desa yang berkelanjutan, dan investasi jangka panjang sumber daya manusia.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2025 menunjukkan rata-rata konsumsi protein warga perdesaan mencapai 62,80 gram per hari. Jumlah ini memang sedikit lebih rendah dibandingkan konsumsi protein warga perkotaan yang sebesar 64,71 gram.
Namun, jika dibedah berdasarkan olahan protein rumahan (home cooked food) atau olahan protein jadi (prepared food), warga desa lebih banyak mengonsumsi olahan protein rumahan dibandingkan warga kota. Warga desa rata-rata mengonsumsi 49,79 gram olahan protein rumahan per hari, sedangkan warga kota hanya 48,01 gram per hari. Sebaliknya, warga kota lebih banyak mengonsumsi olahan protein jadi dibandingkan warga desa.
Sumber olahan protein warga desa juga lebih beragam. Warga desa cenderung lebih banyak makan ikan, udang, cumi, kerang, kacang-kacangan, sayuran, termasuk juga ayam kampung dan telur ayam kampung.
