Mengenal PM 2.5 dan PM 10, Partikel Berbahaya bagi Tubuh

PM 2.5 bisa meningkat karena udara panas, kebakaran, dan polusi lingkungan. Jika dihirup, partikel udara ini bisa berbahaya bagi tubuh, terutama bagi paru-paru dan jantung.
Dwi Latifatul Fajri
27 September 2021, 14:55
Perbedaan PM 2.5 dan PM 10
pixabay.com

Tanpa disadari kita menghirup polusi udara berbahaya bagi tubuh ketika bepergian. Salah satu partikel udara yang kita hirup disebut PM 10 dan PM 2.5. Nama partikel ini mungkin jarang terdengar di telinga, namun istilah ini sering muncul di artikel sains dan kesehatan.

PM 2.5 bisa meningkat karena udara panas, kebakaran, dan polusi lingkungan. Jika dihirup, partikel udara ini bisa berbahaya bagi tubuh, terutama paru-paru dan jantung. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memantau kualitas PM 2.5 sejak 2015.

Pengertian PM 2.5

PM 2.5 mengacu pada materi partikulat atmosfer atau particulate matter (PM). PM 2.5 adalah polutan udara yang berukuran sangat kecil, sekitar 2,5 mikron (mikrometer). Diameter partikel ini lebih kecil daripada 3% diameter rambut manusia.

Mengutip dari Epa.gov, istilah PM (disebut juga polusi partikel) merupakan istilah untuk campuran partikel padat dan cair yang ditemukan di udara. Adapun bentuk partikel ini seperti debu, kotoran, jelaga, dan asap.

Jika dilihat dengan mata telanjang, PM 2.5 terlihat gelap dan kabur. Partikel satu ini bisa dilihat jelas jika memakai mikroskop elektron. PM.25 sendiri terbentuk dan terdiri dari ratusan bahan kimia berbeda.

PM 2.5 dibentuk di atmosfer karena reaksi bahan kimia seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Polutan ini terbentuk dari pembuangan pembangkit listrik, industri, dan mobil. PM juga dipancarkan langsung dari ladang, cerobong asap, dan pembuatan jalan memakai aspal.

Sumber PM 2.5

Sebagian polutan terdiri dari cairan yang disebut aerosol. Jenis aerosol alami yaitu:

  • Garam laut
  • Debu
  • Abu vulkanik

Sumber buatan:

  • Pembakaran batu bara
  • Pembakaran hutan
  • Pembakaran biomassa seperti pertanian dan pembukaan lahan

Nilai Ambang Batas (NAB) adalah batas konsentrasi polusi udara yang diperbolehkan berada dalam udara ambien. NAB PM2.5 = 65 µgram/m3.

Level Kualitas Udara 

BMKG membagi level polusi udara PM 2.5 di Indonesia yaitu:

  • Level baik: 0-15 µgram/m3.
  • Level sedang: 16-65 µgram/m3.
  • Tidak sehat: 66-150 µgram/m3.
  • Sangat tidak sehat: 151-250 µgram/m3.
  • Level berbahaya: >250 µgram/m3.

Kualitas udara PM 10 Berdasarkan EPA (Environmental Protection Agency)

  • Level Baik: kurang dari 40 µgram/m3.
  • Level sedang: 40-80 µgram/m3.
  • Level buruk: 80-120 µgram/m3.
  • Level sangat buruk: 120-300 µgram/m3.
  • Level berbahaya: lebih dari 300 µgram/m3.

Perbedaan Level PM 2.5 dan PM 10

1. Berdasarkan ukuran

PM 10 adalah partikel udara berukuran 10 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini ditemukan pada debu dan asap. Sedangkan PM 2.5 merupakan partikel berukuran 2.5 mikron (mikrometer). Kedua partikel ini lebih kecil dari diameter rambut manusia yang berukuran 50-70 mikrometer.

2. Sumber emisi

PM 2.5 dibentuk dari emisi pembakaran bensin, minyak, bahan bakar, dan kayu. Sementara itu, PM 10 ditemukan pada tempat pembangunan, pembuangan sampah, pertanian, kebakaran hutan, debu, serbuk sari, dan fragmen bakteri.

Mengutip dari Arb.ca.gov, PM terbentuk langsung dari sumbernya. Selain sulfur oksida dan nitrogen oksida, partikel udara ini bisa terbentuk dari sumber alami seperti pohon dan tempat tumbuhnya berbagai tanaman (vegetasi).

3. Dampak kesehatan

Pm 2.5 dapat mengendap di permukaan dan bagian paru-paru dalam. Sedangkan PM 10 mengendap di saluran udara yang lebih besar di paru-paru. Kedua polutan ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan inflamasi paru.

Efek jangka pendek (sampai 24 jam) dari PM 2.5 yaitu penyakit jantung, paru-paru, bronkitis, dan serangan asma. Efek kesehatan ini berdampak pada bayi, anak-anak, dan orang dewasa yang lebih tua.

Efek jangka panjang dari menghirup PM 2.5 bisa bertahun-tahun bahkan berpotensi menyebabkan kematian dini, penyakit jantung, paru kronis, serta terjadi penurunan fungsi paru-paru pada anak.

Dampak kesehatan jangka pendek PM10 berhubungan dengan penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Jika terpapar jangka panjang, PM 10 dapat menyebabkan kematian. Menurut Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC), polusi udara di luar ruangan dapat menyebabkan kanker paru-paru.

4. Dampak lingkungan

PM 2.5 dapat mempengaruhi cara pandang mata, karena cahaya diserap dan dihamburkan di atmosfer. PM juga mendorong pemanasan global dan berpengaruh pada udara dingin. Polusi lingkungan ini berpengaruh buruk pada tanah dan kejernihan air. Selain itu, kandungan senyawa logam pada partikel udara dapat mengubah pertumbuhan dan hasil tanaman.

5. Partikel udara dalam rumah

PM 2.5 dapat ditemukan di bagian pintu, jendela, dan kaca. Beberapa polusi udara dapat ditemukan dari serbuk sari, spora jamur, tungau debu, dan kecoa. Kegiatan dalam rumah seperti merokok tembakau, memasak dan membakar kayu, lilin atau dupa juga meningkatkan polusi udara. Selain itu, partikel udara bisa terbentuk dari penyegar udara dan produk pembersih rumah tangga.

Editor: Intan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait