3 Contoh Cerpen Pendidikan Singkat dan Inspiratif

Cerpen merupakan cerita pendek dan alurnya maju. Cerpen berfokus pada satu tokoh saja, sedangkan penggambaran tokoh lain kurang mendalam. Berikut contoh cerpen pendidikan singkat inspirasi menulis.
Dwi Latifatul Fajri
15 Desember 2022, 19:20
Contoh Cerpen Pendidikan
pexels
Ilustrasi menulis cerpen

Cerpen adalah cerita pendek yang terdiri dari 250 sampai 750 kata. Batas maksimal penulisan cerpen mencapai 10.000 kata atau 10 halaman. Jika lebih dari itu, disebut cerpen atau cerita yang panjang.

Cerpen termasuk karya sastra seperti novel, puisi, pantun, dan prosa. Biasanya cerpen diterbitkan dalam buku kumpulan cerpen. Bahasa yang digunakan dalam cerita pendek mudah dipahami oleh pembaca. Dalam cerpen fokus pada satu tema dan plotnya jelas. Meski sifatnya fiktif (khayalan), pembuatan cerpen berdasarkan realita yang terjadi.

Ada berbagai tema yang bisa diambil dalam cerpen. Salah satunya cerpen tema pendidikan. Cerita pendek ini memuat kisah perjuangan seseorang berkaitan dengan pendidikan. Berikut contoh potongan cerpen pendidikan mengutip dari Antologi Cerpen Pejuang Pendidikan.

Contoh Cerpen Pendidikan

1. Utopia Putih Merah

Karya Lee Ann Naa

Dari balik tirai jendela yang lusuh, sepasang mata kecil menatap awas. Pandangannya tidak terlepas dari lapangan bola, tepat 10 meter di depan rumahnya. Sudah setengah jam gadis it mengawasi. Bukan gerak-gerik bola. Bukan pula para pemain bola berseragam putih merah, karena di sana hanya ada bayangan kosong dan keheningan.

Sepasang mata kecil itu mengerjap. Isi kepala si gadis kecil penuh pertanyaan tak terungkap. Hari-harinya telah berubah. la tak lagi ikut ibunya ke sekolah untuk berjualan di kantin. la tidak lagi dibonceng Ayah keliling perumahan di sore hari. la tak lagi melihat anak-anak berseragam putih merah berteriak sambil berebutan bola sepak di depan rumahnya.

Hari itu, seharusnya menjadi hari pertama ia masuk sekolah dasar. Hari itu, seharusya untuk pertama kalinya ia mengenakan seragam putih merah yang selalu didamkannya.

Tapi, hari itu semua berbeda dari bayangannya.
Sejak pagi, ibunya menangis di kamar. Masih berdaster
Hello Kitty, gadis itu hanya berdiri di balik tirai jendela rumah, memeluk guling kempes kesayangannya.

Perut lapar, tapi pagi itu a tidak menemukan susu dan roti di meja makan, seperti yang biasa ibunya siapkan. Mendadak, rumahnya penuh orang-orang. la mengenal dua atau tiga orang dari mereka, meskipun ada sepotong kain hijau menutup hidung dan mulut mereka.

2. Aku Tak Pernah Punya Cita-Cita

Karya Asep Sukirman

"Kenapa diam saja? Gak mau pulang, ya?"
Setengah jam berlalu saat teman-teman satu kelasku sudah pulang setelah menjawab pertanyaan yang sakral dan suci. Tersisa aku, guruku, dan seluruh perabotan kelas. Padahal hati dan pikiranku melayang-layang mencari jawaban yang pas dan sakti agar Ibu Ema, perempuan anggun berkerudung panjang idaman setiap Bapak-bapak guru itu, banga atas jawaban yang aku berikan.

BRAAK..!!!

Membuatku terlonjak tingkat pusat. Menganga dan terpaku. Sosok Bu Ema berdiri tegap di depanku. Kecut dan penuh ambisi terpancar dari wajahnya. Ya, dia menggebrak meja sedemikian keras sebab aku melamun jauh sekali. Teramat jauh, hampir tersesat.

"Kalau gak mau jawab, pulang saja! Masih kecil kok melamun!" Nada marahnya membuat ciut nyali pria manapun yang ingin melamarnya. Tergesa-gesa pula kurapikan tas dan segera lari keluar kelas tanpa sepatah kata pun. Namun, di ambang pintu kakiku berhenti dengan sendirinya seraya menoleh Bu Ema yang berdiri membelakangi.

3. Bertaruh dengan Masa Depan

Karya Noor Cholis Hakim

"Masih ada Tuhan di atas sana. Ingat, kamu tidak sendiri. Namun, kamu harus beradaptasi, sebab dunia tak selamanya teduh."

Ucapan itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Masuk ke pelosok telinga. Lantas, diputar berulang-ulang di dalam sana. Suara serak-serak basah yang biasanya renyah untuk didengar. Kini membuatku sedikit bergidik ngeri. Menyergap dalam rasa panik.

Namun, cepat atau lambat, sementara atau selamanya. Aku bisa mencerna dengan baik kalimat itu. Terima kasih, Kakek.

"Baiklah, pertemuan hari ini sampai di sini saja. Jaga kesehatan kalian selalu! Wassalamualaikum,
lebih cepat dari biasanya". Video konferensi hari ini selesai Sepekan lalu, bukan sepekan lalu, lebih tepatnya hampir setahun yang lalu. Pandemi menyergap seluruh penjuru dunia.

Pendidikan harus terhambat. Mengharuskan pembelajaran dilaksanakan secara online. Meski semuanya terasa lambat, tapi inilah kehidupan saat ini. Hendak mengingkarinya sudah tak kuasa. Munafik.

Editor: Intan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait