Terdongkrak E-Commerce, Jasa Pengiriman Paxel, J&T, Ninja Kompak Naik

Jasa pengiriman logistik Paxel, J&T, hingga Ninja Xpress mencatatkan peningkatan pengiriman barang selama pandemi dan PPKM Darurat.
Image title
9 Juli 2021, 19:54
Pekerja menyortir paket untuk dikirim ke alamat tujuan di Gudang SiCepat Hub, Pluit, Jakarta, Jumat (7/5/2021). Menurut jasa pengiriman tersebut menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah terjadi peningkatan pengiriman barang dari 800 ribu paket menjadi
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Pekerja menyortir paket untuk dikirim ke alamat tujuan di Gudang SiCepat Hub, Pluit, Jakarta, Jumat (7/5/2021). Menurut jasa pengiriman tersebut menjelang Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriah terjadi peningkatan pengiriman barang dari 800 ribu paket menjadi kurang lebih 1,8 juta paket dalam sehari.

Perusahaan jasa pengiriman logistik Paxel, J&T, hingga Ninja Xpress mencatatkan peningkatan pengiriman barang selama pandemi dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat mikro. Di mana, sektor e-commerce menjadi pendorong peningkatan pengiriman tersebut.

Co-founder Paxel Zaldy Ilham Masita mengatakan, layanan pengiriman sameday delivery di Paxel mengalami peningkatan sejak diberlakukannya PPKM darurat. "Terus meningkat sampai lebih dari 30% dibandingkan sebelum PPKM," katanya kepada Katadata.co.id, Jumat (9/7).

Begitu juga dengan J&T. CEO J&T Express Robin Lo mengatakan bahwa perusahaan mencatatkan peningkatan pengiriman selama masa PPKM darurat. Peningkatan terjadi karena pembatasan mobilitas khususnya di kota besar.

Selain itu, PPKM darurat membuat transaksi e-commerce meningkat. Alhasil, itu berpengaruh pada pengiriman barang yang menggunakan jasa pengiriman logistik seperti J&T. Di mana, sekitar 70% pengiriman di J&T berasal dari e-commerce.

Advertisement

"E-commerce menjadi sektor utama peningkatan pengiriman," ujar Robin.

CMO Ninja Xpress Andi Djoewarsa juga menyatakan hal serupa. Selama pandemi, pengiriman barang di Ninja Xpress didominasi oleh paket ukuran kecil seperti kosmetik, aksesoris fashion, baju, jam tangan, kacamata dan lain-lain.

"Kami pun menyesuaikan tren pasar e-commerce saat ini, karena itu menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan logistik," kata Andi.

Sektor logistik berhasil mendulang untung dari tingginya transaksi e-commerce selama pandemi. Facebook dan Bain & Company memperkirakan, nilai transaksi belanja online di Indonesia hampir US$ 72 miliar atau sekitar Rp 1.044 triliun di 2025. Angka itu melonjak dibandingkan proyeksi awal US$ 48 miliar atau berkisar Rp 696 triliun. 

Hal tersebut didukung pendapatan pasar logistik yang diprediksi meningkat, termasuk angkutan barang, pergudangan, kurir, ekspres, dan parsel. Kemudian, terdapat nilai tambah layanan dan segmen logistik rantai dingin (cold chain logistics segments).

"Masyarakat mengurangi pertemuan fisik dan mengandalkan pengiriman via logistik untuk sektor makanan, bisnis, dan lainnya," kata CEO Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro kepada Katadata.co.id, April lalu.

 

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait