CT Corp Alihkan Saham Garuda karena Perintah Mitsui

Image title
18 Mei 2021, 18:11
Pengalihan saham Garuda Indonesia dari Finegold Resources ke Trans Airways tidak disebabkan potensi dilusi porsi saham karena rencana pemerintah menerbitkan obligasi wajib konversi.
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.
Pilot berada di ruang kemudi pesawat Garuda Indonesia Airbus A330-900neo bercorak khusus yang menampilkan visual masker pada bagian moncong pesawat di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (1/10/2020).

CT Corp melakukan transaksi afiliasi atas saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dari entitas usaha Finegold Resources Ltd ke entitas usaha lain PT Trans Airways. Hal itu dilakukan atas permintaan Mitsui & Co Ltd selaku pemegang saham baru CT Corp.

Sebelumnya, Mitsui & Co Ltd menyuntikkan dana 100 miliar yen atau setara Rp 13,2 triliun (Rp 132 per yen) ke CT Corp melalui skema pembelian obligasi konversi (convertible bond) yang diterbitkan PT CT Corpora, induk usaha CT Corp. Penandatanganan kerja sama dilakukan oleh CEO Mitsui Kenichi Hori dan Chairman CT Corp Chairul Tanjung pada 30 April 2021.

Komisaris Garuda Peter F. Gontha mengatakan, jual beli saham Garuda merupakan transaksi afiliasi dan hanya bersifat pemindahan saham dari satu perusahaan ke perusahaan lain di dalam CT Corp. Hal itu merupakan salah satu syarat di dalam kesepakatan penyuntikan modal Mitsui kepada CT Corp. 

"Mitsui tidak mau bahwa di Finegold ada (kepemilikan saham) Garuda Indonesia. Jadi kami keluarkan (saham Garuda) dari Finegold, kami pindahkan ke Trans Airways, tidak ada masalah," kata Peter kepada Katadata.co.id, Selasa (18/5).

Dalam kesepakatan kerja sama, Mitsui berniat mengambil alih sebagian saham Trans Corpora. Di saat bersamaan, Finegold memiliki saham Trans Corpora dan saham Garuda. Mengamati hal itu, Mitsui tak ingin terafiliasi dengan saham Garuda, meski tidak langsung sekalipun.

"(Perusahaan) yang diambil Mitsui (adalah) Trans Corpora yang ada (kepemilikan) Finegold juga. Finegold kan punya saham di Garuda, Mitsui tidak mau kalau ada garuda. Trans Airways itu cuma (memiliki saham) Garuda doang. Kalau Finegold (memiliki saham) Trans TV dan segala macam," kata Peter.

Sebelumnya, Trans Airways sudah memiliki saham Garuda sebanyak 6,68 miliar unit saham atau setara 25,8% sebelum transaksi. Dengan pengalihan saham Garuda dari Finegold sebanyak 635,73 juta unit saham atau setara 2,46%, maka total saham yang dimiliki Trans Airways menjadi 7,31 miliar atau 28,26%.

Peter mengatakan, langkah pengalihan saham tersebut tidak disebabkan adanya potensi dilusi porsi saham Garuda milik Trans Airways.

Pemerintah berpeluang kembali memperbesar porsi saham Garuda melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dengan skema obligasi wajib konversi (mandatory convertible bond) untuk membantu keuangan Garuda. Aksi ini berpotensi membuat kepemilikan saham investor lain, termasuk Trans Airways berkurang. 

Pemegang saham Garuda menyetujui penerbitan obligasi wajib konversi senilai maksimum Rp 8,5 triliun dengan tenor 7 tahun pada akhir Desember 2020. Penerbitan obligasi ini dilakukan secara bertahap, dimana Rp 1 triliun di antaranya sudah dicairkan pada Februari 2021.

Peter menjelaskan, jika saham Finegold tidak dialihkan ke Trans Airways pun, kepemilikan CT Corp sebagai grup pun bakal terdilusi. "Sama saja, mau dipegang perusahaan A atau B, selama dua-duanya dikontrol oleh pemegang saham yang sama, kan tidak masalah," katanya menjelaskan.

Jika seluruh skema obligasi wajib konversi itu dieksekusi, kepemilikan pemerintah akan bertambah. Sebaliknya, saham milik entitas di luar pemerintah bisa jadi terdilusi.

Perhitungannya, kepemilikan saham pemerintah akan naik dari 60,54% menjadi sekitar 84,8%. Porsi kepemilikan Trans Airways setelah ada pengalihan dari Finegold akan turun dari 28,26% menjadi hanya 9,9%. Sedangkan jatah saham publik turun dari 11,2% menjadi 5,3%.

Kepemilikan CT Corp lewat Trans Airways bahkan kurang dari saat pertama kali perusahaan ini mengakuisisi saham Garuda dengan porsi 10,8%. Trans Airways membeli saham Garuda dari tiga underwriter saat initial public offering (IPO), yaitu PT Mandiri Sekuritas, PT Bahana Securities, serta PT Danareksa Sekuritas, pada 2012.

Saat itu Trans Airways membeli 10,88% saham Garuda seharga Rp 620 per lembar atau di bawah harga IPO Rp 750 per lembar. Namun, pengalihan saham dari Finegold malah tercatat lebih besar dibandingkan dengan harga pasaran Garuda saat ini.

Berdasarkan data BEI, pengalihan saham ini terjadi pada level harga Rp 499 per lembar, jauh di atas harga saham Garuda saat penutupan perdagangan tanggal 6 Mei 2021 sebesar Rp 324 per lembar.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait