Lelang Sukuk Pemerintah Kembali Diserbu Investor, Ini Alasannya

Tingginya minat investor pada lelang sukuk dipengaruhi dua faktor, yakni adanya obligasi jatuh tempo serta likuiditas pasca hari raya Idulfitri.
Image title
18 Mei 2022, 08:48
Sukuk
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Nasabah membeli Sukuk Tabungan (ST) Seri ST006 melalui aplikasi Mobile Banking di Jakarta, Senin (4/11/2019).

Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk pada Selasa (17/5) kembali diserbu peminat dengan jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp 17,02 triliun. Nilai ini melonjak lebih dari dua kali lipat dari lelang sebelumnya.

Tingginya minat investor pada lelang kemarin dipengaruhi dua faktor, yakni adanya obligasi jatuh tempo serta likuiditas pasca hari raya Idulfitri.

Lelang sukuk kemarin melepas enam seri sukuk yang terdiri atas, Surat Perbendaharaan Negara Syariah (SPSN) tenor enam bulan. Total incoming bid yang masuk untuk seri ini sebesar Rp 6,07 triliun.

Lima seri lainnya yakni, Project Based Sukuk (PBS) terdiri atas tenor dua tahun, enam tahun, 12 tahun, 17 tahun dan 25 tahun. Penawaran tertinggi untuk seri PBS tenor 12 tahun sebesar Rp 3,35 triliun.

Advertisement

Dari total penawaran yang masuk tersebut, pemerintah memenangkan sebesar Rp 4,37 triliun, juga lebih besar dari lelang sebelumnya Rp 2,01 triliun.

Yield rata-rata tertimbang (WAY) yang dimenangkan secara berturut-turut untuk seri SPSN 2,47%, seri PBS tenor empat tahun sebesar 6,24%, tenor 12 tahun sebesar 7,05%, tenor 17 tahun dan 25 tahun sebesar 7,25%.

Sukuk seri SPSN yang dilepas kemarin memiliki tingkat imbal hasil diskonto, sementara untuk seri PBS dilepas dengan tingkat kupon antara 4%-6,75%.

Adapun, pembayaran kupon dilakukan pada akhir periode untuk seri SPSN, sementaara untuk PBS tenor dua dan empat tahun dilakukan tiap tanggal 15 Juni dan Juli, tenor 12 tahun tiap tanggal 15 Maret dan September, sementara tenor 17 dan 25 tahun dilakukan tiap 15 Juni dan Desember.

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu Dwi Irianti Hadiningdyah mengatakan penawaran yang masuk pada lelang sukuk kemarin lebih tinggi dibandingkan lelang sebelum lebaran yakni 19 April sebesar Rp 7,5 triliun. 

Menurutnya, ada dua faktor yang mendorong tingginya minat investor di lelang kemarin. "Terdapat SBN jatuh tempo hari ini (17/5) sebesar Rp 100,4 triliun, serta likuiditas pasca Ramadan dan Idulfitri yang bertahap kembali ke perbankan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (17/5).

Namun demikian, total penawaran tersebut dinilai masih belum optimal dengan nilai setara 1,89 kali dari target lelang sebesar Rp 9 triliun.

Selain itu, yield yang disampaikan oleh investor cenderung tinggi sehingga Pemerintah hanya memenangkan sebesar Rp 4,2 triliun atau seperempat dari nilai penawaran yang masuk. 

Meski minat mulai kembali tinggi, Dwi mencermati ada beberapa faktor negatif yang turut mempengaruhi lelang kemarin. Perang di Ukraina yang sampai saat ini belum memberi sinyal akan mereda masih menjadi sentimen negatif terhadap lelang sukuk pemerintah.

Hal ini diperparah rilis sejumlah data ekonomi di beberapa negara mitra terutama Cina, Amerika dan zona Eropa yang menunjukkan sinyal negatif.

"Selain itu, asing masih melanjutkan outflow  (aliran keluar) di pasar SBN di mana sepekan terakhir asing mencatat net jual di pasar SBN sebesar Rp 4,85 triliun dan di saham sebesar Rp 9,11 triliun," kata dia.

Kemenkeu akan kembali menggelar lelang tambahan atau greenshoe option pada hari ini untuk empat seri PBS tenor empat tahun ke atas yang dilelang kemarin. 

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait