15 Puisi Tentang Alam yang Indah dan Menyejukkan Hati, Cocok Sebagai Inspirasi

Destiara Anggita Putri
16 Mei 2025, 17:25
Puisi Tentang Alam
Freepik
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), puisi merupakan ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik, dan bait. 

Sementara, menurut Heman J. Waluyo, puisi merupakan bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran serta perasaan penyair secara imajinatif dan kemudian disusun dengan mengkonsentrasikan struktur fisik dan batinnya.

Ada berbagai tema yang bisa ditulis ke dalam bentuk puisi. Salah satunya yaitu tentang alam sebagai cara untuk mengekspresikan rasa cintanya terhadap alam atau menuangkan kegelisahan terhadap kerusakan alam yang marak terjadi.

Tidak hanya itu, menulis puisi tentang alam juga bisa menjadi cara untuk menggambarkan betapa indah dan berharganya alam bagi kehidupan manusia.

Bagi yang tertarik menulis dengan tema ini, berikut di bawah ini kumpulan puisi tentang alam dari berbagai sumber yang bisa dijadikan sebagai inspirasi.

Puisi Tentang Alam

Berikut ini 15 puisi dari berbagai sumber yang bisa dijadikan sebagai inspirasi bila ingin membuat puisi dengan tema alam.

Puisi Tentang Alam
Puisi Tentang Alam (Freepik)

1. Bukan Sekedar Indah

Oleh: Abdul Harish Faqih

Panggilan itu seperti terdengar jelas di telinga.

Seperti mengajak untuk melihat betapa indahnya dunia

Mungkin semua mengira tempat itu hanyalah dongeng yang fana

Namun siapalah menyangka jika teluk hijau memanggil istimewa

Seperti telah membisikkan berjuta kata penuh makna

Bahwa inilah sesungguhnya sihir panorama

Iya, alam menyihir semua dan meyakinkan "jika aku memang nyata"

Seketika menjadikan bibir ini tak kunjung berhenti mengucap kata puja


Ketika engkau tahu semuanya dengan mata kepala

Intuisi seakan memaksa agar tetap berada dan menjaga

Kau tahu kenapa?

Karena siapalah yang akan menjaga jika bukan diri kita

2. Sang Bulan Mengusap Lukaku

Senyuman manis sang bulan menyapaku

Begitu indah mekarkan suasana hatiku

Sejenak ku terdiam termangu

Memandang indahnya yang tak pernah jemu

Sinarmu terpancar mengusir gelap

Menembus malam hadirkan terang

Kunikmati cahayamu hangatkan malamku

Bahagiakan rongga hati ini yang tersinari

Bulan, belailah jiwaku ini

Yang begitu tegang menjalani hari

Usaplah sesaknya asmara di dada ini

Keringkanlah luka menganga dihati ini

Bulan, memandangmu membuatku mengerti

Bahwa keindahan tak harus selalu didekati

Bahwa keindahan tak harus selalu dimiliki

Namun hanya untuk sekedar di pandang dan dikagumi

3. Hutan yang Malang

Oleh: Jehan Sri Handani

Alangkah indahnya dirimu

Kau mempunyai daun yang lebat

Kau berguna sebagai paru-paru dunia

Hutan malangnya nasibmu

Karena orang yang membakar dirimu

Sangat tega dan tidak mempunyai hati nurani

Dia tidak melihat

Begitu banyak orang yang sakit

Dan meninggal

 

Udara pun menjadi terganggu

Tanah pun menjadi gersang

Banjir melanda kota

Oh, malangnya nasibmu

4. Alam Tempo Dulu 

Sempat terbecik di dalam hati yang tandus

Hamparan bukit hijau yang membahana

Penuh kesejukan dan kesegaran

Teringat suasana desa tempo dulu

 

Hati gundah dihibur sudah

Terhibur kilauan sinar matahari yang merona

Di kala sang fajar telah terbenam

Kilap kunang-kunang terlihat mempesona

 

Indahnya alam ini tiada duanya

Terlebih setelah dijaga oleh makhluk yang mulia

Namun kini, banyak yang telah berubah

Yang harusnya menjaga lebih senang menghancurkan

 

Bayangkan jika alam ini terus dijaga

Sejuknya warna serta rasa yang selalu menghibur hati

Terus bergelimang di hadapan mata

Wahai alam desa, kan kukenang selalu

5. Sabda Bumi

Belum tampak mendung merenung bumi

Seberkas haru larut terbalut kalut dan takut

Terpaku ratap menatap jiwa-jiwa penuh rindu

Hangatkan dahaga raga yang sendu merayu

Bulan tak ingin membawa tertawa manja

Kala waktu enggan berkawan pada hari

Saat bintang bersembunyi sunyi sendiri

Terhapus awan gelap melahap habis langit

Bulan memudar cantik menarik pada jiwa ini

Hitam memang menang menyerang terang

Tetapi mekar fajar bersama mentari akan menari

Bersama untaian senandung salam alam pagi.

6. Mentari Pagi

Oleh: Ayu Amanda

Cahaya masuk menyapa hangat

Cerah tapi tak menyengat

Matahari mulai terang cut

Sendu yang tak merapat

Kicauan burung cantik

Menjadi hiasan musik

Pagi ini terasa menarik

Tak inginku terusik

Lembaran baru kan dimulai

Berjalan elok gemulai

Tak berharap terlerai

Ketabahan hati lagi ini terurai

7. Hutan Hujan Tropis

Hutan rimbun di suatu kawasan,

Bagai zamrud perhiasan,

Tampak indah kehijauan,

Berada di daerah perbatasan,


Berkas cahaya mentari tembus sedikit ke dalam,

Pepohonan rapat yang ada di alam,

Tampak rerumputan dan bunga sedap malam,

Keadaan gelap bagai malam,


Anggrek subur di hutan hujan tropis,

Menempel di sela batang pohon pakis,

Cabang rantingnya agak terkikis,

Bagai benalu yang mengiris-iris.

8. Dari Bentangan Langit

Dari bentangan langit yang semuIa

Kemarau itu datang kepadamu

Tumbuh perlahan

Berhembus amat panjang

Menyapu lautan

Mengekal tanah berbongkahan menyapu hutan!

Mengekal tanah berbongkahan! Datang kepadamu

Ia, kemarau itu dari Tuhan, yang senantiasa diam dari tangan-Nya.

Dari tangan yang dingin dan tak menyapa yang senyap.

Yang tak menoleh barang sekejap.

Puisi Tentang Alam
Puisi Tentang Alam (Pexels)

 

9. Oh, Bumi

Oleh: Cut Amanda Azzahra

Makhluk hidup berkeliaran di sudut-sudut bumi

Air laut yang berwarna biru

Daratan yang berwarna hijau

Gedung-gedung pun menjulang tinggi

Sungguh indah dan besar bumi ini

 

Oh bumi...

Dunia telah berguncang

Memberi tahu kepada manusia bahwa kau telah rusak

Tetapi, kenapa bumi masih sanggup menahan ini

 

Oh bumi...

Bumi yang semakin rusak

Manusia tidak memikirkannya

Musibah-musibah yang menimpa

Kurasa itu mungkin balasan bumi

Terhadap apa yang dibuat manusia selama ini...

 

Oh bumi...

Aku berharap tuhan membukakan pintu hati manusia

Aku ingin melihat indahnya dunia ini

Alam yang damai

Mentari yang tersenyum

Yang kukenang di hati

Yang tak pernah kulupakan sampai akhir hayat nanti

10. Negeri Di Atas Awan

Ku lihat awan bak kapas menyelimuti alam nan sejuk

Dinginnnya udara serasa menusuk tulang rusuk ku

Aku terpaku, terpesona akan lukisan Ilahi nan mempesona

Mempesonakan untuk mengusik tiap celah alam-Mu

Bersyukur ku yang telah menikmati keindahan ciptaan-Mu

 

Terlihat nun jauh di bawah

Kerlap kerlip lampu menambah eksotik indahnya alam

Semakin ku terpesona akan kesyahduan suasana

Tak ku lewatkan juga pemandangan di atas langit

Gemerlap bintang gemintang saling berkedip lincah

 

Tak lupa ku hirup secangkir produk khas Dieng

Aroma wangi melati menambah gairah nikmatnya malam

Untuk terus memanjakan mata menikmati indah lukisan-Nya

Kota dengan sebutan negeri di atas awan

Dieng yang takkan terlupakan

11. Lautan Bumi Pertiwi

Terbentang luas alam negeriku

Puisi ini ku berikan cinta untukmu

Semilir angin di pesisir laut

 

Menyadarkan arti sebuah keanekaragaman

Rimpuh... kisahmu kini

Nestapa yang kian membuncah

Sadar bahwa usiamu kini sudah menua

 

Tapi hasrat... kau selalu di genggam

Pohon, danau, laut mulai mengobarkan industri alam yang baru

Mengisi cinta pada perolehan yang kelak tidak menjadi kekal

Nabastala berkata.

 

Bahwa bumi ini akan menjadi bumi yang kekal dan abadi

Dengan pancaran indah pesona Sang Ilahi

12. Bara Hati

Api membara karena dikipas

Panas menyengat hewan melata

Tambang dicari hutan dilibas

Hasilnya dibagi tidak merata

Kalau ingin melanglang buana

Jangan memandang fatamorgana

Lingkungan rusak dimana-mana

Kesadaran manusia hanya wacana

Kapal berlayar tanpa muatan

Diiringi music orkes simponi

Bumi merana kehabisan hutan

Tanam pohon hanya seremoni

Pasang tenda memakai pasak

Tenda dibangun untuk pajangan

Pemerintah sadari lingkungan rusak

Tanam pohon buru penghargaan


Hobinya bikin mainan sawah

Buat ngusir hama tanaman

Mobilnya sih mahal dan mewah,

Buang sampahnya kok Buang sampahnya kok sembarangan

13. Danau Buatan di Tengah Pabrik

Oleh: Ahmad Zaini

Pagi itu, ditemani cahaya mentari yang masih suci memancar ke bumi

Berdiri, ku menikmati pemandangan di tepi danau buatan, di tengah pabrik,

Yang dihiasi tembok-tembok pabrik menjulang tinggi..

Kontras dibuatnya...

Pohon-pohon rindang berdesakan di tepian lainnya, terlihat menari-nari bersama desiran angin

Burung-burung pun tak ketinggalan bernyanyi saling bersahutan..

Gelombang air merayap ke tepian, lembut terdengar bercikannya

Pantulan cahaya ke air mengenai pinggiran gedung pabrik. menambah keindahannya

Paparan cahaya mengenai dasaran air, indah kilauannya

Sejuk terasa menusuk batin ditemani suara desiran angin seraya bergesekan dengan dedaunan

Air kecoklatan nan tenang membawa kedamaian

Entah mengapa, serasa hanyut diriku terbawa suasana

Melamun jauh kubayangkan kebesaran-Nya

Meskipun hanya lewat sebuah Danau Buatan

14. Senja Yang Indah

Keemasan cahaya di cakrawala

Di ufuk barat saat hari mulai senja

Terbelalak mata saat memandangnya

Keindahan dari sang maha pencipta

Sang surya bersiap untuk tenggelam

Menjemput mesra ketenangan malam

Meneguk cahaya dalam-dalam

Menyempurnakan keindahan malam

Lembayung indah tampak kekuningan

Gradasi warna bagaikan lukisan

Di sudut langit yang tipis berawan

Hiasan terbesar sepanjang zaman

15. Lestari Alam, Lestari Jiwaku

Bising kota tak pernah tahu gemulai tanaman padi di pelosok negeri

Menghijau di kala muda, silau emas di kala panen

Kicau merdu sang pencuri kecil, tak pernah lelak menarik sebatang padi

 

Tiada palang kereta atau lampu lalu lintas di sini

Yang berjejer hanya pohon-pohon rindang tak bertuan

Gemuruh aliran sungai mengundang bermain di tengah terik mentari membakar kulit

Tiada sawah yang kosong

Dipenuhi armada penjaga, kaleng musik pengusir pencuri padi kecil

 

Jika lelah dengan segalanya

Datang saja kemari, alam ciptaan Tuhan

Pejamkan mata di rumah sawah tak berdinding

Dielus angin yang berhembus

Terjaga oleh alam yang lestari, menenangkan jiwa yang berisik

Itulah 15 puisi tentang alam yang indah dan menyejukkan hati yang bisa dijadikan sebagai inspirasi bila ingin membuat puisi dengan tema serupa.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan