15 Puisi Pendek Berbagai Tema yang Sarat Makna Beserta Pengarangnya

Ghina Aulia
20 Mei 2025, 11:48
Puisi Pendek
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nym.
Penyair Taufiq Ismail membacakan puisi pada Malam Peduli Seniman di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (21/2/2023). Acara tersebut sebagai pengumpulan donasi bagi seniman-seniman tanah air yang sedang sakit dan terkena musibah.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Puisi adalah tulisan yang memakai kata-kata indah untuk menyampaikan perasaan atau ide. Biasanya isinya singkat, tapi bisa membuat orang yang membaca merasa tersentuh atau ikut berpikir.

Isi puisi bisa bermacam-macam, tergantung apa yang ingin diceritakan, seperti soal cinta, alam, atau hidup sehari-hari. Tema membantu pembaca memahami maksud si penulis lewat kata-kata puitis.

Di Indonesia, puisi sudah ada sejak dulu, dimulai dari pantun dan syair zaman kerajaan. Lama-kelamaan, gaya puisinya berubah jadi lebih bebas dan mengikuti perkembangan zaman.

Oleh karena itu, kali ini kami akan memberikan referensi puisi pendek berbagai tema yang merupakan karya sastrawan kondang Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut, silakan baca uraian lengkapnya di bawah ini.

Puisi Pendek Berbagai Tema yang Sarat Makna Beserta Pengarangnya

1. Penghidupan

Karya: Chairil Anwar

Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul dentur selama
Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahagia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.

2. Kesadaran

Karya: Sanusi Pane

Pada kepalaku sudah direka,
Mahkota bunga kekal belaka,
Aku sudah jadi merdeka,
Sudah mendapat bahagia baka.
Aku melayang ke langit bintang,
Dengan mata yang bercaya-caya,
Punah sudah apa melintang,
Apa yang dulu mengikat saya.
Mari kekasih, jangan ragu
Mencari jalan; aku mendahului,
Adinda kini
Mari, kekasih, turut daku
Terbang kesana, dengan melalui,
Hati sendiri

3. Herman

Karya: Sutardji Calzoum Bachri

herman tak bisa pijak di bumi tak bisa malam di bulan
tak bisa hangat di matari tak bisa teduh di tubuh
tak bisa biru di lazuardi tak bisa tunggu di tanah
tak bisa sayap di angin tak bisa diam di awan
tak bisa sampai di kata tak bisa diam di diam tak bisa paut di mulut
tak bisa pegang di tangan takbisatakbisatakbisatakbisatakbisatakbisa

di mana herman? kau tahu?
tolong herman tolong tolong tolong tolongtolongtolongtolongngngngngng!

4. Rambut

Karya: WS. Rendra

Rambut kekasihku
sangat indah dan panjang.
Katanya,
rambut itu untuk menjerat hatiku.

Kangen
Pohon cemara dari jauh
membayangkan panjang rambutnya
maka aku pun kangen kekasihku.

5. Aku Ingin

Karya: Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

6. Hujan Bulan Juni

Karya: Sapardi Djoko Damono

Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

7. Temperamen

Karya: WS. Rendra

Batu kali
ditimpa terik matahari.
Betapa panasnya!
Ketika malam kembali membenam
kali pun tenteram.
Bulannya sejuk
dan air bernyanyi
tiada henti.
Jika kita marah
pada kekasih
selamanya.

8. Yang Fana Adalah Waktu

Karya: Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

9. Pahatan

Karya: WS. Rendra

Di bawah pohon sawo
di atas bangku panjang
di bawah langit biru
di atas bumi kelabu
–Istirahatlah dua buah hati rindu.

10. Tak Sepadan

Karya: Chairil Anwar

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.
Dikutuk sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

11. Sementara Kita Saling Berbisik

Karya: Sapardi Djoko Damono

Sementara kita saling berbisik
untuk lebih lama tinggal
pada debu, cinta yang tinggal berupa
bunga kertas dan lintasan angka-angka
Ketika kita saling berbisik
di luar semakin sengit malam hari
memadamkan bekas-bekas telapak kaki,
menyekap sisa-sisa unggun api sebelum fajar
Ada yang masih bersikeras abadi

12. Aku Belajar Mencintai Bayang-bayang

Karya: Remy Sylado

Aku belajar mencintai bayang-bayang
karena ukurannya ditentukan oleh cahaya
ayahku tidak bilang kepada ibuku
maut adalah pencuri malam hari

Di bawah hujan yang menyapu peradaban
aku melihat terompet di kepala pastur
lebih besar dari rasa keinginan
dalam hanya sekali seumur hidup
tak sama besok dengan hari ini.

13. Matahari Minggu

Karya: Sitor Situmorang

Di hari Minggu di hari iseng
Di silau matahari jalan berliku
Kawan habis tujuan di tepi kota

Di hari Minggu di hari iseng
Bersandar pada dinding kota
Kawan terima kebuntuan batas

Di hari panas tak berwarna
Seluruh damba dibawa jalan

Di hari Minggu di hari iseng
Bila pertemuan menambah damba

Melingkar di jantung kota
Ia merebah pada diri dan kepadatan hari
Tidak menolak tidak terima

14. Kutempuh Jalan-Jalan Lengang

Karya: Korrie Layun Rampan

Kutempuh jalan-jalan lengang, derita-Mu menghadang
Demikian tertib nasib menyalib
Dari pusat hari-hari-Mu yang rumit

Kutempuh jalan-jalan sepi, cinta mekar dalam bunga-bunga sunyi
Hidup berbeban juang, sepanjang tubir hari-hari yang garang
Tak berdalih, antara derita dan ketawa
Makna hidup latah cinta, gelepar-Mu yang
menggemuruh di dada.

15. Sendiri

Karya: Chairil Anwar

Hidupnya tambah sepi, tambah hampa
Malam apa lagi
Ia memekik ngeri
Dicekik kesunyian kamarnya
Ia membenci. Dirinya dari segala
Yang minta perempuan untuk kawannya
Bahaya dari tiap sudut. Mendekat juga
Dalam ketakutan-menanti ia menyebut satu nama
Terkejut ia terduduk. Siapa memanggil itu?
Ah! Lemah lesu ia tersedu: Ibu! Ibu!

Demikian kumpulan puisi pendek berbagai tema yang mengandung penuh makna. Setiap puisi membawa pesan tersendiri yang bisa menggugah perasaan dan memberikan inspirasi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan