Demo Besar di New Delhi Buntut Nama PM India Muncul di Epstein Files
Gelombang Demo besar di New Delhi pecah setelah nama Perdana Menteri India Narendra Modi disebut dalam dokumen yang dikenal sebagai Epstein Files. Aksi ini dipicu kemunculan sejumlah korespondensi yang menyinggung dugaan komunikasi antara pihak terkait Modi dan mendiang Jeffrey Epstein yang terlibat kasus kejahatan seksual dan perdagangan manusia.
Aksi protes berlangsung pada Selasa (10/2/2026) dan melibatkan ratusan massa, termasuk pekerja serta kader yang tergabung dalam Kongres Pemuda India atau Indian Youth Congress (IYC). Demonstrasi ini menambah tekanan politik terhadap pemerintah India di tengah sorotan internasional atas rilis jutaan dokumen oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada 30 Januari 2026.
Kronologi Demo Besar di New Delhi

Aksi Demo besar di New Delhi berlangsung di jalan raya menuju Gedung Parlemen India. Massa yang tergabung dalam IYC turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan agar parlemen segera memeriksa dugaan adanya “koneksi India” dalam berkas penyelidikan Epstein.
Mengutip media India, National Herald, para demonstran menilai pemerintah pusat tidak melakukan penyelidikan apapun meskipun nama PM India disebut dalam dokumen tersebut. Ratusan pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan transparansi dan akuntabilitas di sepanjang jalur menuju kompleks parlemen.
Situasi memanas ketika aparat keamanan memblokade jalan menuju Gedung Parlemen. Aksi saling dorong antara demonstran dan polisi pun terjadi. Sejumlah peserta aksi dilaporkan sempat diamankan aparat setempat sebelum akhirnya demonstrasi dibubarkan.
Demo besar di New Delhi ini menjadi sorotan karena melibatkan kelompok politik muda yang berada di bawah naungan oposisi utama India.
Apa yang Memicu Aksi Protes?
Dalam sebagian dokumen Epstein Files, nama Narendra Modi disebut dalam konteks korespondensi yang melibatkan pengusaha India Anil Ambani dan Jeffrey Epstein.
Menurut laporan sejumlah media internasional, Epstein diduga berperan sebagai perantara atau makelar dalam sejumlah komunikasi antara pihak yang berkaitan dengan Modi dan tokoh-tokoh Amerika Serikat. Dugaan ini memicu kontroversi karena menyangkut hubungan diplomatik dan politik tingkat tinggi.
Anil Ambani, Ketua Reliance Group dan saudara Mukesh Ambani, disebut melakukan komunikasi dengan Epstein terkait berbagai topik. Di antaranya adalah penilaian calon duta besar Amerika Serikat untuk India dan permintaan untuk mengatur pertemuan Modi dengan pejabat tinggi AS.
Dalam salah satu pesan iMessage tertanggal 16 Maret 2017, Anil Ambani menyebut bahwa “pimpinan” meminta bantuannya untuk terhubung dengan tokoh lingkaran Presiden Donald Trump, termasuk Jared Kushner dan Steve Bannon. Ambani juga meminta saran kepada Epstein mengenai kemungkinan pertemuan Modi dan Trump pada bulan Mei.
Beberapa waktu kemudian, Epstein menulis pesan kepada Ambani yang menyatakan bahwa diskusi mengenai strategi Israel mendominasi agenda Modi. Dua hari setelahnya, Ambani kembali memberi tahu Epstein bahwa Modi akan berkunjung ke Israel pada Juli 2017 dan menanyakan tentang “Track 2”, yang merujuk pada jalur diplomasi informal.
Pada 26 Juni 2017, Modi berkunjung ke Washington dan bertemu Presiden Trump. Selanjutnya, pada 6 Juli 2017, Modi menjadi Perdana Menteri India pertama yang melakukan kunjungan resmi ke Israel.
Setelah kunjungan Modi ke Israel, Epstein mengirim email kepada seseorang bernama “Jabor Y” yang menyebut bahwa Perdana Menteri India menerima saran dan melakukan pendekatan diplomatik di Israel demi kepentingan presiden AS. Epstein juga menyatakan bahwa pertemuan tersebut berhasil.
Selain itu, Epstein diketahui mengirim pesan kepada mantan Menteri Keuangan AS Larry Summers. Dalam pesan tersebut, ia menyebut bahwa Trump merupakan kandidat presiden yang lebih baik dibandingkan Hillary Clinton, serta menyinggung hubungan Trump dengan India dan Israel.
Respons Oposisi dan Kritik Publik
Pemimpin oposisi di Majelis Rendah India (Lok Sabha), Rahul Gandhi, menyatakan bahwa kemunculan nama Modi dalam Epstein Files merupakan pukulan terhadap integritas perdana menteri. Ia menilai perlu ada klarifikasi menyeluruh mengenai konteks komunikasi tersebut.
Pernyataan Rahul Gandhi digaungkan kembali oleh ratusan demonstran IYC dalam aksi Demo besar di New Delhi. Spanduk bertuliskan “PM is compromised” dibentangkan untuk mengkritik Modi yang dianggap terlalu dekat dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.
Para demonstran menuntut parlemen membentuk panel investigasi independen untuk menyelidiki dugaan koneksi tersebut. Mereka juga mendesak pemerintah memberikan pernyataan resmi guna menghindari spekulasi yang berkembang di ruang publik.
