Sampai Kapan Hujan Deras Guyur Indonesia? Begini Prediksi BMKG
Beberapa wilayah Indonesia masih kerap diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat selama beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi ini dipicu oleh fenomena atmosfer yang tidak biasa, sehingga intensitas hujan tetap tinggi meski sebagian wilayah telah memasuki masa peralihan musim.
BMKG mencatat hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem terjadi di sejumlah daerah, seperti Jawa Barat mencapai 166,5 mm per hari, Jambi 131,2 mm per hari, dan Kalimantan Barat 113,8 mm per hari. Sementara itu, Sumatera Utara juga mengalami hujan hingga 129,5 mm per hari, serta Maluku sebesar 103,1 mm per hari dalam periode 1–3 Mei.
Lantas, sampai kapan hujan deras guyur Indonesia? Berikut ulasannya.
Sampai Kapan Hujan Deras Guyur Indonesia?
BMKG memperkirakan potensi hujan masih tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia selama sepekan ke depan. Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi masih berada di fase 2 (Indian Ocean), Gelombang Kelvin, serta Gelombang Rossby Ekuatorial berkontribusi meningkatkan pembentukan awan di beberapa wilayah.
Pada skala meso, Bibit siklon tropis dan sirkulasi siklonik juga mempengaruhi pola cuaca di wilayah Indonesia. Siklon 92W diprediksi masih berada di Samudra Pasifik utara Papua, dengan kecepatan angin maksimum sebesar 15 knot, tekanan udara minimum sebesar 1008 hPa, dengan arah gerak ke barat.
Sementara itu, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Perairan Barat Laut Aceh, Selat Malaka bagian utara, Perairan Barat Bengkulu, di Selat Makassar, dan di Laut Banda.
Penyebab Hujan Sangat Lebat di Berbagai Wilayah Indonesia
BMKG menyebut beberapa fenomena atmosfer bertanggung jawab atas kondisi tersebut. Hujan lebat beberapa hari belakangan dipicu oleh aktivitas sejumlah gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG), yang terpantau melintasi sebagian wilayah Indonesia.
Gelombang atmosfer tersebut berperan dalam memodulasi proses konvektif pada skala yang lebih luas, sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah. Kemudian, BMKG menyebut fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang berada pada fase 2 (dua) juga berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah barat Indonesia (Pesisir Barat Sumatera), serta terpantau aktif secara spasial melintasi sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Maluku.
Selain itu, terdapat sirkulasi siklonik di pesisir barat dan utara Sumatera, Kalimantan bagian utara, perairan utara Maluku, serta pesisir utara Papua yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Pemanasan permukaan air yang cukup kuat pada siang hari serta kelembaban udara yang masih relatif tinggi juga berkontribusi dalam mendukung terbentuknya awan-awan hujan.
Meski hujan lebat mengguyur beberapa wilayah, suhu maksimum harian yang relatif tinggi masih teramati, di antaranya di Kalimantan Timur (37,1 derajat Celcius), Kalimantan Utara (36,6 derajat Celcius), Sulawesi Tengah (36,2 derajat Celcius), Papua (36,0 derajat Celcius) dan Kalimantan Barat (36,6 derajat Celcius).
Menurut BMKG, hal ini menunjukkan pemanasan pada siang hari masih berlangsung cukup kuat di beberapa wilayah.
Kondisi panas terik ini dipengaruhi oleh intensitas radiasi matahari pada siang hari yang masih cukup tinggi, serta mulai menguatnya monsun Australia.
Monsun ini biasa ditandai dengan dominasi angin timuran, yang membawa massa udara relatif lebih kering. Dampaknya, tutupan awan pada pagi hingga siang hari cenderung berkurang sehingga radiasi matahari dapat diterima lebih optimal di permukaan dan mendorong peningkatan suhu udara.

