BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem, Indonesia Diguyur Hujan Lebat 5-11 Mei 2026
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kembali menyampaikan prediksi cuaca ekstrem, dengan potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang di sebagian besar wilayah Indonesia pada periode 5–11 Mei 2026. Peringatan ini disampaikan dalam pembaruan resmi tertanggal 4 hingga 5 Mei 2026, bertepatan dengan masa peralihan dari musim hujan menuju kemarau.
Fenomena ini merujuk pada potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga sangat lebat yang diperkirakan berlangsung pada 5–11 Mei 2026, dengan indikasi awal sejak 1–3 Mei 2026. Peringatan tersebut dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui prakirawan cuaca Puji Rosita Anggraini Sibuea dan mencakup hampir seluruh wilayah Indonesia.
Kondisi ini dipicu oleh kombinasi dinamika atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang atmosfer, serta penguatan monsun Australia, yang ditandai dengan lonjakan curah hujan, suhu udara tinggi, serta terbentuknya sistem konvergensi dan sirkulasi siklonik.
BMKG mencatat bahwa pada 1–3 Mei 2026 telah terjadi hujan ekstrem di sejumlah wilayah. Curah hujan tertinggi mencapai 166,5 mm per hari di Jawa Barat, disusul Jambi 131,2 mm/hari, Sumatera Utara 129,5 mm/hari, Kalimantan Barat 113,8 mm/hari, dan Maluku 103,1 mm/hari. Bahkan di Sulawesi Selatan, curah hujan mencapai 118,4 mm per hari.
Penyebab Cuaca Ekstrem di Awal Mei 2026
BMKG memberikan prediksi cuaca ekstrim dengan mengidentifikasi aktivitas gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin Wave, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) sebagai pemicu utama peningkatan konveksi. Gelombang ini memperkuat proses pembentukan awan hujan dalam skala luas.
Selain itu, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) berada pada fase 2 di wilayah Samudra Hindia dan aktif melintasi Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku. MJO berfungsi sebagai “mesin” penggerak awan hujan tropis karena meningkatkan suplai uap air di atmosfer.
Di tingkat regional, sirkulasi siklonik terdeteksi di sejumlah wilayah seperti pesisir barat Sumatera, Kalimantan utara, perairan Maluku, dan Papua. Sistem ini menciptakan daerah konvergensi yang mempercepat pembentukan awan hujan.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kondisi suhu permukaan yang tinggi. BMKG mencatat suhu maksimum mencapai 37,1°C di Kalimantan Timur. Hal ini dipengaruhi oleh radiasi matahari yang kuat akibat berkurangnya tutupan awan serta penguatan monsun Australia yang membawa massa udara kering.
Menariknya, kondisi panas ini justru memperbesar potensi hujan pada sore hingga malam hari karena meningkatkan penguapan dan pembentukan awan konvektif.
Dinamika Atmosfer Sepekan ke Depan
BMKG memperkirakan MJO tetap berada di fase 2 dan bergerak melintasi sebagian besar wilayah Indonesia. Gelombang Kelvin diprediksi aktif di Sumatera, Kalimantan, Jawa Timur, Bali, hingga Papua, sementara gelombang Rossby Ekuatorial aktif di Sumatera bagian utara dan selatan, Maluku, serta Papua.
Selain itu, keberadaan bibit siklon tropis 92W di Samudra Pasifik utara Papua dengan kecepatan angin sekitar 15 knot dan tekanan 1008 hPa turut memperkuat potensi hujan. Sistem ini bergerak ke arah barat dan memicu pembentukan awan hujan di wilayah sekitarnya.
Sirkulasi siklonik juga diperkirakan muncul di Selat Makassar, Laut Banda, dan perairan barat Sumatera. Sistem ini membentuk jalur konvergensi panjang yang menjadi “jalur hujan” di wilayah Indonesia.
Di sisi lain, monsun Australia yang mulai menguat membawa massa udara kering dari selatan. Kondisi ini menciptakan pola unik: pagi hingga siang cenderung panas, namun sore hingga malam berpotensi hujan lebat.
Wilayah Terdampak dan Periode Hujan
Dalam rincian Prediksi Cuaca Ekstrem, BMKG membagi potensi hujan berdasarkan periode waktu untuk memberikan gambaran yang lebih spesifik.
- Pada 5 Mei 2026, kota-kota seperti Palembang, Banjarmasin, dan Mamuju diperkirakan mengalami hujan disertai petir. Sementara Jakarta, Bandung, dan Semarang cenderung mengalami hujan ringan.
- Periode 5-7 Mei 2026 menjadi fase dengan potensi hujan paling luas. Wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat. Beberapa wilayah seperti Sumatera Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Barat, Maluku, dan Papua bahkan masuk kategori siaga hujan sangat lebat.
- Memasuki 8-11 Mei 2026, intensitas hujan cenderung menurun menjadi ringan hingga sedang, tetapi potensi hujan lebat tetap ada di wilayah Sumatera Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Barat, dan Papua Pegunungan yang berstatus siaga.
Imbauan BMKG kepada Masyarakat
Menghadapi situasi Prediksi Cuaca Ekstrem, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.
Masyarakat disarankan menggunakan pelindung seperti tabir surya saat beraktivitas di siang hari, serta menjaga asupan cairan tubuh. Saat hujan lebat, masyarakat diminta menghindari aktivitas di ruang terbuka dan tidak berteduh di bawah pohon atau bangunan rapuh.
Pengendara perlu meningkatkan kehati-hatian karena hujan lebat disertai petir dan angin kencang dapat mengganggu perjalanan. Selain itu, masyarakat diminta rutin memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.

