Siang Panas, Sore Hujan Lebat: Apakah Indonesia Langkahi Kemarau? Ini Kata BMKG
Berbagai wilayah di Indonesia mengalami perubahan drastis cuaca dalam satu hari: pagi hingga siang terik, kemudian hujan lebat pada sore menuju malam hari. Apakah Indonesia akan "melangkahi" musim kemarau?
Deputi Bidang Meteorologi di Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani menjelaskan cuaca ekstrem semacam ini berpotensi terjadi selama masa peralihan menuju musim kemarau, yaitu April hingga Juni.
Jadi, bukan berarti Indonesia sedang "skip" musim kemarau. “Ini menunjukkan bahwa proses transisi menuju kemarau masih berlangsung secara bertahap dan tidak seragam di setiap wilayah,” ujar Andri kepada Katadata, Selasa (5/5).
Di fase peralihan ini, cuaca terasa panas pada siang hari disebabkan oleh radiasi matahari yang kuat, kurangnya tutupan awan, dan mulai masuknya massa udara yang lebih kering.
Pada periode peralihan menuju musim kemarau hingga musim kemarau, suhu maksimum harian di sebagian wilayah Indonesia berkisar 31-35 derajat Celsius. Tapi, di wilayah tertentu yang lebih kering, terbuka, atau minim tutupan awan, suhu maksimumnya bisa mencapai 35-37 derajat Celsius. Bahkan, suhu maksimum pernah mencapai 37,1 derajat Celsius.
Di sisi lain, hujan masih bisa terjadi dalam intensitas sedang hingga lebat, terutama pada sore, malam, atau dini hari. Ini disebabkan pemanasan lokal yang kuat, kelembapan atmosfer yang masih cukup tersedia, serta dinamika angin dan pembentukan awan konvektif.
Awan konvektif terbentuk karena naiknya udara hangat dan lembab dari permukaan akibat pemanasan matahari. Awan konvektif menjadi salah satu penyebab utama hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Hujan juga bisa disertai kilat, petir, dan angin kencang.
“Inilah yang menyebabkan cuaca tampak berubah drastis, siang hari panas, kemudian pada sore atau malam hari dapat terjadi hujan lebat disertai petir dan angin kencang,” ucapnya.
Kapan Puncak Kemarau?
BMKG memprediksi puncak kemarau baru menjamah sebagian besar wilayah Indonesia pada Agustus mendatang. Sebagian wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kemarau yang lebih kering dari biasanya.
Maka itu, Andri mengingatkan agar masyarakat menyiapkan diri untuk dua hal, potensi cuaca ekstrem pada masa transisi, serta potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kemarau menguat.
“Untuk mitigasi dalam menghadapi cuaca ekstrem saat ini, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap hujan lebat berdurasi singkat, petir, angin kencang, genangan, banjir, maupun pohon tumbang,” kata Andri.
Dirinya turut mengimbau masyarakat agar menjaga tubuh saat cuaca panas, mencukupi kebutuhan cairan, menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari, serta menghindari aktivitas luar ruangan berlebihan pada siang hari.
Di wilayah-wilayah rawan karhutla seperti Riau, Kalimantan Barat, Aceh, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Selatan, masyarakat perlu meningkatkan waspada terhadap potensi kekeringan meteorologis.
“Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera melaporkan apabila melihat titik api atau indikasi kebakaran,” ujarnya.
Pemerintah daerah dan sektor terkait diminta menyiapkan langkah antisipasi, di antaranya terkait pengelolaan sumber daya air, kesiapan embung atau tampungan air, serta penguatan patroli dan pemantauan wilayah rawan karhutla.
