Risiko Hujan Ekstrem, Menteri Basuki Lakukan Pendataan Penyebab Banjir

Beberapa penyebab banjir yang sudah diketahui yakni jebolnya dua tanggul di Kemang Pratama, Bekasi dan rusaknya pompa air di beberapa titik.
Image title
Oleh Tri Kurnia Yunianto
3 Januari 2020, 12:22
Banjir Jakarta, Menteri PUPR, prediksi hujan ekstrem
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Seorang warga melintasi banjir di kawasan Kampung Baru, Kembangan, Jakarta Barat, Kamis (2/1/2020).

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menerjunkan orang ke 180 titik banjir di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) guna mengetahui dan mengatasi penyebab banjir. Hal ini dilakukan di tengah risiko hujan ekstrem pada pertengahan Januari hingga Februari mendatang.

"Saya hari ini menerjunkan 280 pegawai PUPR ke 180 titik berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dua hari ini mereka survei penyebab banjirnya," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di Jakarta, Jumat (3/1).

Sejauh ini, beberapa penyebab banjir yang sudah diketahui yakni adanya dua tanggul yang jebol di Kemang Pratama, Bekasi dan rusaknya pompa air di beberapa titik. "Kami akan investarisasi, Senin akan dikerjakan mengejar tanggal 11 - 15 Januari yang katanya akan hujan," ujarnya.

(Baca: BMKG: Waspadai Potensi Hujan Ekstrem hingga Pertengahan Februari 2020)

Di sisi lain, terkait normalisasi sungai dan pembuatan sodetan, ia menjelaskan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat berkolaborasi. Pemerintah Pusat mengerjakan yang struktural dan Pemprov DKI mengerjakan yang non-struktural.

Ia menjelaskan, proyek sodetan dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Di sisi lain, sosialisasi ke masyarakat terkait normalisasi dan pembuatan sodetan adalah bagian Pemprov. "Kalau mempercepat pembebasan lahan pasti tergantung pada Pemprov DKI," kata dia.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatoligi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai potensi hujan ekstrem hingga pertengahan Februari 2020. Yang terdekat, hujan ekstrem berpotensi terjadi pada 10-15 Januari 2020.

(Baca: Upaya DKI Tangani Banjir dan Normalisasi Ciliwung, dari Ahok ke Anies)

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, hujan ekstrem tersebut terjadi karena aliran udara basah dari Timur Afrika yang masuk ke wilayah Indonesia. Aliran udara basah tersebut diprediksi masuk pada 10-15 Januari 2020 dan berulang.  

“Siklus berulang pada akhir Januari hingga pertengahan Februari 2020,” kata dia dalam Rapat Koordinasi Banjir Jabodetabek di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (2/1).

Ia mengatakan, sejumlah wilayah yang diprediksi akan terdampak hujan dengan intensitas tinggi hingga ekstrem meliputi Sumatera bagian tengah dan Jawa. Cuaca tersebut juga diperkirakan akan melanda Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan hingga tenggara.

(Baca: Lima Aplikasi dan Situs untuk Pantau Banjir)

Atas dasar itu, masyarakat diimbau untuk mempersiapkan diri. “Sebagai antisipasi kemungkinan bencana yang dapat berpotensi terjadi,” ucap Dwikorita.

Video Pilihan

Artikel Terkait