Berau Dikembangkan sebagai Kawasan Industri Sawit Ramah Lingkungan

Zona ekonomi hijau untuk pengembangan sawit di Berau merupakan insiatif Indonesia dan Malaysia.
Pingit Aria
6 Desember 2016, 13:31
Kelapa sawit
Arief Kamaludin|KATADATA
Petani memanen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan kelapa sawit di Desa Delima Jaya, Kecamatan Kerinci, Kabupaten Siak, Riau.

Kawasan Industri Berau di Kalimantan Timur siap menjadi zona ekonomi hijau untuk pengembangan minyak kelapa sawit atau palm oil green economic zone (POGEZ). Pembangunan kawasan industri ini merupakan inisiatif Pemerintah Indonesia dan Malaysia melalui lembaga persatuan negara penghasil minyak kelapa sawit atau Council Palm Oil Producing Countries (CPOPC).

Rencananya, Berau akan jadi zona ekonomi hijau untuk pengembangan sawit kedua di Indonesia setelah Dumai, Riau. “Nah, Kawasan Industri Berau sudah siap karena didukung dengan ketersediaan fasilitas dan infrastruktur yang memadai,” kata Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Panggah Susanto, Selasa 6 Desember 2016.

Menurut Panggah, Kawasan Industri Berau yang berdiri di atas lahan seluas 3.400 hektare telah memiliki pelabuhan, sumber air, listrik, serta industri pulp dan kertas yang sudah beroperasi. “Diharapkan,produk industri hilir yang dihasilkan dari kawasan tersebut dapat memenuhi standard sustainability yang bersertifikat internasional sehingga menciptakan keuntungan berupa preferensi area pemasaran, premium selling price, hingga fasilitas atau kemudahan tertentu lainnya,” katanya. (Baca juga: Investasi Pertanian di Luar Jawa, Perusahaan Raih Keringanan Pajak)

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, pemerintah Indonesia dan Malaysia berkomitmen mendorong pengembangan industri olahan kelapa sawit yang mampu meningkatkan nilai tambah produk dan ramah lingkungan. Apalagi, Indonesia dan Malaysia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. “Kementerian Perindustrian telah berkomitmen meningkatkan nilai tambah produk kelapa sawit Indonesia melalui hilirisasi,” ujarnya.

Advertisement

Berdasarkan catatan Kemenperin, untuk industri olahan minyak sawit nasional pada tahun 2015, total kapasitas produksi bahan baku crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) sebanyak 35,50 juta ton yang terdistribusi untuk konsumsi domestik sebesar 8,09 juta ton, ekspor produk hilir 15,15 juta ton, dan ekspor CPO 12,26 juta ton. Sedangkan, nilai ekspor yang diciptakan mencapai US$ 24,77 juta dan ragam produk hilir yang dihasilkan sebanyak 146 jenis. (Baca juga: Jokowi Instruksikan Pemda dan BUMN Sediakan Lahan untuk Buah Lokal)

Mengenai pembangunan POGEZ, kata Panggah, Indonesia dan Malaysia telah mengusulkan masing-masing tiga lokasi. Pihak Indonesia menginginkan pengembangan di Kawasan Industri Dumai, Riau, Kawasan Industri Berau, Kalimantan Timur, dan Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara. Sedangkan pihak Malaysia, di Lahad Datu, Bintulu, dan Tanjung Manis.

 Ia juga menyatakan, kedua negara juga akan mengajak negara lain selaku penghasil minyak kelapa sawit untuk masuk dalam CPOPC. Dengan masuknya negara-negara tersebut, diharapkan berdampak positif bagi komoditi CPO di dunia. “Beberapa negara pengembang minyak sawit yang akan ikut bergabung, antara lain Brazil, Nigeria, Pantai Gading dan Thailand,” kata Panggah. (Baca juga:  Efek Faktor Musiman, Ekonomi Kuartal III Diprediksi Turun)

    News Alert

    Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

    Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
    Video Pilihan

    Artikel Terkait