Kejar Tenggat Vaksinasi Ala Menkes Budi

Sesuai titah Presiden Jokowi, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin harus menyelesaikan vaksinasi Covid-19 dalam waktu setahun.
Image title
13 Januari 2021, 06:00
Petugas menata vaksin COVID-19 Sinovac di lemari pendingin gudang Instalasi Farmasi, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (12/1/2021). Sebanyak 14.060 vial vaksin Sinovac pada tahap pertama diprioritaskan untuk tenaga kesehatan di Kota Bekasi.
ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/aww.
Petugas menata vaksin COVID-19 Sinovac di lemari pendingin gudang Instalasi Farmasi, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (12/1/2021). Sebanyak 14.060 vial vaksin Sinovac pada tahap pertama diprioritaskan untuk tenaga kesehatan di Kota Bekasi.
  • Baru vaksin Sinovac dari Tiongkok yang tiba di Indonesia.
  • Upaya untuk mendatangkan vaksin dari berbagai negara terus dikebut.
  • Ada keraguan epidemiolog.

Berbagai negara tengah mengupayakan vaksinasi untuk mengakhiri pandemi Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, vaksinasi Covid-19 untuk 70% penduduk dunia membutuhkan waktu selama 3 sampai 3,5 tahun.

Ya, setidaknya 5,5 miliar orang harus disuntik vaksin virus corona untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity secara global. Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, target vaksinasi Covid-19 mencapai 181,5 juta penduduk. Angka tersebut merupakan 70% populasi berusia di atas 18 tahun, dikurangi mereka yang hamil dan memiliki penyakit penyerta atau komorbid yang tak terkontrol.

Dalam konferensi pers pertamanya sebagai Menteri Kesehatan pada 30 Desember 2020 lalu, Budi Gunadi Sadikin memperkirakan vaksinasi Covid-19 perlu waktu 15 bulan. Namun, Presiden Joko Widodo menantang Budi untuk menyelesaikannya dalam waktu 12 bulan. Mungkinkah?

"Bapak Presiden memberikan tantangan, apakah bisa dipercepat sehingga bisa selesai dalam waktu 12 bulan? Kami akan berusaha keras," kata Budi pada pekan lalu.

Mantan Direktur Utama Bank Mandiri itu juga meminta dukungan dari seluruh pihak demi kelancaran program vaksinasi.

Penyuntikan vaksin Covid-1-9 pertama kali kepada Presiden Joko Widodo akan dilakukan pada Rabu (13/1) besok. Setelah itu, vaksinasi tahap awal akan diberikan kepada 1,3 juta tenaga kesehatan yang tersebar di 34 provinsi. Pemberian vaksin pada kelompok ini ditargetkan selesai pada Februari 2021.

Berikut adalah Databoks sebaran tenaga kesehatan penerima vaksin tahap awal: 

Selanjutnya, vaksinasi akan dilakukan secara berturut-turut kepada 17,4 juta petugas publik dan 21,5 juta lansia. Kedua kelompok tersebut akan diberikan vaksin pada Maret-April 2021.

Meski begitu, vaksinasi pada lansia harus menunggu stok vaksin dari Pfizer dan AstraZeneca. Sebab, dua vaksin tersebut telah diuji kepada lansia. Sementara vaksin buatan Sinovac yang kini telah tiba di Indonesia lebih cocok untuk usia di bawah 60 tahun.

Bila vaksinasi kepada lansia sudah selesai, pemerintah akan mulai memberikan vaksin kepada 63,9 juta masyarakat rentan dan 77,4 masyarakat lainnya.

"Kalau (lansia) selesai, diharapkan akhir April atau awal Mei kita bisa lakukan vaksinasi untuk seluruh masyarakat," ujar Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Selasa (12/1).

Proses Distribusi Vaksin

Pengadaan vaksin Covid-19 oleh pemerintah dilakukan melalui lima jalur, yaitu empat jalur bilateral dan satu jalur multilateral. Lewat jalur bilateral, pemerintah sudah meneken kontrak dengan Sinovac dari Tiongkok untuk pembelian 125 juta dosis vaksin dan memiliki opsi penambahan sebesar 100 juta dosis.

Pemerintah juga telah meneken kontrak pembelian 50 juta dosis vaksin dari Novavax dari Amerika Serikat dan memiliki opsi penambahan sebesar 80 juta dosis. Kemudian, pemerintah meneken kontrak dengan Astrazeneca untuk pembelian 50 juta dosis vaksin dan memiliki opsi penambahan 50 juta dosis.

Pemerintah juga segera memfinalisasi kontrak pembelian 50 juta dosis vaksin dengan Pfizer dan memiliki opsi penambahan 50 juta dosis. 

Lewat jalur multilateral, Indonesia mengikuti kerja sama aliansi global untuk vaksin dan imunisasi (GAVI). Perkiraannya, Indonesia akan mendapatkan minimal 54 juta dosis hingga maksimal 108 juta dosis vaksin gratis dari GAVI.

GAVI akan memberikan sejumlah pilihan vaksin kepada Indonesia, yaitu Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Novavax. Pemerintah pun masih mendiskusikan terkait merek vaksin yang akan dipilih melalui kerja sama GAVI. 

DISTRIBUSI VAKSIN COVID-19 DI BANTEN
DISTRIBUSI VAKSIN COVID-19 DI BANTEN (ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman/rwa.)

 

Berdasarkan data Kemenkes, vaksin dari GAVI akan tiba secara bertahap sebanyak 6 juta dosis per bulan. Proses pengiriman dilakukan mulai April 2021 hingga Maret 2022.

Kemudian, vaksin Pfizer diperkirakan mendarat di Tanah Air secara bertahap, yaitu 8 juta dosis setiap bulan. Pengiriman Pfizer akan dilakukan selama rentang waktu delapan bulan.

Selanjutnya, vaksin Novavax diperkirakan akan tiba di Indonesia pertama kali pada Juni 2021 sebanyak 4 juta dosis. Selanjutnya, Novavax dikirimkan sebanyak 8 juta dosis per bulan hingga Maret 2022.

Berikutnya, pengiriman vaksin AstraZeneca bakal dilakukan pertama kali pada April mendatang sebanyak 150 ribu dosis. Selanjutnya, vaksin dari Universitas Oxford, Inggris itu dikirim secara bertahap hingga Januari 2022.

Sementara, pengiriman vaksin Sinovac pada tahun ini direncanakan sebanyak 116,58 juta vaksin. Selebihnya, sebanyak 8,92 juta vaksin akan dikirim pada Januari 2022.

Namun, Budi memastikan bahwa rencana pengiriman vaksin itu bersifat dinamis. Ia mengakui, ada kesulitan pergerakan vaksin seiring dengan adanya karantina wilayah atau lockdown di berbagai negara.

Sebagai contoh, India sebagai produsen vaksin terbesar akan memprioritaskan vaksin untuk penduduknya seiring dengan adanya lockdown di berbagai negara. Hal ini pula yang menjadi perkiraan bahwa vaksinasi dilakukan dalam waktu 15 bulan.

"Bottle neck-nya adalah dari produksi vaksin. Jadi bukan masalah kemampuan vaksinasi dari 10 ribuan puskesmas yang kita miliki," kata Budi.

Berikutnya, suara keraguan epimiolog...

Reporter: Rizky Alika
Editor: Pingit Aria

Video Pilihan

Artikel Terkait