Facebook dan Google Diminta Hapus Konten Anti Vaksin

Wabah campak di Washington, AS, diperparah oleh beredarnya hoaks anti vaksin di internet.
Desy Setyowati
19 Februari 2019, 19:53
Facebook
Katadata

Facebook dan Google diminta menghapus konten anti vaksin. Sebab, penyakit campak tengah mewabah di Washington DC, Amerika Serikat (AS), namun kondisi ini justru diperparah dengan beredarnya hoaks anti vaksin di internet.

Anggota Kongres dari Partai Demokrat Adam Schiff pun mengirim surat kepada pimpinan Facebook dan Google. Ia meminta agar platform tersebut meminimalkan sebaran informasi palsu terkait vaksin.

Dalam surat itu, Schiff menulis bahwa informasi yang salah pada platform ini bisa membuat orang tua mengabaikan nasihat medis yang sah terkait vaksinasi terhadap anak-anak mereka. "Pengulangan informasi, bahkan jika salah, seringkali dapat keliru akurasinya,"  tulisnya dikutip dari The Verge, Jumat (15/2) lalu.

Melalui surat yang ditujukan kepada CEO Facebook Mark Zuckerberg itu, Shiff prihatin karena Facebook dan Instagram menjadi tempat bagi konten palsu tentang anti vaksin. Padahal, vaksin yang digunakan sudah terbukti aman, efektif, dan penting bagi kesehatan masyarakat.

Advertisement

(Baca: Awal Mula Istilah Unicorn dalam Debat Capres Jokowi dan Prabowo)

Selain Facebook, Shiff mengirim surat ke CEO Google Sundar Pichai. Sebab, konten sejenis juga beredar di YouTube. Schiff memuji YouTube atas upaya untuk membatasi rekomendasi untuk video berisi konten negatif baru-baru ini. The Guardian melaporkan, bahwa langkah ini sudah mencakup pembatasan konten palsu yang memuat anti vaksin.

Pada Juli 2018, YouTube mengumumkan bahwa mereka akan menghubungkan penonton dengan informasi dari pihak ketiga. Misalnya, YouTube menautkan penonton ke halaman Wikipedia, ketika mereka mencari konten tentang vaksin MMR.

Melalui surat itu, Shiff meminta penjelasan, apakah keduanya menerima iklan terkait anti vaksin. Sebab, menurut Daily Beast, iklan anti-vaksin di Facebook menargetkan demografi yang sebagian besar adalah Ibu Rumah Tangga.

Juru Bicara Facebook enggan berkomentar perihal iklan tersebut. Namun, ia mengatakan bahwa perusahaannya menghapus konten yang melanggar Standar Komunitas. "Kami menolak artikel yang mungkin menyesatkan, dan menunjukkan artikel pemeriksa fakta pihak ketiga untuk memberi orang lebih banyak informasi, "kata dia.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Pingit Aria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait