Dicari: Startup Pembuat

Sekitar 90% produk yang ditransaksikan di e-commerce adalah produk impor. Pelaku bisnis di Indonesia dapat belajar dari penginovasi di Tiongkok dan Vietnam.
Ade Febransyah
Oleh Ade Febransyah
29 Agustus 2020, 11:00
Ade Febransyah
Ilustrator: Betaria Sarulina
Pameran startup teknologi dan inovasi industri anak negeri di Hall B JCC, Jakarta, pada Kamis (3/10). Hampir 400 startup teknologi akan meramaikan Pameran Startup Teknologi dan Inovasi Industri Anak Negeri (I3E).

Jalan membuat produk yang hebat juga dilakukan oleh konglomerat kelas berat asal Vietnam bernama Vingroup. Seperti konglomerat tipikal lainnya, Vingroup juga fokus pada bisnis ritel, pengembang, dan berbagai layanan lainnya. Namun beda dari kerumunan, Vingroup berani masuk ke industri baru yang tidak dikuasainya, industri otomotif. Tidak ada kemampuan dalam desain, teknologi dan produksi mobil, tapi serius membuat mobil nasional pertama Vietnam yang namanya Vinfast. Dan yang dilakukan tidak tanggung-tanggung.

Belum mempunyai kemampuan apapun dalam dunia otomotif, bukan berarti menghalangi terwujudnya mimpi besar. Dengan kekuatan pendanaan yang dimiliki, Vingroup mampu merangkul powerhouse di industri otomotif. Untuk urusan desain, mereka bermitra dengan rumah desain ternama asal Italia, Pininfarina. Untuk teknologi, mereka menggandeng BMW untuk menggunakan lisensi milik aristokrat mobil asal Jerman itu. Selanjutnya untuk urusan produksi, mereka harus menyiapkan fasilitas produksi di tanah mereka sendiri. Lengkap sudah rangkaian rantai nilai inti dalam urusan membuat.

Dari yang awalnya bukan produsen (non producer) akhirnya bisa jadi produsen mobil. Hal ini dapat terjadi karena kekuatan pendanaan. Tapi kekuatan pendanaan saja tidak cukup. Menjadi pembuat harus diawali dari maksud yang kuat menjelaskan mengapa (why) mereka membuat. Setelah itu mereka mencari tahu bagaimana (how) membuat yang tepat. Baru setelah itu, mereka akan leluasa untuk menentukan pencapaian hebat seperti apa (what) yang ingin diraih.

startup unicorn
Ilustrasi startup unicorn (Katadata/Desy Setyowati)

Inovasinya Indonesia

Jalan membuat yang dilakukan oleh penginovasi di Tiongkok dan Vietnam di atas bukanlah hanya untuk dikagumi. Pelaku bisnis di Indonesia pun bisa belajar darinya dan mampu mengikutinya. Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia, ukuran pasar dari  produk kebutuhan fungsional menjadi begitu besar.

Sayang sekali jika pasar domestik hanya dipenuhi oleh produk luar. Inilah kesempatan bagus bagi startup pembuat di Tanah Air untuk hadir dan membuat apa saja yang dibutuhkan masyarakat. Untuk menjadi pembuat yang hebat, paling tidak harus memperhatikan empat perspektif membuat yaitu: market, infrastruktur perusahaan, jejaring inovasi, dan regulasi (Febransyah, 2015).

Dari perspektif market, buatlah produk-produk yang mengakrabi kebutuhan sehari-hari yang memiliki ukuran dan nilai pasarnya begitu besar. Dalam era liberalisasi pasar sekarang ini, memang tidak dapat lagi membatasi lajunya arus masuk barang dari luar ke Indonesia. Adu kecepatan (faster), keunggulan (better), atau  murah (cheaper) menjadi tantangan yang harus dimenangkan oleh pembuat lokal.

Perlu kemampuan dari segala sumber daya dan serangkaian proses yang dimiliki dan dijalankan perusahaan. Pembuat lokal harus sungguh-sungguh meningkatkan kualitas infrastruktur perusahaannya. Alasan klasik pembuat lokal tidak dapat berkompetisi dalam adu murah harus dibuang jauh-jauh. Tidak dipungkiri banyak produk-produk fungsional dari luar yang begitu murah, yang sepertinya tidak menyisakan ruang untuk disaingi produk lokal.   

Namun, masyarakat juga berhak untuk mendapat produk yang lebih baik, bukan lebih murah. Lihatlah problem, kebutuhan maupun pekerjaan di masyarakat yang belum terselesaikan dengan baik oleh produk-produk luar. Ambil contoh sederhana saja, mulai dari bingkai kacamata saja. Banjirnya produk-produk luar tersebut ke sini belum tentu fit dengan penggunanya Indonesia. One size doesn’t fit all. Peluang bagus bagi desainer dan pembuat bingkai kacamata yang benar-benar tepat untuk wajah kita. Nilai pasarnya di Indonesia sudah trilyunan dan memperlihatkan pertumbuhan stabil di sekitar 5 -10% per tahun.

Sekolah-sekolah desain produk, teknik produksi, dan bisnis di dalam negeri siap untuk menyiapkan sumber daya manusia berkualitas untuk menjalankan bisnis membuat. Sumber daya manusia, kekayaan intelektual, teknologi dan pendanaan merupakan infrastruktur perusahaan yang harus dimiliki.

Kemitraan yang kuat dengan berbagai pihak dalam rantai suplai menjadi penentu keberhasilan menjalankan proses berkualitas. Bagi kebanyakan startup, pendanaan di awal usaha merupakan rintangan besar yang harus dilewati. Inilah bagian dari jejaring inovasi yang harus dibangun oleh pembuat. Risk capital bagi startup harus tersedia bagi startup. Berbagai platform fintech untuk pendanaan produktif menjadi aktor penting dalam jejaring inovasi. Dengan kekuatan pendanaan, startup dapat membangun jejaring inovasinya yang berkualitas. Keberhasilan startup ditentukan dari kualitas jejaring inovasinya.

Dan terakhir, kehadiran startup pembuat yang hebat di Tanah Air dapat diwujudkan lewat regulasi pemerintah yang berpihak pada kemajuan para pembuat lokal. Berbagai keringanan bagi pembuat dalam mengadakan segala bahan baku dan barang setengah jadi dan pemberian insentif kepada masyarakat dalam membeli produk yang masih terlalu mahal merupakan stimulan untuk memajukan pembuat lokal. Lihatlah Tiongkok dalam memajukan industri mobil listriknya. Agar kendaraan listrik buatan lokal diserap oleh pasar domestik, ada insentif yang diberikan kepada pembeli di sana agar harga kendaraan dapat lebih terjangkau.   

Era ekonomi digital memang memberikan keluasan oportunitas bagi pelaku bisnis untuk menghadirkan layanan serba digital kepada masyarakat. Tapi tetap jangan lupakan urusan membuat. Ada kesempatan besar pagi pelakunya untuk sukses dari bisnis membuat. Juga ada kesempatan besar bagi bisnis membuat untuk berkontribusi besar bagi kemajuan perekonomian bangsa. Dan yang tidak bisa dinilai tentunya adalah kebanggaan nasional. Tidak ada bangsa besar tanpa menjadi pembuat. Dirgahayu Indonesia ke 75. Negerinya para pembuat. Semoga!

Ade Febransyah
Ade Febransyah
Guru Inovasi Prasetiya Mulya Business School
Editor: Redaksi

Video Pilihan

Artikel Terkait