Facebook Papers Sebut Zuckerberg Abaikan Konten Hoaks

Facebook Papers dibocorkan oleh mantan karyawan Facebook, Frances Haugen. Dokumen itu menyoroti kebijakan perusahaan yang membiarkan konten hoaks dan perdagangan manusia.
Image title
26 Oktober 2021, 11:15
Mark Zuckerberg
Alex Edelman/ZUMA Wire/dpa

Dokumen internal perusahaan yang disebut Facebook Papers mengungkapkan praktik ketidakpedulian perusahaan terhadap konten ujaran kebencian dan perdagangan manusia. Dokumen itu juga menyeret CEO Facebook Mark Zuckerberg.

Facebook Papers merupakan dokumen yang diungkap oleh mantan karyawan Facebook Frances Haugen kepada kongres dan sejumlah media. Dokumen itu berisi puluhan ribu halaman penelitian internal Facebook.

Haugen menyebut dokumen itu mengungkapkan sejumlah praktik pembiaran Facebook atas isu-isu sosial. Padahal, para eksekutifnya termasuk Zuckerberg mengetahui masalah itu.

Ini misalnya, Facebook mengizinkan konten ujaran kebencian berkembang di Vietnam. Zuckerberg telah mengetahui hal tersebut, tetapi  ia membiarkannya sehingga konten terlampau membuat polarisasi sosial di Vietnam. 

Dalam dokumen tersebut dijelaskan, alasan Facebook membiarkan konten ujaran kebencian berseliweran karena masalah keterbatasan linguistik. Namun, Haugen menganggap bahwa pembiaran itu bukan kendala linguistik. Facebook membiarkannya karena konten ujaran kebencian memberikan keuntungan. Berdasarkan algoritma perusahaan, konten itu telah membawa interaksi yang besar di platform.

"Ini karena ada keengganan di Facebook untuk mengakui bahwa mereka bertanggung jawab kepada siapa pun," kata Haugen dikutip dari CNBC Internasional pada Senin (25/10).

Kemudian, Facebook juga tidak memiliki kebijakan pembatasan ujaran kebencian atau hoaks yang banyak beredar di Myanmar, Pakistan, serta Ethiopia. Padahal, negara-negara itu memiliki risiko keamanan tinggi.

Selain itu, dokumen itu juga mengungkap bahwa Facebook mengetahui adanya praktik perdagangan manusia di platform sejak 2018. Saat itu, marak akun serta grup pengguna Facebook di Timur Tengah yang menjalankan praktik perdagangan manusia.

"Ini suatu bentuk perdagangan orang untuk tujuan bekerja di rumah majikannya disertai kekerasan, penipuan, pemaksaan, atau penipuan," demikian isi dari Facebook Papers.

Para penjual pekerja itu memanfaatkan Facebook dan Instagram dengan cara membuat postingan dan tagar menggunakan bahasa Arab. Postingan tersebut paling banyak dibagikan oleh pengguna di Arab Saudi dan Kuwait.

Menurut Haugen, Facebook sempat membiarkan praktik itu bebas dijalankan sebelum akhirnya Apple bertindak. Setalah kabar perdagangan manusia terkuak dalam laporan investigasi BBC News Arabic pada 2019, Apple langsung mengancam menarik akses Facebook dan Instagram di toko aplikasinya, App Store.

Atas sejumlah tuduhan Facebook Papers, CEO Facebook pun langsung membantahnya. Zuckerberg mengatakan bahwa laporan itu sesat.

"Kritik dengan itikad baik akan membantu kami menjadi lebih baik, tetapi dalam pandangan saya ini merupakan upaya terkoordinasi untuk melukiskan gambaran palsu tentang perusahaan kami," kata Zuckerberg.

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait