Profil Djoko Susanto, Bos Alfamart Orang Terkaya ke-10 di Indonesia

Djoko Susanto mulanya membangun bisnis swalayan dengan menggandeng perusahaan rokok HM Sampoerna pada 1989.
Dzulfiqar Fathur Rahman
12 Desember 2022, 18:19
Orang terkaya
Arief Kamaludin / Katadata
Stand Alfamart di area pameran

Pengusaha Djoko Susanto menjadi orang terkaya nomor 10 di Indonesia menurut majalah bisnis Forbes. Djoko membangun kekayaannya sebagian besar lewat bisnis ritel yang telah dia mulai sejak 1980-an.

Forbes melaporkan  Djoko memiliki kekayaan bersih US$ 4,1 miliar. Ini menandai peningkatan lebih dari dua kali lipat dari 2021, seiring dengan pertumbuhan bisnis ritel barang-barang kebutuhan sehari-hari. Dia juga telah memperluas bisnisnya ke sektor keuangan.

Perusahaan rantai swalayan PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) merupakan bisnis yang berkontribusi paling besar terhadap kekayaan Djoko. Sebelum mengembangkan Alfamart, pria berusia 72 tahun ini mengawali bisnisnya lewat usaha keluarga.

(Baca: Simak! Ini Daftar Orang Terkaya di Indonesia 2022 versi Forbes)

Pada 1967, Djoko mulai mengelola toko milik orangtuanya di sebuah pasar tradisional di Jakarta. Toko yang bernama Sumber Bahagia ini menjual bahan-bahan pokok. Djoko kemudian menambahkan rokok ke dalam daftar produk yang dijual oleh Sumber Bahagia.

Kesuksesan Djoko menjual rokok membuka jalan untuk dia terjun ke dalam bisnis retail. Taipan rokok Putra Sampoerna tertarik dengan kemampuan Djoko. Pada 1980, mereka bertemu dan sepakat untuk bekerjasama. Pada 1985, kerjasama ini menghasilkan toko-toko baru yang mirip Sumber Bahagia.

Djoko memulai bisnis pasar swalayan (supermarket) pada 1989. Lewat kerjasamanya dengan Putra Sampoerna, Djoko meluncurkan swalayan yang disebut Alfa Toko Gudang Rabat. Ini menjadi bisnis pertama yang menggunakan nama “Alfa” di bawah kepemimpinan Djoko.

Gurita bisnis retail Djoko berkembang pesat pada 2002. Pria kelahiran Jakarta ini mengakuisisi 141 toko dan mengganti namanya menjadi Alfamart.

Djoko mengambil alih kepemimpinan Alfamart pada 2005. Ini terjadi menyusul pergeseran kepemilikan saham mayoritas PT Hanjaya Mandala (HM) Sampoerna ke raksasa rokok Philip Moris International. Djoko membeli mayoritas saham bisnis ritel ini dari Philip Moris International karena perusahaan rokok itu ingin berfokus ke produk utamanya.

Di bawah kepemimpinan Djoko, Alfamart melantai ke bursa dengan kode saham AMRT pada 2009. Harga sahamnya tercatat di Rp 2.550 per lembar pada penutupan Senin (12/12/2022). Ini menandai peningkatan 107,32% dari awal tahun.

Djoko kemudian memperluas portfolio bisnisnya. Pada 2012, misalnya, Alfamart mendirikan PT Sumber Indah Lestari. Ini merupakan anak usaha yang bergerak di bidang kosmetik. Selain diversifikasi, Alfamart juga melakukan ekspansi, seperti mulai membuka gerai baru di Medan, Sumatra Utara, pada 2012.

Pertumbuhan Alfamart berhasil mendorong kekayaan Djoko sehingga mulai masuk ke dalam daftar orang terkaya di Indonesia dari Forbes pada 2011. Pada 2012, majalah bisnis tersebut memperkirakan kekayaan bersih Djoko mencapai US$ 1 miliar.

Pada Juni 2022, Djoko memperluas bisnisnya ke sektor keuangan. Alfamart mengakuisisi 2,2% saham PT Bank Aladin Syariah dengan investasi Rp500 miliar.

Pertumbuhan Alfamart dan ekspansi bisnis ini berhasil mengembalikan kekayaan Djoko ke tren naik. Di tengah puncak pandemi COVID-19 pada 2020, kekayaan bersih Djoko turun kira-kira 7,7% ke US$ 1,2 miliar dari tahun sebelumnya.

Reporter: Dzulfiqar Fathur Rahman
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait