Utang RI Naik, Negara Mana dengan Rasio Utang Tertinggi Dunia?

Peningkatan utang juga dialami hampir seluruh negara. Pandemi Covid-19 membuat kebutuhan belanja naik, terutama untuk stimulus pemulihan ekonomi dan program vaksin.
Image title
29 April 2021, 17:07
utang, kementerian keuangan, utang indonesia, utang ri, surat berharga negara, sbn
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Ilustrasi. Rasio utang Indonesia terhadap produk domestik bruto per Maret 2021 sekitar 41,64%.

Posisi utang pemerintah per akhir Maret 20201 mencapai Rp 6.445,07 triliun. Rasionya terhadap produk domestik bruto atau PDB sekitar 41,64%.

Realisasinya, menurut data dari Kementerian Keuangan, melonjak 24,12% atau Rp 1,252 triliun jika dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

"Peningkatannya disebabkan kondisi ekonomi Indonesia masih berada dalam fase pemulihan akibat penurunan ekonomi yang terjadi di masa pandemi Covid-19," bunyi laporan APBN KiTa edisi April 2021 yang dirilis Senin (26/4).

Mayoritas utangnya adalah surat berharga negara (SBN) dengan porsi 86,63% atau Rp 5.583,16 triliun. Sedangkan utang dalam bentuk pinjaman tercatat Rp 861,91 triliun atau 13,37%. 

Advertisement

Dari sisi mata uang, utang pemerintah pusat semakin didominasi utang dalam rupiah, yaitu mencapai 67,09% dari total komposisi utang pada akhir Maret 2021.

Lembaga pemeringkat Rating and Investment Information, Inc.(R&I) dan Standard and Poor’s (S&P) pekan lalu mempertahankan peringkat kredit Indonesia. Negara ini dinilai mampu menjaga kondisi perekonomian tetap stabil di tengah tekanan kondisi eksternal dan fiskal akibat Covid-19.

S&P optimistis tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di atas rata-rata negara peers. Potensi ini didorong reformasi struktural melalui pengesahan undang-undang atau UU Cipta Kerja.

Infografik_RI Masuk 10 Negara Pengutang Terbesar
Infografik_RI Masuk 10 Negara Pengutang Terbesar (Katadata)

 

Daftar Negara dengan Rasio Utang Terbesar

Peningkatan utang pemerintah juga dialami hampir seluruh negara di dunia. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan belanja yang cukup besar terutama untuk memberikan stimulus pemulihan ekonomi dan penyediaan program vaksinasi gratis.

Korea Selatan, melansir dari situs Yonhap News Agency, mengalami kenaikan rasio utang pada tahun lalu dari 37,7% pada 2019 menjadi 44%. 

Defisit fiskal negara itu melebar seiring dengan naiknya belanja penanganan pandemi yang besar. Di sisi lain, penerimaan pajaknya menurun.

World Economic Forum pada awal 2019 sempat menuliskan peringkat rasio utang negara-negara dunia. Berikut sepuluh besarnya:

  1. Jepang dengan rasio utang terhadap PDB di 237,6%
  2. Yunani 181,8%
  3. Lebanon 146,8%
  4. Italia 131,8%
  5. Portugal 125,7%
  6. Sudan 121,6%
  7. Singapura 111,1%
  8. Amerika Serikat 105,2%
  9. Belgia 103,4%
  10. Mesir 103% 

Sedangkan negara dengan rasio utang paling rendah adalah:

  1. Makau 0%
  2. Hong Kong 0,1%
  3. Brunei Darussalam 2,8%
  4. Afghanistan 7%
  5. Estonia 9%
  6. Biotswana 14%
  7. Rusia 15,5%
  8. Arab Saudi 17,2%
  9. Republik Demokratik Kongo 18,1%
  10. Paraguay 19,5%
Dolar
Ilustrasi utang. (Arief Kamaludin|KATADATA)

Apa Arti Rasio Utang Terhadap PDB?

Investopedia menuliskan, ketika suatu negara gagal membayar utang, hal ini dapat memicu kepanikan finansial hingga ke skala global. Semakin tinggi rasio utang terhadap PDB, biasanya semakin tinggi risiko gagal bayarnya. 

Pemerintah setiap negara selalu berusaha menurunkan rasio tersebut. Namun, kondisinya akan sulit ketika negara berada di masa perang, resesi, krisis, atau pandemi. 

Dalam keadaan tersebut, pemerintah cenderung meningkatkan pinjaman untuk merangsang pertumbuhan dan meningkatkan permintaan.

Sebuah studi oleh Bank Dunia menemukan, negara dengan rasio utang terhadap PDB melebihi 77% dalam periode lama akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.

Setiap satu poin persentase utang di atas tingkat tersebut dapat merugikan 1,7% pertumbuhan ekonomi negaranya. Fenomena ini bahkan lebih terasa di negara berkembang. Setiap satu poin persentase tambahan utang lebih dari 64% maka pertumbuhannya melambat 2%. 

Jepang telah mengalami kondisi tersebut. Dengan populasi 126,3 juta orang rasio utangnya tertinggi secara global. 

Semua bermula pada peristiwa pecahnya pasar saham dan properti di 1991. Pemerintah di sana terpaksa menggelontorkan uang sangat besar untuk mencegah kebangkrutan massal sektor perbankan dan asuransi.

Paket stimulus plus populasi yang menua dengan cepat membuat pemerintah mengeluarkan biaya besar untuk kesehatan dan jaminan sosial. Utang Negeri Sakura melewati angka 100% dari PDB pada akhir 1990an.

Lalu, angkanya melonjak melebih 200% pada 2010. Dengan keluarnya paket stimulus untuk menangani Covid-19, banyak analisis memperkirakan rasio utang Jepang sekarang lebih tinggi lagi. 

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait