BI: Depresiasi Rupiah Lebih Baik Dibanding Korea Selatan dan Filipina

Bank Indonesia menyebut, depresiasi Rupiah sejak awal tahun ini sebesar 8,65% masih lebih baik dibandingkan won Korea Selatan dan peso Filipina yang berada di level 10,30% dan 11,10%.
Patricia Yashinta Desy Abigail
17 November 2022, 20:38
Pegawai menghitung uang Rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Kamis (25/8/2022). Bank Indonesia mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juli 2022 tercatat sebesar Rp7.846,5 triliun atau tumbuh 9,6 pers
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.
Pegawai menghitung uang Rupiah di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta, Kamis (25/8/2022). Bank Indonesia mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada Juli 2022 tercatat sebesar Rp7.846,5 triliun atau tumbuh 9,6 persen (yoy).

Bank Indonesia berkomitmen memastikan untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam menghadapi gejolak global. BI juga menyampaikan, depresiasi Rupiah saat ini masih relatif lebih baik dibandingkan mata uang lainnya. 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan nilai tukar lebih dipengaruhi oleh faktor yang kedua yaitu faktor fundamental. Adapun, nilai tukar Rupiah sampai dengan 16 November 2022 terdepresiasi 8,65% year to date dibandingkan dengan level akhir 2021.

Kendati demikian, depresiasi nilai tukar Rupiah, kata Perry relatif lebih baik dibandingkan melemahnya kurs mata uang  di kawasan, seperti won Korea Selatan yang turun 10,30% year to date dan peso Filipina  anjlok 11,10% year to date.

"Seluruh indikator faktor fundamental indonesia ini mendukung penguatan nilai tukar rupiah. Pertama, pertumbuhan ekonomi kita 5,7%, termasuk ini yang tertinggi di dunia jika dibandingkan dengan negara-negara lain," kata Perry dalam konferensi pers, Kamis (17/11).

Advertisement

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga tertinggi apalagi dengan kondisi Inggris yang mengalami inflasi 10% dan Amerika lebih dari 8%. Selain itu, kondisi neraca pembayaran di mana transaksi berjalan di Indonesia disebut surplus. Lalu imbal hasil SBN Indonesia dibandingkan dengan US Treasury tetap menarik. Poin-poin ini, menurut Perry dapat mendukung fundamental rupiah yang menguat.

"Oleh karena itu, komitmen Bank Indonesia melakukan stabilisasi untuk memastikan nilai tukar stabil, kami melakukan intervensi agar kejolak global tidak berdampak kepada ekonomi domestik serta kondisi fundamental kita tetap terjaga," katanya.

Selain itu, Perry menyebut kuatnya dolar Amerika Serikat (AS) dipicu oleh pengetatan kebijakan moneter yang agresif di AS dan penarikan modal dari berbagai negara ke AS, di tengah melemahnya ekonomi dan tingginya inflasi di Eropa. Pada saat bersamaan, tingginya ketidakpastian pasar keuangan global berlanjut. Hal tersebut memberi tekanan pelemahan nilai tukar hampir seluruh mata uang dunia, termasuk nilai tukar Rupiah.

Bank Indonesia mencatat indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) tercatat 106,28 pada 16 November 2022 atau mengalami penguatan sebesar 11,09% year to date selama tahun 2022.

Oleh karena itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan bekerjanya mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan stabilitas makroekonomi.

 

Reporter: Patricia Yashinta Desy Abigail
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait