Dorongan Kenaikan Bunga Acuan dan Para Pembonceng Kejatuhan Rupiah

Penulis: Muchamad Nafi

Sabtu 28/4/2018, 13.00 WIB

Kenaikan suku bunga acuan pada 2013 – 2014 malah membuat rupiah makin terpuruk. Kini, pasar butuh ketegasan Bank Indonesia agar hal tersebut tak terulang.

BI rupiah
Arief Kamaludin (Katadata)

Sepanjang minggu ini, gerak rupiah membuat pasar begitu gusar. Bersama mata uang sejumlah negara, rupiah jatuh hingga menyentuh 14.000 per dolar Amerika Serikat. Bursa terseret ke bawah level 6.000. Beberapa pihak mendorong Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga acuan yang dituding salah satu biang keladinya. Namun, bila mengambil langkah tersebut, dikhawatirkan hanya menguntungkan para investor global, sebaliknya membuat rupiah makin tersungkur.

Drama tersebut dimulai pada Jumat pekan lalu ketika mata uang Indonesia melemah hingga menembus 13.800 per dolar Amerika Serikat. Perdagangan di pasar spot pekan ini bahkan makin memperparah kejatuhannya yang mendekati batas psikologis baru di level 14.000 per dolar pada Kamis kemarin -ditutup pada 13.879 per dolar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Pada hari yang sama, pukulan dolar atas rupiah menyeret bursa saham. Tak lama usai pembukaan perdagangan pada Kamis pagi, transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) memerah sepanjang hari. Indeks Harga Saham Gabung sempat menyentuh 5.898 dan ditutup melemah 2,81 persen pada level 5.909, terendah sejak awal Oktober 2017.

Bagi otoritas bursa, gejolak tersebut perlu ditenangkan. Sore harinya, Direktur Utama BEI Tito Sulistio menggelar konferensi pers. Dia menyatakan pelemahan pasar saham domestik dipicu oleh ketidakpastian global sehingga investor beralih ke pasar obligasi. Hari itu investor asing melepas Rp 1,31 triliun. Tapi, “Yang paling menarik secara tahunan, asing keluar US$ 7 miliar (dari pasar saham) tetapi masuk US$ 8,5 miliar ke pasar obligasi,” kata Tito. (Baca: Dirut BEI: Investor Asing Jual Saham, Pindah ke Obligasi).

Rupanya, rasa was-was juga menggelayut di pemerintahan. Pada Kamis sore itu juga, Presiden Joko Widodo memanggil Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso, dan sejumlah pembantunya. Mereka yaitu Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Badan Usaha Milik Negaa (BUMN) Rini Soemarno.

Pertemuan tersebut digelar di Istana Kepresidenan Bogor setelah rapat terbatas mengenai Badan Pengelola Dana Haji selesai pada pukul 15.30 WIB. Agenda ini di luar jadwal Jokowi yang diumumkan kepada pers. Menurut sumber Katadata, pertemuan salah satunya membahas situasi terakhir rupiah yang makin tertekan oleh keperkasaan dolar Amerika.

(Baca: Rupiah dan IHSG Anjlok, Jokowi Panggil Gubernur BI, OJK & Para Menteri).

Sebelum pertemuan tersebut, Agus mengatakan faktor eksternal pelemahan rupiah imbas dari penguatan tajam dolar Amerika yang dipicu oleh meningkatnya imbal hasil (yield) US Treasury atau surat berharga Amerika. Ada juga ekspektasi bank sentral Amerika, The Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuan, Fed Fund Rate, lebih dari tiga kali sepanjang tahun ini.

Kenaikan yield dan suku bunga The Fed terdorong oleh meningkatnya optimisme investor terhadap prospek ekonomi Negeri Paman Sam seiring berbagai data ekonomi di sana yang terus membaik. Juga, tensi perang dagang Amerika dan Tiongkok meningkat.

Selain faktor eksternal, sejumlah pihak menilai keputusan BI yang mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Repo di level 4,25 persen pada 19 April lalu berandil besar dalam memperparah rupiah. Karena bunga tidak naik, investor diduga berbondong-bondong keluar dari Indonesia dan menempatkan dolar mereka di negara-negara yang lebih aman dengan imbal hasil cukup kompetitif.

Karena itu, Ekonom Institute for Development of Economic & Finance (INDEF) Bhima Yudhistira mengatakan kenaikan suku bunga acuan bisa jadi solusi di tengah tekanan global. Apalagi, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak diprediksi bakal mengerek inflasi.

Dia memperkirakan Indonesia akan menghadapi inflasi ganda dari harga bergejolak (volatile food) dan harga yang dikendalikan (administered price) pada Lebaran nanti. “Jadi cara paling mungkin menaikkan bunga acuan 25-50 basis point,” kata Bhima.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Hariyadi Sukamdani juga mendorong BI untuk menaikkan suku bunga acuan sebagai cara menangani kejatuhan nilai tukar rupiah. Harapannya, aksi spekulasi juga bisa ditahan. Walaupun, ia menyadari konsekuensi dari langkah tersebut dapat memperlambat laju ekonomi.

Semula BI kukuh untuk mempertahankan kebijakannya. Bank sentral melihat rupiah masih mampu menahan tekanan eksternal, ditopang fundamental ekonomi dalam negeri yang baik. Misalnya, kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo, inflasi cukup rendah dan terjaga pada target di bawah empat persen. Defisit transaksi berjalan pun lebih rendah dari batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB). Karena itu, hingga awal pekan ini bank sentral belum berencana merevisi suku bunga acuannya.

Namun, ketika rupiah makin tersuruk hingga menyeret pasar modal, BI mulai membuka peluang kenaikan suku bunga acuan. Setelah pertemuan dengan Presiden, Agus menyatakan bank sentral akan terus menjaga stabilitas kurs rupiah. Bahkan, tidak ragu untuk menaikkan suku bunga acuan jika kondisi rupiah membahayakan stabilitas sistem keuangan dan target inflasi. “Kalau diperlukan, tidak akan ragu untuk melakukan penyesuaian BI 7 Days Repo Rate,” kata Agus.

Reporter: Rizky Alika