Catatan dari Xinjiang (2): Era Kejayaan Ekonomi Asia

Penulis: Metta Dharmasaputra

Editor: Redaksi

2/12/2019, 13.00 WIB

Tiongkok bukan lagi kampung kumuh. Sebuah inisiasi tengah dikembangkan untuk mengembalikan era keemasan perdagangan di Jalur Sutra hingga Sriwijaya.

Xinjiang International Grand Bazaar
Katadata/Metta Dharmasaputra
Xinjiang International Grand Bazaar, pusat belanja di Urumqi, Provinsi Xinjiang, Tiongkok.

Ingatan Garibaldi Thohir melayang ke masa 26 tahun silam. Saat itu, ia bersama istri berkunjung ke sejumlah wilayah di Tiongkok: Xian, Shanghai, Beijing, dan Guilin. Kumuh. Pengemis berserak di mana-mana.

Tapi Tiongkok kini sudah jauh berubah. Urumqi, ibu kota provinsi Xinjiang yang terletak di ujung barat negeri ini pun, kini sudah bersalin rupa. Gemerlap lampu menerangi malam yang dingin di titik beku minus 13 derajat celcius. Dua ratus juta turis datang setiap tahun ke wilayah multi etnis ini.

Melihat itu, Boy—sapaan akrab Garibaldi—meyakini bahwa Tiongkok tak lama lagi akan menjadi kiblat baru ekonomi dunia. “It’s a matter of time,” ujar Presdir Adaro Energy ini dalam jamuan makan malam bersama Wakil Gubernur Xinjiang Arken Tuniyazi, 15 November lalu.

Karena itu, Wakil Ketua Kadin Indonesia ini juga memandang perlunya peningkatan hubungan dagang Indonesia-Tiongkok.

“Meski pendidikan saya di Amerika, dan ayah saya membangun bisnis dengan Toyota, Jepang, membangun kemitraan dengan Tiongkok saat ini adalah hal yang penting,” katanya dalam pertemuan di Wisma KBRI di Beijing, “

Ini didasari oleh keyakinannya akan kembalinya kejayaan Asia. “Seperti di zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dulu.” Sebuah era di masa keemasan Jalur Sutra, jalur utama perdagangan dunia yang menghubungkan Timur dan Barat, di mana Xinjiang menjadi salah satu episentrumnya.

Poros Maritim Sriwijaya

Di abad ketujuh, kemaharajaan maritim Sriwijaya di Sumatera bagian selatan sedang di puncak kejayaan. Wilayahnya membentang hingga Kamboja, Thailand selatan dan Semenanjung Malaya.

Kawasan ini pun menjadi salah satu titik simpul dari jalur bahari perdagangan yang menghubungkan dua pusat peradaban Asia lainnya, yakni Tiongkok dan India. Di Sumateralah, kapal-kapal para pedagang asal Tiongkok dan Iran saat itu berlabuh sebelum melanjutkan perjalanan.

Catatan sejarah penting lainnya, pada tahun 671, seorang pendeta Buddha asal Tiongkok bernama I-tsing, selama enam bulan menetap di Shih-li-fo-shih atau Sriwijaya sebelum melanjutkan perjalanan ke Nalanda, India. Di Kerajaan Buddha ini ia belajar bahasa Sanskerta.

Setelah itu, ia menetap selama dua bulan di Mo-lo-yeu. Menurut F.M. Schnitger, seorang peneliti asal Belanda, Mo-lo-yeu yang dimaksud I-tsing tak lain adalah Muarajambi. Situs kuno yang terletak di tepi Sungai Batanghari, lebih kurang 22 kilometer arah timur Kota Jambi.

Muaro Jambi
Muaro Jambi (National Geographic/Feri Latief)

 

Muarajambi membentang sepanjang 7,5 kilometer dari barat ke timur di sepanjang Batanghari. Dari ketinggian foto satelit tahun 2003, terlihat menghampar 83 titik candi yang tersebar di lokasi seluas 2.060 hektare. Ini setara dengan 24 kali luas kompleks Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Informasi tertua yang berhubungan dengan daerah Jambi ini ditemukan pada Naskah Berita Dinasti Tang (618-906 M). Di situ disebutkan adanya kedatangan utusan Kerajaan Mo-lo-yeu ke Tiongkok pada 644 M dan 645 M.

Dinasti Tang, dengan ibu kotanya Chang'an (kini Xi'an), di masa itu merupakan kota terpadat di dunia. Era dinasti ini dianggap sebagai zaman keemasan budaya kosmopolitan dan menjadi salah satu titik puncak sejarah Tiongkok.

“Kalau melihat sejarah, di saat Cina maju, Indonesia juga maju,” kata Garibaldi yang kerap disapa Boy Thohir. “Saya merasa siklus ini akan berulang. Kejayaan Asia akan kembali.”

(Baca: Catatan dari Xinjiang (1): Kembalinya Kejayaan di Jalur Sutra)

Datangnya Era Asia

Hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok saat ini tak bisa dipungkiri merupakan bagian dari datangnya Abad Asia. Harian ternama the Financial Times, para akhir Maret lalu menuliskan fenomena ini. Untuk pertama kalinya sejak abad ke-19, perekonomian Asia pada 2020 akan melampaui nilai gabungan dari negara-negara di dunia lainnya.

“Sekarang benua ini menjadi pusat aktivitas dan menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi dunia,” ujar Narendra Modi, Perdana Menteri India, pada pertemuan tahunan the Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). “Sebuah fakta, kita kini hidup di abad Asia.”

Asia telah menjadi rumah bagi lebih dari setengah penduduk dunia. Dari 390 kota terbesar di dunia, sebanyak 21 di antaranya berada di Asia.

Tahun depan, di kawasan ini juga bermukim setengah dari penduduk kelas menengah dunia. Kelompok penduduk yang hidup dengan pendapatan per kapita harian antara US$10 (Rp 140 ribu) hingga US$100 (Rp 1,4 juta) berdasarkan kesetaraan daya beli (purchasing power parity) tahun 2005.

Penting juga dicatat, sejak 2007, penduduk Asia telah membeli lebih banyak mobil dan truk dibanding penduduk di kawasan dunia lainnya. Dan pada 2030 nanti, menurut LMC Automotive, jumlah kendaraan yang mereka beli setara dengan pembelian oleh sisa penduduk dunia lainnya.

(Baca: BKPM Sebut 200 Pengusaha Kayu Tiongkok Ingin Berinvestasi di Jateng)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha