Selandia Baru Bebas dari Corona, Warganya Kembali Hidup 'Normal'

Meski telah bebas dari corona, Selandia Baru masih menutup pintu bagi pendatang dari negara lain.
Yuliawati
8 Juni 2020, 17:24
Jacinda Ardern, Selandia Baru bebas dari corona
ANTARA FOTO/REUTERS/Jorge Silv
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Selandia Baru melaporkan nol kasus aktif virus corona dan Covid-19 dan mengambil kebijakan menghapus pembatasan jarak sosial dan mencabut semua tindakan pencegahan, namun masih membatasi pendatang dari negara lain. Perdana Menteri Jacinda Ardern mengatakan pemerintahannya akan mengeluarkan kebijakannya pada Senin (8/6) tengah malam waktu setempat.  

Ardern mengatakan acara publik dan pribadi baik di industri ritel dan perhotelan, serta transportasi umum dapat dilanjutkan kembali tanpa aturan jarak sosial.

"Meskipun kami berada di posisi yang lebih aman dan kuat, masih belum ada jalan yang mudah untuk kembali ke kehidupan sebelum Covid-19, tetapi tekad dan fokus yang kami miliki pada respons kesehatan sekarang akan menjadi langkah awal dalam pemulihan ekonomi kami," kata Ardern dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters.

(Baca: Strategi Jitu Pemimpin Selandia Baru Tekan Kematian Akibat Covid-19)

Pasien terakhir yang terinfeksi corona di Selandia Baru dilaporkan telah pulih. Selandia Baru merupakan satu dari dari sedikit negara di dunia yang berhasil bebas dari pandemi corona.  "Kami bersatu dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk menghancurkan virus," kata Ardern.

Negara Pasifik Selatan yang berpenduduk sekitar 5 juta jiwa ini bangkit dari pandemi sementara negara dengan perekonomian  besar seperti Brazil, Inggris, India, dan Amerika Serikat bergulat dengan jumlah kasus positif yang masih terus bertambah.

"Kami yakin kami telah menghapuskan penularan virus di Selandia Baru untuk saat ini, tetapi eliminasi bukanlah titik waktu, ini adalah upaya berkelanjutan," Ardern menambahkan.

Kementerian Kesehatan negara tersebut menyatakan tidak ada kasus aktif pada dua pekan terakhir, hal ini pertama kalinya sejak virus itu muncul di Selandia Baru pada akhir Februari. Selandia Baru telah melaporkan 1.154 kasus dan 22 kematian akibat terinfeksi virus tersebut.

"Tidak memiliki kasus aktif untuk pertama kalinya sejak 28 Februari tentu merupakan tanda yang signifikan dalam perjalanan kami, tetapi seperti yang kami katakan sebelumnya, kewaspadaan yang berkelanjutan terhadap Covid-19 akan menjadi penting," kata direktur jenderal kesehatan Dr Ashley Bloomfield.

(Baca: Berbagai Negara Mulai Longgarkan Lockdown dan Pembatasan Sosial)

Meski telah bebas dari corona, Selandia Baru masih menutup pintu bagi pendatang dari negara lain. Hanya penduduk yang kembali - dan beberapa pekerja asing dengan keterampilan spesialis yang akan diberikan pengecualian. Mereka itu pun harus menjalani karantina 14 hari.

Kebijakan ini masih akan memukul sektor pariwisata, namun lomggarnya pembatasan sosial akan memacu kegiatan ekonomi dalam negeri. 

“Akan berdampak besar pada pengeluaran konsumen dan aktivitas investasi. Dan sudah ada beberapa bukti pengeluaran rumah tangga yang melebihi ekspektasi kami, ” kata Stephen Toplis, kepala penelitian di Bank of New Zealand di Wellington, dikutip dari Bloomberg.

Kesuksesan Selandia Baru membebaskan negaranya dari virus corona berkat langkah cepat yang diambil Ardern sejak awal ditemukannya kasus infeksi corona di negara kepulauan itu.

Ketika di Selandia Baru terdapat enam kasus positif corona pada 14 Maret, Ardern mewajibkan seluruh wisatawan internasional untuk menjalani karantina selama 14 hari. Kemudian pada 19 Maret, saat corona menginfeksi 28 orang, perbatasan negara tersebut ditutup dan melarang pendatang dari negara lain.

Penutupan tersebut merupakan langkah berani karena Selandia Baru selama ini mengandalkan pertumbuhan ekonominya pada sektor pariwisata. Dalam kondisi tanpa pandemi, negara tersebut menerima rata-rata 4 juta wisatawan setiap tahunnya.

Selandia Baru resmi menerapkan lockdown atau penguncian pada 23 Maret. Saat itu, sudah ada 102 kasus infeksi dan tidak ada kematian. Selama lockdown, Ardern memberikan imbauan keras untuk warganya agar tetap berada di dalam rumah. Berbagai kegiatan kolektif di luar ruangan seperti sekolah dan layanan tidak penting ditutup.

“Saya tidak ragu mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan warga Selandia Baru selama dua minggu terakhir sangatlah besar,” kata Ardern, dalam pidato virtualnya beberapa waktu lalu, dikutip dari CNN.

(Baca: Setop Dana WHO di Tengah Corona, Trump Tuai Kecaman Internasional)

Ardern mengatakan langkah penutupan berhasil memblokade corona karena  didukung karakteristik geografis Selandia Baru yang merupakan negara kecil berbentuk kepulauan dengan jumlah penerbangan yang relatif sedikit. “Itu adalah keuntungan yang berbeda dalam kemampuan kami untuk menghilangkan virus,” katanya.

Ahli mikrobiologi dari Universitas Auckland, Siouxsie Wiles mengatakan pemerintahnya mengambil langkah cepat karena sadar tidak memiliki cukup banyak fasilitas perawatan intensif. “Itu sebabnya Ardern bertindak sangat cepat,” kata Wiles.

Editor: Yuliawati

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Video Pilihan

Artikel Terkait