Strategi Jitu Pemimpin Selandia Baru Tekan Kematian Akibat Covid-19

Penulis: Yuliawati

17/4/2020, 13.04 WIB

Meski Selandia Baru mengalami tren penurunan kasus Covid-19, PM Jacinda Ardern tidak mempertimbangkan untuk mencabut atau melonggarkan lockdown.

selandia baru, lawan corona, kematian rendah
ANTARA FOTO/REUTERS/Carl Recine/wsj/cf
Poster meminta warga untuk tetap berada di rumah selama pandemi corona. Selandia Baru berhasil menekan angka kematian akibat virus Covid-19.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern (39) menuai pujian karena dianggap berhasil menghadang pandemi virus corona atau Covid-19 di negaranya. Berdasarkan data Worldometers, hingga Jumat (17/4) sebanyak 1.409 orang terinfeksi corona dengan 11 orang meninggal dunia.

Negara kepulauan berpenduduk 4,8 juta orang tersebut memiliki jumlah kematian yang sedikit dibandingkan negara-negara lain. Australia yang secara geografis berada paling dekat, mencatat 6.468 kasus positif corona dengan jumlah kematian sebanyak 63 orang.

(Baca: Ekonomi di Tengah Pandemi, Apakah Akan Terjadi Lagi Depresi Besar?)

Jacinda yang merupakan pemimpin Partai Buruh di Selandia Baru itu mengambil langkah cepat sejak awal ditemukannya kasus infeksi corona di negara kepulauan itu. Ketika di Selandia Baru terdapat enam kasus positif corona pada 14 Maret, Jacinda mewajibkan seluruh wisatawan internasional untuk menjalani karantina selama 14 hari. Kemudian pada 19 Maret, saat corona menginfeksi 28 orang, perbatasan negara tersebut ditutup dan melarang pendatang dari negara lain.

Penutupan tersebut merupakan langkah berani karena Selandia Baru selama ini mengandalkan pertumbuhan ekonominya pada sektor pariwisata. Dalam kondisi tanpa pandemi, negara tersebut menerima rata-rata 4 juta wisatawan setiap tahunnya.

Selandia Baru resmi menerapkan lockdown atau penguncian pada 23 Maret. Saat itu, sudah ada 102 kasus infeksi dan tidak ada kematian. Selama lockdown, Jacinda memberikan imbauan keras untuk warganya agar tetap berada di dalam rumah. Berbagai kegiatan kolektif di luar ruangan seperti sekolah dan layanan tidak penting ditutup.

“Saya tidak ragu mengatakan bahwa apa yang telah dilakukan warga Selandia Baru selama dua minggu terakhir sangatlah besar,” kata Jacinda, dalam pidato virtualnya beberapa waktu lalu, dikutip dari CNN.

(Baca: Setop Dana WHO di Tengah Corona, Trump Tuai Kecaman Internasional)

Jacinda mengatakan langkah penutupan berhasil memblokade corona karena  didukung karakteristik geografis Selandia Baru yang merupakan negara kecil berbentuk kepulauan dengan jumlah penerbangan yang relatif sedikit. “Itu adalah keuntungan yang berbeda dalam kemampuan kami untuk menghilangkan virus,” katanya.

Ahli mikrobiologi dari Universitas Auckland, Siouxsie Wiles mengatakan pemerintahnya mengambil langkah cepat karena sadar tidak memiliki cukup banyak fasilitas perawatan intensif. “Itu sebabnya Ardern bertindak sangat cepat,” kata Wiles.

Penembakan New Zealand
PM Selandia Baru Jacindaa Ardern. (TVNZ / via REUTERS TV )

 

 

Jacinda Pilih Pendekatan Eliminasi Virus Corona

Profesor Michael Baker, dari Departemen Kesehatan Masyarakat Universitas Otago menilai, pengembangan ilmu pengetahuan di bawah pemerintahan Jacinda pun sukses membuat tes virus corona dapat tersebar secara luas dan merata. Dilansir dari laman Worldometer, hingga saat ini sebanyak 66.449 tes telah dilakukan oleh pemerintah Selandia Baru.

Baker juga menjelaskan, kesuksesan Selandia karena memilih menerapkan ‘pendekatan eliminasi’ dalam merespons pandemi virus corona. Mengutip Guardian, dia menyebut strategi itu berbeda dengan negara-negara lain yang lebih mengarah pada ‘pendekatan mitigasi’. “Pendekatan eliminasi sangat berbeda dari pendekatan mitigasi dalam pandemi influenza,” katanya.

(Baca: Jurus Sukses Taiwan Tangkal Corona Meski Berdekatan dengan Tiongkok )

Baker mengatakan, dalam pendekatan mitigasi, negara umumnya baru memberikan intervensi saat pandemi telah berlangsung parah, dengan tujuan lebih untuk meratakan kurva. “Sebaliknya, (pendekatan) eliminasi membalik urutannya, dengan intervensi di tahap awal, untuk menghentikan transmisi penyakit,” tulisnya.

Namun, pendekatan tersebut bukan tanpa dampak merugikan. Menurut Baker, apa yang dilakukan Selandia Baru tetap menimbulkan biaya sosial dan ekonomi jangka pendek yang besar. “Akan sangat sulit bagi mereka yang memiliki sumber daya paling sedikit, termasuk populasi suku Māori dan penduduk Selandia Baru berpenghasilan rendah,” katanya.

Pemerintah Selandia Baru lantas juga mengeluarkan berbagai langkah untuk membantu kelompok tersebut. “Termasuk memberikan paket dukungan ekonomi, dan pembatasan kenaikan biaya, dan penggusuran uang sewa,” tulisnya.

Strategi tersebut membuktikan kepemimpinan Jacinda yang baik. “Kepemimpinan Ardern yang brilian, tegas, dan manusiawi berperan penting dalam perubahan cepat Selandia Baru mengarah ke sana, dengan tanggapannya terhadap Covid-19 dan penerapan strategi eliminasi yang sangat efisien,” ujar Baker.

Kasus Berkurang, Jacinda Tak Longgarkan Lockdown

Penurunan kurva kasus virus corona di Selandia Baru terlihat pada pekan lalu. Pada Senin (6/4), negara tersebut memiliki 76 kasus baru, yang menurun satu hari kemudian menjadi 54 kasus. Pada Rabu (8/4) jumlahnya kembali menurun menjadi 50 kasus. Menurut laman Worldometer, Selandia Baru bahkan tidak memiliki penambahan kasus baru pada Rabu (15/4) namun bertambah 8 kasus pada hari ini.

Meski terdapat tren penurunan, Jacinda tidak mempertimbangkan untuk mencabut atau melonggarkan lockdown. “Kami relatif berhasil. Saya tidak ingin menyia-nyiakan keberhasilan itu atas pengorbanan yang telah dilakukan oleh warga Selandia Baru,” katanya, mengutip AFP.

(Baca: Strategi Jerman Hadapi Lebih 1.000 Kasus Positif Corona Tanpa Kematian)

Kebijakan Jacinda berbeda dengan Spanyol yang memutuskan untuk melonggarkan lockdown setelah terjadinya penurunan kasus infeksi virus corona. Sejak Senin (13/4), para pekerja khususnya di sektor konstruksi dan manufaktur yang selama ini telah dirumahkan telah diizinkan bekerja. Bahkan, Amerika yang saat ini menempati rangking kasus terbanyak yakni 678.144 orang terinfeksi, muncul wacana membuka lockdown.

Dalam tulisannya, Baker juga mengatakan Selandia Baru juga akan memanfaatkan waktu yang tersisa untuk meningkatkan langkah-langkah eliminasi. “Karantina akan lebih ketat di perbatasan, pengujian yang diperluas dan pelacakan kontak, dan langkah-langkah pengawasan tambahan untuk memberikan jaminan bahwa eliminasi telah tercapai,” katanya.

Menurut Baker, hal itu juga bertujuan agar penduduk Selandia Baru mematuhi kebijakan pembatasan sosial dan fisik, demi memutus rantai penularan virus corona. “Karena ini adalah populasi yang tidak pernah mengalami pandemi besar dan hampir tidak pernah terkena dampak Sars, tidak seperti banyak negara di Asia,” tulisnya.

 

Reporter: Mario Baskoro

Katadata bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 2005 2020 55). Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik di sini untuk info lebih lengkapnya.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan