Pakar Sarankan Vaksin Sinovac untuk Orang dengan Riwayat Darah Kental

Vaksin Sinovac dianggap aman untuk penerima vaksin yang memiliki riwayat darah kental.
Yuliawati
6 Juli 2021, 18:05
Sinovac, darah kental, astrazeneca
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/pras.
Petugas medis menunjukkan vaksin sinopharm di Sentra Vaksinasi Gotong Royong Perbanas, Lapangan Tenis Indoor Senayan, Jakarta, Sabtu (19/6/2021).

Orang yang memiliki riwayat darah kental tetap aman untuk vaksinasi. Pakar menyarankan menggunakan vaksin virus corona Sinovac bila ingin menghindari pengentalan darah.

Masyarakat sempat mengkhawatirkan dampak kekentalan darah pada vaksin AstraZeneca. Wakil Dekan Bidang Kerjasama, Alumni dan Pengabdian Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Mei Neni Sitaresmi, menyebut kekhawatiran munculnya kekentalan darah terbukti tidak ada. “Setelah melalui uji penelitian, hal tersebut tidak signifikan,” kata Mei dalam Katadata Forum Virtual Series, Senin (5/7).

Mei mengatakan bahwa risiko yang diberikan vaksin tetap lebih sedikit dibandingkan manfaatnya. Risiko pengentalan darah akan lebih tinggi saat terpapar Covid-19 dibandingkan akibat vaksin. “Risiko penyumbatan darah akibat vaksin itu empat per satu juta," kata dia.

Meski hasil uji laboratorium mengatakan vaksin AstraZeneca tidak menyebabkan darah mengental, Mei tetap menyarankan orang-orang yang memiliki riwayat darah kental tetap mengonsultasikannya terlebih dahulu kepada dokter.

“Kemenkes dan ikatan dokter penyakit dalam tetap mengimbau orang dengan riwayat darah kental konsultasi dahulu kepada dokter yang merawatnya. Tetap harus hati-hati,” ujar Mei.

Mei menyarankan orang yang memiliki riwayat pengentalan darah sebaiknya memilih vaksin Sinovac. "Untuk mereka yang risikonya tinggi, mungkin bisa diarahkan menggunakan vaksin Sinovac," kata dia.

Vaksin AstraZeneca sempat mendapat perhatian karena munculnya kasus pembekuan darah pada beberapa penerima vaksin. Setelah diuji secara klinis, European Medicine Agency (EMA) menyatakan tidak ada indikasi bahwa vaksinasi menyebabkan penggumpalan darah. Kasus pengentalan darah yang dialami orang Eropa hanya tiga puluh orang dari lima juta orang yang sudah menerima vaksin AstraZeneca pada saat itu.

WHO pun merilis pernyataan bahwa tidak perlu menghentikan penggunaan vaksin karena kekhawatiran pengentalan darah. Vaksin AstraZeneca telah melalui uji klinis, dan hasilnya aman untuk terus disuntikkan kepada masyarakat.

Di samping vaksin AstraZeneca, vaksin Johnson & Johnson juga sempat menimbulkan pengentalan darah. Vaksin yang berasal dari Amerika Serikat itu pada April 2021 diberhentikan sementara penggunaannya karena terdapat kasus pembekuan darah.

Pada April lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengimbau penghentian vaksin J&J, setelah menerima laporan dampak pembekuan darah langka yang parah kepada beberapa penerima vaksin. Penghentian vaksin J&J hanya berlangsung 10 hari dan CDC kembali memberikan izin vaksin boleh digunakan.

Hasil penelitian terkini menyebutkan vaksin J&J sekali suntik dapat menghasilkan antibodi selama delapan bulan. Kini, vaksin J&J diproduksi dengan jumlah besar, mencapai 100 juta dosis vaksin pada akhir Juni.

Advertisement

 Penyumbang bahan: Akbar Malik Adi Nugraha

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait