Walini Batal Jadi Stasiun Kereta Cepat, Rencana Metropolitan Kandas?

Sejak bergulir Walini menjadi salah satu stasiun kereta cepat Jakarta-Bandung, muncul wacana pembangunan metropolitan baru di kawasan itu.
Yuliawati
19 Oktober 2021, 16:05
kereta cepat jakarta bandung, walini
ANTARA FOTO/AGUNG RAJASA
Pekerja melintas di dekat Tunnel Walini saat pengerjaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (14/5/2019).

PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) membatalkan pembangunan stasiun di Walini sebagai bagian dari jalur kereta cepat Jakarta Bandung. Hanya ada empat stasiun dalam proyek patungan Indonesia-Cina sepanjang 142,3 kilometer, yakni Halim, Karawang, Padalarang dan berakhir di Tegalluar.

Walini merupakan kawasan yang didominasi perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII. Kawasan Walini yang perbukitan sejak masa kolonial Belanda dimanfaatkan sebagai areal perkebunan teh dan wisata alam agrowisata.
Terdapat beberapa merek teh yang dihasilkan dari perkebunan di kawasan ini, seperti Teh Walini, Gunung Mas dan Goalpara.

Sejak KCIC mencanangkan Walini bakal dilewati jalur kereta cepat, bergulir rencana kawasan perkebunan ini berubah menjadi metropolitan baru dengan nama Walini Jaya. Konsep Walini Jaya bergulir pada 2019 atas kesepakatan PT KCIC, PT Perkebunan Nusantara, Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bandung Barat.

Rencananya, Walini akan menjadi daerah Transit Oriented Development (TOD) untuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Wilayah tersebut mencapai luas sekitar 4.800 hektar.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil salah satu tokoh yang menggadang-gadang proyek pembangunan tersebut. "Dengan adanya kereta cepat ini maka membangun kota baru di Walini menjadi memungkinkan dan layak," ujar Ridwan Kami kepada wartawan pada Mei 2019 lalu.

Ridwan mengatakan kota baru juga bisa dimungkinkan di wilayah-wilayah lainnya seperti di Karawang dan Tegalluar, dengan adanya proyek kereta cepat. Dia mengatakan proyek kereta cepat bukanlah sebuah tujuan akhir melainkan instrumen atau media untuk melahirkan pertumbuhan kota-kota baru.

"Kalau tidak ada kota-kota baru sebagai penyebaran pusat pertumbuhan, maka aglomerasi atau penumpukan metropolitan terlalu padat di daerah Bandung Raya dan Jabodetabek," ujarnya.

Ketika itu pimpinan konsorsium kereta cepat Jakarta-Bandung, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, juga mengungkapkan rencana pembangunan properti baru. Ada tiga kawasan besar pembangunan properti yakni Karawang, Tegalluar, dan Walini.

Wacana pembangunan Walini sebagai metropolitan baru membuat harga tanah meningkat. Sebelum kabar Walini bakal menjadi salah satu stasiun di proyek kereta cepat Jakarta Bandung, harga tanah di kawasan Cikalong Wetan sekitar Rp 100 ribu-Rp 200 ribu per meter.

Namun, kini harganya naik berkali lipat. Sebuah iklan properti di OLX menawarkan tanah seluas 42.320 meter persegi atau sekitar 4,2 hektar dengan harga Rp 29 miliar. Artinya harga per meter sekitar Rp 700 ribu.

Proyek kereta cepat yang merupakan merupakan kerja sama Indonesia dan Cina yang sejak diinisiasi pada akhir 2015, tidak pernah luput dari kontroversi dan masalah. Terakhir, proyek ini mendapat sorotan setelah Presiden Joko Widodo menyetujui penggunaan dana APBN setelah berulang kali proyek ini mengalami pembengkakan biaya.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait