PBB Desak Rusia Tarik Pasukan dari Ukraina, Khawatir Jadi Perang Eropa

Sekjen PBB khawatir serangan Rusia ke Ukraina ini menjadi perang berkepanjangan di Eropa.
Yuliawati
24 Februari 2022, 12:40
Rusia, Ukraina
ANTARA FOTO/REUTERS/Maxim Guchek/BelTA/Handout /WSJ/sad.
Kendaraan lapis baja milik Rusia.

PBB mendesak Rusia menghentikan operasi militer di Ukraina. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres khawatir serangan Rusia menjadi awal perang di Eropa.

“Presiden Putin, atas nama kemanusiaan, bawa pasukan Anda kembali ke Rusia,” kata Guteres dikutip dari Al-Jazeera, Kamis (24/2).

Guterres khawatir serangan Rusia ini menjadi perang berkepanjangan di Eropa. "Atas nama kemanusiaan, jangan biarkan dimulainya di Eropa apa yang bisa menjadi perang terburuk sejak awal abad ini," kata dia. "Konflik harus dihentikan sekarang."

Hari ini Presiden Vladimir Putin memerintahkan pasukan militer menyerang Ukraina. Reuters melaporkan, tak lama setelah Putin berbicara dalam pidato khusus yang disiarkan televisi di TV pemerintah Rusia, terdengar ledakan dari ibu kota Ukraina, Kyiv, sebelum fajar waktu setempat.

Kantor berita Ukraina Interfax menyebutkan tembakan terdengar di dekat bandara utama ibu kota. Ledakan juga mengguncang kota Donetsk, salah satu wilayah yang memisahkan diri dari Ukraina.

Sementara itu Duta Besar Rusia untuk PBB mengatakan pada pertemuan darurat Dewan Keamanan bahwa operasi militer Moskow terhadap Ukraina menargetkan "junta" yang berkuasa di Kiev.

“Saya ingin mengatakan sebagai kesimpulan bahwa kami tidak agresif terhadap rakyat Ukraina tetapi terhadap junta yang berkuasa di Kiev,” kata Vassily Nebenzia.

Pernyataan ini terkait keterangan Presiden Vladimir Putin yang menyebutkan terjadinya genosida etnis Rusia di Ukraina. Namun, PBB tak menerima dalih tersebut.

Rusia dan Ukraina pada pekan ini memanas setelah Putin menerbitkan Dekrit pada Senin (21/2) yang berisi pengakuan kedaulatan atas "Republik Rakyat Luhansk (LPR)" dan "Republik Rakyat Donetsk (DPR)" - dua wilayah yang memisahkan diri dari Ukraina- sebagai negara merdeka dan berdaulat. Pengakuan ini dianggap menyalahi hukum internasional.

Putin juga memerintahkan Kementerian Pertahanan Rusia untuk mengirim pasukan ke dua wilayah timur Ukraina yang memisahkan diri tersebut. Kremlin menyebut pengerahan pasukan Rusia untuk "menjaga perdamaian" di Ukraina timur.

Advertisement

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait