Tren Metaverse, Tanah Virtual Diincar Taiwan, Korea hingga Adidas

Teknologi metaverse menciptakan tanah virtual, menggunakan lapisan jaringan digital yang terhubung secara geografis.
Image title
27 Desember 2021, 17:03
Metaverse,
Netflix
Film Ready Player One

Seiring pamor Metaverse, tren membeli lahan virtual meningkat. Warga Taiwan dan Korea, serta perusahaan Adidas tercatat gencar membeli tanah virtual ini.

Penduduk Taipei, Taiwan James Zhou membeli lahan virtual sejak Maret 2021. Ia menghabiskan uang kripto (cryptocurrency) miliknya senilai US$ 15.390 untuk membeli 11 bidang tanah virtual yang sebelumnya dimiliki oleh perusahaan Amerika Serikat (AS).

Tanah virtual ini diciptakan menggunakan lapisan jaringan digital yang terhubung secara geografis. Seperti NFT alias non-fungible token, orang yang membeli lahan virtual ini bisa mengklaim kepemilikannya.

NFT merupakan aset digital berbasis blockchain publik yang berfungsi sebagai catatan kepemilikan. NFT dijual dan dibeli menggunakan mata uang digital.

Zhou membeli lahan virtual di platform Sandbox dan Decentraland. Platform berbasis blockchain ini memungkinkan pengguna membeli tanah, bermain game, dan saling berinteraksi.

Zhou mengatakan, ia membeli lahan virtual karena lahan di dunia nyata sudah terlalu mahal. "Di lahan virtual ini, saya juga bisa mendapat untung, seperti di dunia nyata," katanya dikutip dari ABC News pada Minggu (26/12).

Penyanyi pop asal Cina JJ Lin juga menginvestasikan US$ 171 ribu dalam bentuk lahan virtual. Ia membeli lahan virtual di dekat lahan milik Zhou pada platform yang sama.

Insinyur Korea Selatan Shaun juga mengatakan bahwa melonjaknya harga rumah dan ketidaksetaraan pendapatan di Korea Selatan menarik generasi milenial dan Z atau Gen MZ ke ‘dunia virtual’. Mereka dapat membuat avatar digital untuk bermain gim, bepergian dengan teman, berbelanja hingga berpesta.

Ia menyebut nama layanan itu avatar Decentraland. Pengguna dapat membeli tanah di dunia virtual dengan tujuan menampung bisnis nyata di sana. Ia mencontohkan, klub malam yang membebankan biaya akses kepada konsumen.

Perusahaan global seperti Adidas pun membeli sebidang lahan virtual pada November 2021. Perusahaan asal Jerman ini menamai lahan virtualnya sebagai “adiVerse”. "Metaverse saat ini merupakan salah satu perkembangan paling menarik dalam digital,” kata juru bicara Adidas.

Perusahaan asal Kanada yang merupakan afiliasi dari Tokens.com, Metaverse Group juga membeli 116 bidang lahan virtual di jantung distrik Fashion Street di Decentraland. Harga lahan virtual itu dibanderol 618 ribu koin MANA atau setara dengan US$ 2,43 juta.

"Daripada mencoba menciptakan alam semesta seperti Facebook, mengapa tidak masuk dan membeli sebidang tanah di metaverse ini saja, dan kemudian kami bisa menjadi tuan tanah," kata founder Tokens.com Andrew Kiguel.

Namun, pakar internet AS dari George Washington University Dave Karpf memperingatkan bahwa lahan virtual tidak memiliki nilai fundamental. Karpf mengatakan pembeli percaya bahwa mereka berada pada tahap awal masa depan digital. Nilai investasi pun akan meningkat secara eksponensial.  

"Tapi ini adalah spekulasi murni dan tidak diatur (hukum). Beberapa orang akan beruntung dan menjadi kaya. Tapi banyak yang akan kehilangan investasi mereka," katanya.

 

Advertisement
Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait