Biden Berpeluang Menang, Rupiah Kembali Menguat Sentuh Rp 14.255/US$

Ekonom mengatakan penguatan rupiah seiring sentimen pada pasar keuangan Amerika Serikat.
Agatha Olivia Victoria
6 November 2020, 10:15
rupiah, efek pilpres AS,
ANTARA FOTO/REUTERS/Tom Brenner/AWW/dj
Calon presiden AS partai Demokrat Joe Biden muncul di layar monitor Ruang Pengarahan Gedung Putih saat memberikan pernyataan, di Washington, Amerika Serikat, Rabu (4/11/2020).

Nilai tukar rupiah pada pembukaan pasar spot pagi ini, Jumat (6/11) menguat 0,86% ke level Rp 14.255 per dolar Amerika Serikat. Penguatan rupiah berlanjut efek perhitungan Pemilihan Presiden AS meski sempat terjadi kerusuhan.

Bersamaan dengan rupiah, mayoritas mata uang Asia turut menguat. Mengutip Bloomberg, dolar Taiwan naik 0,08%, won Korea Selatan 0,23%, peso Filip-ina 0,06%, rupee India 0,48%, ringgit Malaysia 0,11%, dan baht Thailand 0,29%. Sedangkan, yen Jepang melemah 0,12%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,06%, dan yuan Tiongkok 0,37%.



Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan penguatan rupiah seiring sentimen pada pasar keuangan AS. Hal ini juga terindikasi dari pergerakan mata uang Tiongkok yang menguat pada pagi ini.

Menurut dia, sentimen risk-on di pasar keuangan AS disebabkan oleh proyeksi kemenangan dari Joe Biden. "Adapun terkait ketegangan yang terjadi di AS akibat pemilu, diperkirakan hal ini tidak akan terjadi pada hari ini," kata Josua kepada Katadata.co.id, Jumat (6/11).

Adapun sentimen ketegangan politik terkait perhitungan suara di AS kemungkinan berdampak di pekan mendatang. Pada hari ini rupiah diperkirakan bergerak di antara Rp 14.250-14.400 per dolar AS.

Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra menyebutkan bahwa perhitungan suara yang belum selesai dan tuduhan manipulasi suara ternyata tidak mencegah pasar mengantisipasi potensi kemenangan Biden di Pilpres AS 2020 dengan masuk ke aset-aset berisiko. "Penguatan besar rupiah kemarin bisa menjadi momentum penguatan hari ini," ujar Ariston kepada Katadata.co.id.

Di sisi lain, ia memperkirakan kondisi dalam negeri yang kondusif setelah disahkannya Undang-Undang Cipta Kerja membantu penguatan rupiah. Sinyal pemulihan ekonomi dari perekonomian kuartal ketiga juga semakin menambah sentimen baik.

Advertisement



Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan perkiraan kebijakan Biden yang melunak terhadap perdagangan global kemungkinan akan melemahkan mata uang dolar terhadap mata uang negara-negara yang sering menghadapi ancaman tarif selama pemerintahan Trump.

Bahkan, jika Biden berhasil mengatasi tantangan hukum dari Trump untuk menjadi presiden berikutnya, Partai Republik tampaknya akan mempertahankan kendali senat dan dapat menggunakannya untuk menghalangi agenda kebijakan fiskal Biden.

Dalam Pemilu 3 November Partai Republik menguasai senat. Sehingga, bila Biden terpilih program-program pemerintahan akan mendapatkan tantangan. "Apalagi, Biden akan menaikkan pajak perusahaan," ujar Ibrahim kepada Katadata.co.id.

Namun, pemerintah yang terpecah juga mengurangi kemungkinan stimulus fiskal yang besar. Ini dapat dilihat sebagai hal yang negatif.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait