Peluang PMN Bio Farma Rp 2 T Dipercepat Tahun Ini untuk Vaksin Corona

Rencana awal suntikan dana segar tersebut akan diberikan pada 2021 sebesar Rp 2 triliun.
Agatha Olivia Victoria
6 November 2020, 19:12
bio farma, PMN, suntikan dana 2 T
ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pras.
Mobile Laboratorium Bio Safety Level (BSL) 3 di gedung RSP Fakultas Kedokteran Unpad, Bandung, Jawa Barat, Jumat (12/6/2020).

Pemerintah mempertimbangkan untuk mempercepat rencana penyuntikan Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada Bio Farma untuk mendanai pengadaan vaksin virus corona. Rencana awal suntikan dana segar tersebut akan diberikan pada 2021 sebesar Rp 2 triliun.

"Kami berpikir akan menambahkan pada APBN 2020 saja. Meski tinggal dua bulan tapi ada kemungkinan,"  kata Direktur Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata, Jumat (6/11).

Namun, Isa tak mengingat persis detail komposisi pembagian PMN itu kepada Kimia Farma dan Indofarma, kedua anak usaha Bio Farma. Nantinya seluruh suntikan dana pemerintah tersebut akan diberikan kepada Bio Farma.

Bio Farma ang akan mengatur mekanisme korporasi untuk penanganan Covid-19 hingga pengadaan vaksin. "Apakah nanti mereka akan beli saham PT Pertamina Bina Medika (holding rumah sakit BUMN) atau bagaimana," kata dia.

Advertisement

Isa tak menampik bahwa memang terdapat urgensi untuk menambahkan modal kepada BUMN kesehatan di tengah pandemi. Selain untuk penanganan Covid-19 dan penyediaan obat-obatan, dana diperlukan untuk menambah penyedia sarana kesehatan.

Ekonom Center Of Reform on Economics Yusuf Rendy Manilet menyarankan pemerintah bisa merealokasi belanja anggaran PEN untuk menyuntikan dana kepada Bio Farma, terutama untuk pengadaan vaksin. "Vaksin tentu menjadi barang penting untuk memberikan kepercayaan terhadap konsumsi rumah tangga baik itu pada tahun ini ataupun tahun depan," ujar Yusuf kepada Katadata.co.id, Jumat (5/11).

Namun, pemerintah perlu menjaga keamanan dengan memastikan vaksin ini memamg sudah melalui uji klinis dan lulus. Vaksin pun harus bisa diterima atau sesuai standar dari Organisai Kesehatan Dunia (WHO) agar nantinya pengadaan vaksin tak diragukan oleh publik. Keraguan publik akan menghambat keberhasilan dalam penyaluran vaksin nantinya.


Sebelumnya, Kementerian Badan Usaha Milik Negara mengusulkan tambahan penyertaan modal negara kepada tiga perusahaan pelat merah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2021 masing-masing mencapai Rp 1 triliun. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan bahwa salah satu perusahaan pelat merah yang diajukan mendapatkan PMN adalah PT Bio Farma.

PMN bertujuan untuk membantu BUMN tersebut membangun fasilitas produksi bahan dasar masker. "Di dalam masker, bahannya itu masih impor. Kami mengajukan PMN kalau bisa untuk membuat pabrik saja, jadi tidak usah impor," kata Erick usai rapat dengan Komisi VI DPR dalam rangka mengajukan tambahan PMN tersebut di Komplek Parlemen, Jakarta, Kamis (3/9).

Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin menambahkan, bahan baku obat juga masih banyak yang didatangkan dari luar negeri. Adapun pihaknya juga ingin mendorong Bio Farma untuk membuat pabrik vaksin dengan metode baru.

Tambahan PMN juga diajukan untuk holding BUMN sektor rumah sakit yang dipimpin oleh PT Pertamina Bina Medika atau Indonesia Health Corporation. "PMN untuk rumah sakit, kami akan membangun unit perawatan intensif dan mendatangkan alat-alat PCR test untuk Covid-19," kata Budi.

Adapun usulan PMN ketiga rencananya akan diberikan kepada holding BUMN pangan PT Rajawali Nusantara Indonesia. PMN tersebut rencananya akan digunakan RNI untuk program-program persawahan sebagai ketahanan pangan dalam negeri.

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait