Dorong Pemulihan Ekonomi, BI Pangkas Bunga Acuan Jadi 3,5%

Gubernur BI memperkirakan rupiah masih terus berpotensi menguat.
Agatha Olivia Victoria
18 Februari 2021, 14:57
suku bunga acuan, Bank Indonesia, 3,5%
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

Bank Indonesia (BI) memutuskan menurunkan suku bunga acuan atau BI 7 Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5%. Keputusan yang diambil lewat hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) merupakan langkah lanjutan mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa suku bunga deposito dan pinjaman juga turun masing-masing 25 bps menjadi 2,75% dan 4,25%. "Keputusan ini konsisten dengan perkiraan inflasi yang rendah dan stabilisasi rupiah yang terjaga," kata Perry, Kamis (18/2).

Inflasi pada 2020 tercatat rendah sejalan dengan permintaan yang belum kuat dan pasokan memadai. Adapun tingkat inflasi Januari 2021 tercatat 0,26% secara bulanan atau 1,55% secara tahunan, dipengaruhi inflasi inti yang terkendali di level rendah yakni 1,56% secara tahunan.

Perry memperkirakan tingkat inflasi pada tahun ini tetap terkendali dalam rentang 2%-4%. Ke depan, bank sentral tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah di tingkat pusat maupun daerah.

Nilai tukar rupiah menguat didukung langkah stabilisasi BI dan berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik. Rupiah menguat 0,22% secara rerata dan 0,07% secara point to point pada 17 februari 2021 dibandingkan level Januari 2021.

Aliran modal asing terus masuk seiring menurunnya ketidakpastian pasar keuangan global dan persepsi positif investor kepada perkeonomian domestik.

Penguatan kurs rupiah, kata Perry, berpotensi berlanjut seiring level fundamental yang masih undervalued didukung defisit transaksi berjalan yang rendah, inflasi terjaga, daya tarik aset keuangan yang tinggi, premi risiko investasi yang menurun, dan likuiditas global yang besar.

"BI akan terus menempuh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai fundamental dan bekerjanya mekansime pasar serta ketersediaan likuiditas di pasar," ujarnya.

Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky menganggap penurunan suku bunga acuan ini momentum yang tepat bagi BI guna mempercepat pemulihan ekonomi di semester pertama 2021. Meskipun dampak penurunan suku bunga belum optimal selama pandemi belum berakhir, tapi opsi untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut dianggap lebih baik

Riefky menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan pulih secara bertahap pada tahun ini meski dampak krisis Covid-19 masih terus berlanjut. Proyeksi tersebut didukung oleh serangkaian kebijakan meningkatkan kepercayaan rumah tangga dan bisnis, pemberian bantuan sosial, dan distribusi vaksin.

Inflasi dinilainya masih jauh di bawah target dan diperkirakan tidak akan meningkat tajam dalam waktu dekat. Alasannya, permintaan masih tertahan akibat pandemi Covid-19 yang melemahkan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, kondisi eksternal menunjukkan secercah harapan. "Terlihat dari berlanjutnya lonjakan arus masuk portofolio, berlanjutnya surplus perdagangan bulanan, dan cadangan devisa yang tinggi sehingga memperkuat stabilitas rupiah," kata Riefky.

Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Anthony Kevin sebelumnya memperkirakan bank sentral akan mempertahankan bunga acuan di level 3,75%. "Meskipun ada rilis data makro yang relatif mengecewakan baru-baru ini sehingga menjadi alasan BI untuk menurunkan suku bunga acuannya," ujar Anthony dalam keterangan resminya, Rabu (17/2).

Adapun kemungkinan tersebut mempertimbangkan agar mata uang rupiah tetap stabil. Rupiah berhasil naik 0,1% terhadap dolar AS pada bulan Januari dan terus menguat sepanjang bulan Februari 2021.

Anthony menyoroti data makro seperti pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk kuartal IV 2020 menurun sebesar 2,19% secara tahunan. Dengan demikian, ekonomi RI terkontraksi sebesar 2,07% sepanjang 2020. Lebih lanjut, data terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan konsumen dan kinerja penjualan eceran Indonesia masih relatif lemah, tercermin dari tekanan inflasi yang rendah.

Selain itu, IHS Markit mengumumkan angka PMI manufaktur Indonesia untuk bulan Januari di level 52,2, meningkat dari angka Desember 51,3 serta menandai tiga bulan berturut-turut
ekspansi. "Namun demikian, ekspansi pada bulan lalu sebagian masih didorong oleh efek basis rendah," ujar Anthony.

Di sisi lain, survei yang dilakukan IHS Markit pada 12-22 Januari 2021 menunjukkan beberapa penurunan risiko ke depan. Misalnya, peningkatan output dicapai di tengah keberlangsungan pengurangan pekerjaan dan tingkat kepegawaian menurun selama 11 bulan berturut-turut.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait