BI Diramal Turunkan Suku Bunga Acuan untuk Pulihkan Ekonomi

Saat ini dianggap momentum yang tepat bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga acuan.
Agatha Olivia Victoria
18 Februari 2021, 11:14
bank indonesia, suku bunga acuan, kredit perbankan
Adi Maulana Ibrahim|Katadata
Gedung Bank Indonesia (BI), Jalan M. H Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (26/2/2020).

Bank Indonesia akan mengumumkan arah kebijakan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) atau suku bunga acuannya pada Kamis (18/2) siang ini. Beberapa ekonom memperkirakan bank sentral akan menurunkan bunga acuan yang saat ini berada di level 3,75%.

Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky memprediksikan BI akan memangkas suku bunga kebijakan sebesar 25 basis poin menjadi 3,5% bulan ini. "Ini untuk mendukung agenda pemulihan ekonomi dengan tetap menjaga stabilitas sektor keuangan," ujar Riefky dalam hasil kajiannya yang diterima Katadata.co.id, Rabu (17/2).

Saat ini dianggap momentum yang tepat bagi BI untuk kembali menurunkan suku bunga kebijakan guna mempercepat pemulihan ekonomi di semester pertama 2021. Meskipun dampak penurunan suku bunga belum optimal selama pandemi belum berakhir, tapi opsi untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut dianggap lebih baik.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan pulih secara bertahap pada tahun ini meski dampak krisis Covid-19 masih terus berlanjut. Proyeksi tersebut didukung oleh serangkaian kebijakan meningkatkan kepercayaan rumah tangga dan bisnis, pemberian bantuan sosial, dan distribusi vaksin.

Inflasi masih jauh di bawah target dan diperkirakan tidak akan meningkat tajam dalam waktu dekat. Alasannya, permintaan masih tertahan akibat pandemi Covid-19 yang melemahkan daya beli masyarakat.

Di sisi lain, kondisi eksternal menunjukkan secercah harapan. "Terlihat dari berlanjutnya lonjakan arus masuk portofolio, berlanjutnya surplus perdagangan bulanan, dan cadangan devisa yang tinggi sehingga memperkuat stabilitas rupiah," kata Riefky.

Dibandingkan dengan tingkat depresiasi di negara-negara berkembang lainnya, rupiah termasuk salah satu yang berkinerja terbaik karena telah terapresiasi sekitar 1% sejak awal tahun ini. Investor tertarik untuk memindahkan aset ke Indonesia karena menawarkan imbal hasil alias yield yang relatif lebih tinggi dibandingkan negara maju.

Imbal hasil riil relatif lebih tinggi karena inflasi yang rendah di tengah tren imbal hasil obligasi AS yang lebih rendah. Hal itu mendorong perbedaan suku bunga yang besar dan membuat tingginya perilaku pengambilan risiko investor asing.

Lonjakan portofolio yang terjadi selama bulan ini pun mendorong imbal hasil obligasi pemerintah satu tahun turun dari 4,5% di Januari 2021 menjadi 4%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun relatif tidak berubah di level 6,3%.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bank sentral masih memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.

"Sehingga masih ada kemungkinan ruang untuk turun dengan tetap menjaga stabilitas, khususnya nilai tukar rupiah dan bagaimana lebih efektifnya mendorong pemulihan ekonomi," ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa (9/2).

Bunga acuan BI saat ini merupakan yang terendah sejak 2013. Otoritas moneter menurunkan suku bunga secara agresif sebanyak lima kali sebesar 125 basis poin pada tahun lalu namun belum berdampak signifikan terhadap bunga kredit.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, Komite Stabilitas Sistem Keuangan tengah berupaya menciptakan tingkat suku bunga perbankan yang efisien. Upaya tersebut akan dilakukan melalui pengawasan atas suku bunga dasar kredit (SBDK) yang selama ini sudah dipublikasikan perbankan.

 

Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Yuliawati
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait