Sinyal Mengkhawatirkan dari Data Perdagangan
KATADATA ? Neraca perdagangan Indonesia yang mengalami surplus sebesar US$ 1,3 miliar pada Juli menerbitkan kekhawatiran. Persoalannya surplus tersebut tidak berasal dari kinerja ekspor dan impor yang meningkat. Sebaliknya, baik ekspor maupun impor justru mencatatkan kinerja terendah dalam tiga tahun terakhir.
?(Pasar) memandang negatif. Pasar modal turun hari ini. Rupiah melemah Rp 13.800 per dolar AS. Jadi jangan lihat surplusnya, karena bukan berarti baik. Ini buruk!? kata ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual kepada Katadata, Selasa (18/8).
Dalam perdagangan hari ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat turun 1,63 persen ke posisi 4.510,5 poin. Sementara rupiah berada di kisaran Rp 13.818 per dolar Amerika Serikat (AS), turun tipis 0,12 persen.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pada Juli sebesar US$ 11,4 miliar atau turun 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini merupakan kinerja terburuk sejak Agustus 2012. Demikian pula dengan kinerja impor yang mencatatkan sebesar US$ 10,1 miliar, turun 28,4 persen dibandingkan tahun lalu. (Baca: Kinerja Perdagangan Indonesia Semakin Mengkhawatirkan)
Melemahnya kinerja perdagangan terutama berasal dari komoditas non-minyak dan gas bumi (migas). Ekspor non-migas tercatat turun, baik dilihat berdasarkan nilai maupun volumenya, yakni masing-masing turun 14,1 persen dan 9 persen dibandingkan Juli 2014. Sementara nilai impor non-migas turun 21,5 persen dibandingkan Juli tahun lalu, sedangkan volumenya turun 20 persen.
Menurut David, turunnya kinerja perdagangan mengurangi ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal III. Dari sisi impor misalnya, kinerja yang menurun menunjukkan produktivitas industri dalam negeri ikut melemah. Bila impor belum menunjukan peningkatan pada Agustus, maka ekonomi diperkirakan sulit untuk mencapai pertumbuhan 5 persen pada tahun ini.
?Kalau belum (meningkat) artinya sinyal ekonomi Indonesia masih lemah sampai Juli. Tadinya saya optimistis (pertumbuhan ekonomi kuartal III) bisa di atas 5 persen. Saya lihat masih bisa, tapi semoga (pengeluaran pemerintah) bisa dipercepat Agustus-September,? kata dia. (Baca: BPS: Waspadai Impor Barang Konsumsi dari Cina Akibat Devaluasi Yuan)
Daniel Wilson, ekonom ANZ Research, menilai penurunan kinerja perdagangan Indonesia sudah melampaui persoalan harga komoditas yang terus melemah. Data BPS tersebut sekaligus merefleksikan fundamental ekonomi Indonesia masih melemah. ?Pengumuman ini bukan pertanda yang baik bahwa ekonomi akan membaik pada paruh kedua tahun ini,? kata dia.
Situasi ini, menurut dia, membuat posisi Bank Indonesia (BI) semakin sulit. Penyesuaian tingkat suku bunga akan berdampak langsung terhadap rupiah. Padahal BI telah memberikan sinyal untuk meredam depresiasi rupiah. Dia menyarankan BI untuk mempertahankan kebijakan moneternya sampai ada kepastian atas kebijakan the Fed.
Menurut Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi, menurunnya kinerja impor merupakan sinyal yang mengkhawatirkan di tengah risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, penurunan impor bukan semata akibat melemahnya nilai tukar rupiah, tapi ada permasalahan dalam permintaan domestik. Data impor yang dirilis BPS mengindikasikan permintaan akan semakin melemah.
Sementara itu, Rapat Dewan Gubernur BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) tetap di posisi 7,5 persen yang sudah berlangsung sejak Februari 2015. Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, BI juga memutuskan untuk tetap menahan suku bunga deposit facility 5,5 persen dan juga lending facility tetap 8 persen.
Agus mengatakan, bank sentral tetap akan fokus pada stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. ?Selain itu kami juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah untuk mempercepat stimulus fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,? kata Agus.