Paket September Belum Efektif Tahan Pelemahan IHSG dan Rupiah
KATADATA ? Pasar keuangan tidak langsung merespons paket kebijakan yang diluncurkan pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Pada perdagangan hari ini, indeks harga saham (IHSG) justru melemah. Begitu pula dengan kurs rupiah yang melewati Rp 14.300 terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Ekonom Universitas Atma Jaya A. Prasetyantoko mengatakan, reaksi pasar tidak terlihat seketika, tapi menunggu bagaimana pemerintah melaksanakan paket kebijakan itu. Meski begitu, setidaknya paket kebijakan tersebut dapat menahan pelemahan rupiah lebih dalam, mengingat masih ada ketidakpastian rencana kenaikan suku bunga AS.
?Menurut saya jangan berharap terlalu banyak (dari paket kebijakan ini, kecuali kalau ada follow up,? kata dia di Jakarta, Kamis (10/9). (Baca: Pemerintah Fokuskan "Paket September" untuk Sektor Riil)
Dalam pandangan Prasetyantoko, paket kebijakan September itu dapat menaikkan kepercayaan diri pasar terhadap perekonomian domestik. Setidaknya, paket kebijakan tersebut tidak membuat kondisi menjadi lebih buruk. (Baca: Lima "Senjata" BI untuk Memperkuat Rupiah)
Pada perdagangan Kamis (10/9), IHSG dibuka melemah 0,8 persen ke posisi 4.312 dari penutupan hari sebelumnya di 4.347. HIngga pukul 14.30, indeks tercatat di posisi 4.329. Begitu pula dengan rupiah yang berada di level Rp 14.323 per dolar AS.
Ekonom Eric Alexander Sugandi menilai, pasar melihat kredibilitas pemerintah turun lantaran janji untuk mempercepat pembangunan infrastruktur belum berjalan dengan baik. Kemudian, target pertumbuhan sebesar 5,7 persen pun direvisi menjadi 5 persen.
Pasar pun khawatir ada intervensi terhadap BI dalam menjalankan kebijakan moneternya. Ini terlihat dari berulang kali pemerintah meminta agar bank sentral menurunkan suku bunga acuan. ?Jangan dipersepsikan kalau pemerintah keluarkan paket kebijakan, pasar akan histeria. (Paket) ini kan sifatnya jangka menengah dan panjang,? ujar Eric.
Dalam jangka pendek, menurut dia, pemerintah harus menjaga kredibilitas pasar dengan tidak menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tetapi, pemerintah harus memastikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III dan IV lebih baik dibandingkan sebelumnya. Bila itu terbukti, dia yakin ada potensi bagi rupiah untuk menguat.
Selain itu, BI juga harus menjaga volatilitas rupiah terjaga dengan intervensi yang terukur, agar tidak menguras cadangan devisa. Menjaga kepercayaan pasar, bisa dengan menekankan kepada pasar bahwa cadangan devisa masih dalam kondisi yang aman.
Kemudian mengumumkan kepada masyarakat bahwa BI memiliki cadangan dalam bentuk Bilateral Swap Agreement dengan Korea Selatan, Cina, dan Jepang. Serta Chiang mai Initiative Multilateralization dengan porsi pinjaman yang diterima Indonesia sebanyak US$ 22,76 miliar.
