Investasi Asing Kerek Neraca Pembayaran Surplus US$ 5,7 Miliar
Di tengah tekanan arus keluar modal asing, Bank Indonesia (BI) mencatat surplus neraca pembayaran Indonesia (NPI) naik US$ 3,5 miliar menjadi US$ 5,7 miliar pada kuartal III lalu. Surplus tersebut membuat cadangan devisa (cadev) bertambah menjadi US$ 115,7 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Statistik dan Moneter BI Hendy Sulistyowati mengatakan, peningkatan NPI didorong kenaikan surplus neraca transaksi modal dan finansial serta menurunnya defisit transaksi berjalan (current account defisit/CAD). Surplus transaksi modal dan finansial mencapai US$ 9,4 miliar atau setara 3,85 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal III lalu. Jumlahnya naik US$ 1,8 miliar dibandingkan kuartal sebelumnyadan melonjak US$ 9,2 miliar dibanding periode sama tahun lalu.
Surplus transaksi modal dan finansial ditopang oleh derasnya aliran modal masuk berupa investasi asing langsung berjangka panjang (Foreign Direct Investment/FDI) yang mencapai us$ 5,2 miliar. Realisasi ini naik US$ 2,2 miliar dibanding kuartal sebelumnya dan meningkat US$ 3,4 miliar dibanding kuartal III 2015.
Namun, aliran modal masuk ke instrumen investasi jangka pendek portofolio turun menjadi US$ 6,5 miliar dari kuartal sebelumnya US$ 8,3 miliar. Aliran modal ke portofolio didukung oleh penerbitan obligasi global pemerintah. Selain itu, masuknya dana asing saham serta Surat Berharga Negara (SBN) rupiah.
Adapun defisit investasi lainnya menurun menjadi US$ 2,3 miliar. “Defisitnya mengecil karena ada penarikan aset dari deviden. Dan orang lebih banyak bayar utang,” kata Hendy di kantornya, Jakarta, Jumat (11/11). (Baca juga: Rupiah Merosot Imbas Trump, BI Siap Intervensi)
Sekadar informasi, transaksi modal dan finansial membukukan nilai investasi langsung, portofolio, dan investasi berjangka pendek lainnya. Selain itu, mencakup juga pinjaman luar negeri, serta bantuan dan hibah dari negara dan lembaga lainnya.
Di sisi lain, perkembangan positif juga tampak pada transaksi berjalan. BI mencatat defisit transaksi berjalan menurun US$ 500 juta dibanding kuartal sebelumnya menjadi US$ 4,5 miliar atau 1,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Membaiknya defisit transaksi berjalan ini karena surplus neraca perdagangan meningkat. Surplus nonminyak dan gas (migas), misalnya, naik US$ 100 juta. Sedangkan defisit neraca dagang migas menurun US$ 100 juta.
“Ekspor migas menurun karena harga minyak rendah, tetapi karena hal itu impor juga menurun sehingga defisit neraca migas turun,” kata Hendy. (Baca juga: Dana Asing Hengkang dari Asia, Indeks Bursa Saham Melorot)
Selain itu, penurunan defisit transaksi berjalan juga ditopang oleh defisit neraca jasa yang menurun US$ 700 juta menjadi US$ 1,5 miliar. Penurunan defisit ini karena impor turun, sehingga biaya jasa yang biasa dibayar importir berkurang. Perbaikan di neraca jasa pun lebih baik dibanding periode sama tahun lalu yang mengalami defisit sebesar US$ 2,1 miliar.
Namun, defisit pendapatan primer meningkat US$ 120 juta menjadi US$ 7,91 miliar. Hal ini didorong oleh pembayaran bunga utang yang meningkat. Selain itu, surplus pendapatan sekunder menurun lantaran adanya aturan dari pemerintahan Arab Saudi yang memperketat masuknya tenaga kerja asing. Hal ini kemudian berdampak pula terhadap pendapatan dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI).
Sekadar informasi, neraca transaksi berjalan merangkum transaksi ekspor dan impor barang ataupun jasa, pendapatan investasi, pembayaran cicilan dan pokok utang luar negeri, serta saldo kiriman dan transfer uang dari dan ke luar negeri.
