Selama bertahun-tahun neraca perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi selalu defisit akibat impor migas.
Jokowi dan Raja Salman
Presiden Joko Widodo dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al-Saud (kiri) melambaikan tangan di beranda Istana Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/3). ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Presiden Joko Widodo dan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud membahas berbagai hal dalam pertemuan di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (1/3) kemarin. Di antara hal yang dibahas adalah soal upaya peningkatan perdagangan antara kedua negara.

Jokowi mengajak Raja Salman menghilangkan hambatan perdagangan di antara kedua negara. Kerja sama pengembangan perdagangan oleh kedua negara pun menjadi satu dari 11 nota kesepahaman yang diteken kemarin.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca juga: Dana Saudi Rp 13,3 Triliun dalam 11 Kesepakatan Jokowi - Raja Salman)

"Indonesia mengharapkan pemberian kemudahan akses pasar bagi produk Indonesia terutama produk halal, perikanan, obat-obatan, alat kesehatan, produk tekstil, serta garmen Indonesia," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam keterangan pers (1/3).

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengungkapkan bila selama ini ekspor dari Indonesia ke Arab Saudi terbilang cukup sulit. Arab Saudi menerapkan aturan ketat untuk barang impornya.

"Yang kesulitan ternyata standar di sana itu tinggi di Timur Tengah. Jadi kalau mau ekspor barang itu harus menyesuaikan," kata Oke.

Grafik: Ekspor dan Impor Indonesia dengan Arab Saudi 2012-2016

Konsul Jenderal Indonesia untuk Jeddah Muhamad Hery Saripudin menyampaikan, ada 4 (empat) hal yang harus dipenuhi agar komoditas nonmigas Indonesia, khususnya bahan makanan dan minuman, agar dapat bersaing di pasar Arab Saudi.

Keempat hal tersebut yaitu harga yang kompetitif, kecukupan suplai, lulus uji Saudi Accreditation and Standardization Organization (SASO) dan Saudi Food and Drug Authority (SFDA). “Serta yang pasti memenuhi persyaratan produk halal,” ujarnya.

(Baca juga: Raja Salman Menginap di Hotel Raffles, Sebagian Dimiliki Keponakannya)

Tak hanya oleh pemerintah, upaya peningkatan ekspor juga dilakukan oleh para pengusaha Indonesia. Sore nanti, pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan menemui puluhan pengusaha Arab Saudi yang turut dalam rombongan Raja Salman di Jakarta.

Berdasarkan data BPS, nilai total perdagangan nonmigas Indonesia-Arab Saudi pada 2016 mencapai US$ 4,05 miliar. Di mana, Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 1,39 miliar.

Sepanjang tahun lalu, Indonesia hanya mengekspor produk nonmigas sebesar US$ 1,33 miliar ke Arab Saudi. Sementara, impor kita terdiri dari US$ 2,02 miliar produk migas dan US$ 705 juta produk nonmigas.

(Baca juga: Tiba Lebih Cepat, Raja Salman Disambut Jokowi dan Disalami Ahok)

Kondisi tersebut telah lama terjadi. Meski, BPS juga mencatat bahwa tren defisit perdagangan Indonesia terhadap Arab Saudi pada 2011-2015 menurun 17,41 persen karena berkurangnya impor migas.

Beberapa produk ekspor utama Indonesia ke Arab Saudi adalah kendaraan bermotor, minyak kelapa sawit, tuna, karet dan produk karet, plywood, kertas dan produk kertas, bubur kertas, arang kayu, serta tekstil dan produk tekstil.

Artikel Terkait
Para menteri di bidang ekonomi kemungkinan besar aman. Menteri asal Partai Amanat Nasional terancam.
Jika tidak memakai ISAK 8, Pertamina akan terbebas dari kewajiban mencatat seluruh utang mitranya.
"Mestinya kalau ada hal penting saya dikabari."