Indonesia akan membicarakan strategi kerjasama yang dilakukan dengan perusahaan-perusahaan ekonomi kreatif Korea Selatan.
Joko Widodo
Intan | Biro Pers Sekretariat Kepresidenan

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bersama media terbesar Korea Selatan, Chosunilbo, akan menggelar business matching Indonesia dan Korea Selatan. Kegiatan ini merupakan bagian dari acara bisnis “Indonesia-Korea Business Summit” yang akan diadakan di Jakarta, Selasa pekan depan (14/3).

Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong mengatakan, Pemerintah Indonesia dalam acara itu akan mencanangkan ekonomi kreatif sebagai sektor unggulan yang ditawarkan kepada para pelaku usaha kreatif Korea Selatan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Sektor ekonomi kreatif akan dibahas khusus dalam kegiatan tersebut. Ini penting karena industri ekonomi kreatif Korea Selatan tergolong maju,” kata Tom di Kantornya, Rabu (8/3).

Dia mengatakan Indonesia-Korea Business Summit merupakan tindak lanjut dari kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Korea Selatan pada Mei tahun lalu. Adapun, dalam sesi ekonomi kreatif akan hadir beberapa pembicara utama di antaranya Kepala Badan Eknomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf, perwakilan perusahaan ekonomi kreatif di Indonesia, Seoul Center for Creative Economy and Innovation, dan perusahaan ekonomi kreatif asal Korea.

Triawan Munaf mengatakan Indonesia akan membicarakan strategi kerjasama yang dilakukan dengan perusahaan-perusahaan ekonomi kreatif Korea Selatan. “Kerja sama ini diharapkan akan menjadi motor dalam meningkatkan investasi Korea Selatan di Indonesia,” ujarnya. (Baca Ekonografik: 2015-2016, Musim Gugur Startup Lokal)

Dalam business matching ini pemerintah juga akan mengalokasikan sesi khusus untuk membahas mengenai sektor industri manufaktur, energi, dan pariwisata serta konektivitas transportasi udara. Tom mengatakan saat ini industri manufaktur masih jadi sektor utama investasi Korea Selatan di Indonesia.

”Kontribusi sektor manufaktur mencapai 71 persen, sektor pertambangan 12 persen, listrik, gas, dan air 6 persen, serta perdagangan 3 persen,” katanya.

Berdasarkan data BKPM, investasi dari Korea Selatan selama lima tahun terakhir mencapai US$ 7,5 miliar, terdiri dari 7.607 proyek. Jumlah investasi tersebut membuat Korea Selatan menempati posisi ketiga di bawah Singapura dengan US$ 30,4 miliar dan Jepang dengan US$ 18 miliar, serta di atas Malaysia US$ 7,2 miliar dan Amerika Serikat US$ 7 miliar.

(Baca: Konsorsium Korea Selatan Garap Proyek Energi Terbarukan)

Sekedar informasi, acara Indonesia-Korea Business Summit pekan depan akan dihadiri lebih dari 500 peserta yang terdiri dari 365 peserta Korea Selatan dan 150 peserta dari Indonesia. Selain Kepala BKPM, beberapa pembicara utama yang akan hadir antara lain Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar, Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan, CEO Kotra, dan perusahaan-perusahaan top kongklomerasi Korea Selatan dan swasta nasional.

Artikel Terkait
Dengan adanya peta jalan e-commerce, pengusaha juga meminta peraturan pajak transaksi online disederhanakan.
Paket itu memuat “program besar” untuk mendorong laju investasi di Indonesia karena memuat satu model percepatan proses sinkronisasi kebijakan dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.
Pemerintah tak boleh membiarkan konsumsi rumah tangga di bawah 5%. Sebab, kontribusinya mencapai 55% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).