Pertumbuhan ekonomi disokong konsumsi masyarakat, kinerja ekspor, dan investasi swasta. "Dulu (kuartal 1 2016) 4,92 persen, sekarang bisa lima persen,” kata Darmin Nasution.
Pelabuhan ekspor
Katadata

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memperkirakan pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh lima persen di kuartal I 2017. Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan realisasi pertembuhan pada periode sama tahun lalu, yang hanya mencapai 4,92 persen.

Darmin mengatakan hambatan perekonomian tahun ini masih sama dengan tahun lalu, yakni belanja yang terbatas lantaran penerimaan yang minim. Namun, dia masih yakin ekonomi tahun ini akan membaik lantaran disokong oleh peningkatan konsumsi masyarakat, kinerja ekspor, dan investasi swasta. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

“Tapi saya lihat kok kuartal I enggak jelek, masih lebih baik dari tahun lalu. Dulu (pertumbuhan ekonomi) 4,92 persen, sekarang bisa lima persen (di kuartal I-2017),” ujar dia di Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (10/3) pekan lalu. (Baca juga: Konsumsi Meningkat, BI Pantau Laju Ekonomi Sesuai Target)

Lebih jauh, ia menjabarkan, kinerja ekspor membaik seiring dengan naiknya harga beberapa komoditas. Dengan demikian, nilai ekspor pada kuartal 1 2017 diperkirakan lebih baik dibanding periode sama tahun 2016 yang turun 3,9 persen. Di sisi lain, musim panen yang terjadi pada kuartal I 2017 juga mendorong pertumbuhan sektor pertanian.

Sebelumnya, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo juga menyatakan keyakinannya bahwa pertumbuhan ekonomi tahun ini masih sesuai target yakni 5-5,4 persen. Tekanan inflasi akibat kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices) diklaim belum memengaruhi daya beli masyarakat.

(Baca juga: Tarif Listrik dan BBM Picu Infasi, Pemerintah Perlu Siapkan BLT)

Ia memaparkan, penjualan ritel dan otomotif menunjukkan peningkatan sejak awal tahun ini. Kenaikan penjualan tersebut seiring dengan naiknya pendapatan masyarakat di daerah penghasil komoditas sumber daya alam (SDA). "Data ekonomi, terutama daerah penghasil komoditas improving (membaik). Data konsumsi membaik," katanya. 

Sejalan dengan Dody, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan sudah ada peningkatan penjualan untuk ritel, otomotif, semen, ataupun alat berat. Hal itu menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat telah meningkat.

Menurut ramalan Josua, konsumsi masyarakat bisa tumbuh di atas lima persen pada kuartal I 2017. Pertumbuhan tersebut juga disokong oleh konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga (LNPRT), terutama untuk kampanye pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Meski begitu, ia menyebut, kenaikan konsumsi masyarakat belum diikuti dengan peningkatan ekspansi oleh korporasi. Hal itu bisa dilihat dari anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) yang tidak meningkat. "Investasi swasta, capex-nya belum naik. Kami lihat baru naik di Semester II-2017," kata Josua.

Artikel Terkait
Agus menyatakan target inflasi sebesar 3,5% nilai tukar rupiah Rp 13.500 per dolar Amerika Serikat (AS) sudah sejalan dengan proyeksi BI.
Paket itu memuat “program besar” untuk mendorong laju investasi di Indonesia karena memuat satu model percepatan proses sinkronisasi kebijakan dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.
Bagaimana nanti ke depannya? Yaa itu tergantung BI, nyalinya bagaimana?" kata Darmin