Jonan bungkam ketika ditanya tanggapannya mengenai penunjukan Elia sebagai Dirut Pertamina, termasuk memberikan ucapan selamat. "Nanti saja."
Sertijab Menteri ESDM
Serah terima jabatan Menteri ESDM dari Luhut Binsar Pandjaitan kepada Ignasius Jonan di Gedung Kementerian ESDM, Senin (17/10/2016) Arief Kamaludin|KATADATA

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyambut baik penunjukan Elia Massa Manik sebagai Direktur Utama PT Pertamina (Persero) yang baru. Ia pun menepis kabar adanya perbedaan pendapat di antara anggota kabinet terkait penunjukan nakhoda baru Pertamina tersebut.

Luhut menilai Elia merupakan ahli di bidang restrukturisasi korporasi. Ia mengacu kepada pengalaman Elia saat memimpin PT Elnusa Tbk dan PT PTPN III Holding Perkebunan. "Dia juga tegas, kita lihat saja nanti hasilnya," katanya di kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Jakarta, Kamis (16/3).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut Luhut, Elia harus dapat melakukan sejumlah perubahan di Pertamina, mulai dari penghematan serta efisiensi. Ia pun berharap penggunaan konten lokal di Pertamina dapat menjadi fokus kerja ke depan. (Baca juga:  Jadi Dirut Pertamina, Elia Massa: Saya Diberitahu Menteri BUMN)

Di sisi lain, Luhut membantah kabar adanya perbedaan pendapat di anggota kabinet terkait penunjukan Elia sebagai Direktur Utama Pertamina. Ia menegaskan pemerintah sepaham dalam memutuskan sesuatu dan tidak ada penolakan.

Luhut pun menepis kabar adanya penolakan dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan terhadap penunjukan Elia. "Sepaham lah, kenapa kita harus tidak sepaham," ujarnya.

Grafik: Pendapatan dan Laba Pertamina 2013-2016

(Baca juga:  Tenggat 3 Bulan, Elia Minta Direksi Pertamina Bebas Kepentingan)

Di tempat yang sama,  Jonan malah bungkam ketika ditanya tanggapannya mengenai penunjukan Elia. Ia hanya berlalu sembari melambaikan tangannya.

Bahkan, ketika seorang wartawan menanyakan apakah telah memberi selamat kepada mantan Direktur Utama PT PTPN III Holding Perkebunan tersebut, Jonan hanya berujar pendek, "Nanti saja," katanya sembari berlalu ke mobilnya.

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Pertamina (Persero) di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (16/3) pagi, resmi menetapkan Elia Massa Manik sebagai direktur utama perusahaan tersebut. Ia terpilih setelah menyisihkan beberapa kandidat lain, baik dari internal maupun eksternal Pertamina.

Sebelumnya, Dewan Komisaris Pertamina menyorongkan lima calon dirut ke Kementerian BUMN. Lima kandidat itu merupakan para direksi Pertamina saat ini. Selanjutnya, Kementerian BUMN menyaring lagi para calon tersbeut untuk diajukan kepada Presiden.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Katadata, Presiden telah menerima setidaknya tujuh calon Dirut Pertamina, baik yang berasal dari internal maupun luar perusahaan. Dua calon dari internal Pertamina disebut-sebut antara lain Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia Rahmad Hardadi dan Direktur Hulu yakni Syamsu Alam.

Adapun, para kandidat dari luar Pertamina yang disorongkan ke Presiden antara lain Arcandra Tahar dan Dirut PTPN III Holding Elia Massa Manik. Ada pula Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir dan mantan Dirut PT Bank Mandiri Tbk yang saat ini menjadi Staf Khusus Menteri BUMN, Budi Gunadi Sadikin.

"Mereka merupakan calon yang diajukan oleh berbagai pihak, yaitu Menteri BUMN (Rini Soemarno), Menteri ESDM (Ignasius Jonan), dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman (Luhut Binsar Pandjaitan)," kata sumber Katadata, Selasa (14/3).

Belakangan, dua nama calon yang menguat yaitu Elia dan Dirut PT Krakatau Steel Tbk, Sukandar. Akhirnya, Presiden menjatuhkan pilihan kepada Elia. "Ini kompromi dari berbagai kubu kepentingan," kata sumber tersebut.

Artikel Terkait
Pertamina berencana meluncurkan produk tersebut Maret 2018
Pertamina membentuk satuan tugas (satgas) untuk pengamanan pasokan bahan bakar yang bertugas sejak 18 Desember 2017 hingga 8 Januari 2018.
Alasan penggabungan dua blok ini karena lokasinya berdekatan.