“Pada saat inflasi sendiri ke depan terganggu artinya kalau core inflation (inflasi inti) tertekan, misalnya, di atas target kami, tentu harus ada stance (kebijakan) yang berubah.”
Listrik
Warga memeriksa meteran listrik prabayar di Rumah Susun Benhil, Jakarta, Kamis (19/1/2017) ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma

Peluang kenaikan bunga acuan, BI 7-Day Repo Rate, makin terbuka ke depan. Para ekonom menduga bunga acuan bakal naik mulai semester II mendatang. Perkiraan ini seiring dengan risiko melemahnya rupiah bila tekanan global menguat dan kenaikan inflasi.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo menjelaskan kebijakan suku bunga biasanya memang untuk menangani persoalan inflasi ataupun nilai tukar rupiah yang tidak sesuai dengan fundamentalnya. Meski begitu, BI juga bisa menggunakan kebijakan makroprudensial untuk menangani persoalan inflasi maupun nilai tukar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurutnya, saat ini BI terus memantau pergerakan inflasi, terutama yang berasal dari kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices). BI juga terus mengantisipasi adanya risiko global. Maka itu, kebijakan moneter yang diterapkan bersifat hati-hati dan menyesuaikan pada kondisi (cautious acomodatif). (Baca juga: Pasar Respons Positif Fed Rate, BI Berani Tahan Bunga Acuan)

“Pada saat inflasi sendiri ke depan terganggu artinya kalau core inflation (inflasi inti) tertekan, misalnya, di atas target kami, tentu harus ada stance (kebijakan) yang berubah. Kami punya bauran kebijakan baik suku bunga, nilai tukar, makroprudensial untuk address (menangani) inflasi,” ujar Doddy di kantornya, Jakarta, Kamis (16/4).

Guna menekan inflasi, Dody mengatakan, BI juga fokus melakukan komunikasi ke pasar. Menurut dia, pasar harus memahami bahwa kenaikan administered prices, misalnya tarif listrik, mengacu pada kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi bagi masyarakat yang mampu secara ekonomi. Dengan begitu, diharapkan kebijakan tersebut tidak memicu kenaikan harga-harga lainnya.

(Baca juga: Kenaikan Upah Buruh Februari 2017 Tergerus Inflasi)

Message (pesan) itu diperlukan untuk membentuk ekspektasi pasar, kalau inflasi itu tidak naik. Karena ini bagian reformasi pemerintah, komunikasi jadi bagian instrumen BI. Tanpa harus menaikan suku bunga, komunikasi kami deliver (sampaikan) ke pasar itu sudah cukup, jadi enggak perlu mengubah suku bunga,” ujar dia.

Artikel Terkait
Bank Indonesia (BI) optimistis inflasi tahun ini bakal berada di bawah 4% atau dalam rentang target yang sebesar 3-5%.
"Pengaruh nilai tukar karena eksternal cukup besar maka kami harus waspadai. Itu jadi dasar stance kami kebijakan bunga tidak berubah."
Ada risiko arus keluar modal asing (capital outflow) seiring banyaknya ketidakpastian global.